Pameran kisah, kehidupan, dan artefak korban pembantaian di Srebrenica 30 tahun lalu.
13 Jul 2025 08:19 WIB · Internasional
Sebuah kacamata yang dipamerkan itu terlihat biasa. Warnanya coklat cenderung kusam, kedua tangkainya pun sudah lepas. Bahkan, salah satu kacanya juga hilang. Melihatnya sekilas, kita membayangkan bahwa itu adalah kacamata baca yang biasa dikenakan orang tua.
Di meja lain, berbagai kartu pengenal dari pemilik yang berbeda juga dipamerkan. Berdampingan dengan barang-barang pribadi seperti jam saku, cincin, dan beberapa pakaian yang masih terlihat utuh.
Barang-barang tersebut merupakan barang pribadi milik korban pembantaian di Srebrenica, Bosnia, tahun 1995 yang dipamerkan pada 10 Juli 2025, sehari sebelum peringatan 30 tahun genosida pasca-Perang Dunia II yang diakui satu-satunya di Eropa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/13/9f402402-e242-4caf-b284-dc90c7d1b405_jpg.jpg)
Lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia dieksekusi hanya dalam beberapa hari tiga dekade lalu setelah pejuang Serbia dan Bosnia menyerbu kota kecil di Bosnia timur. Peristiwa itu terjadi di bulan-bulan terakhir perang antaretnis di negara Balkan tersebut.
Mayat-mayat korban pembantaian dibuang di kuburan massal di sekitar Srebrenica. Sebagian kemudian dikubur ulang beberapa kali untuk menyembunyikan bukti kejahatan. Banyak benda yang dipamerkan di pusat peringatan Srebrenica tersebut ditemukan di kuburan massal atau di hutan sekitar kota.
”Ini adalah pameran unik karena menyoroti kisah-kisah individual, kehidupan individual, dan hal itu dilakukan dengan memamerkan artefak milik para korban,” ujar Duta Besar Belanda Henk van den Dool kepada wartawan Associated Press.
Pameran tersebut, tambahnya, menunjukkan bahwa genosida bukan tentang fakta, angka, dan statistik, melainkan genosida yang menyangkut individu, kehidupan individu, kaum muda, orang tua, laki-laki, perempuan, orang-orang yang punya mimpi dan orang-orang yang punya ambisi.
Pameran ini juga berisi rekaman kesaksian para penyintas pembantaian Srebrenica yang menjadi bagian dari proyek gabungan jaringan investigasi regional. Kesaksian-kesaksian tersebut merupakan monumen kecil bagi kehidupan, kata Van den Dool, yang mengajarkan generasi mendatang tentang apa yang terjadi di Srebrenica.
Pada peringatan itu juga akan kembali dikuburkan jenazah tujuh orang lainnya yang diidentifikasi sebagai korban peristiwa di tahun 1995.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/13/43778ab7-45de-41a3-962e-d44c558d42a6_jpg.jpg)
Sebanyak 7.000 warga juga memperingati 30 tahun genosida di Srebrenica dengan menelusuri kembali hutan-hutan di Bosnia timur. Beriringan, mereka mengenang kembali perjalanan orang-orang yang mereka kasihi 30 tahun lalu.
Pawai tahunan sepanjang 100 kilometer ini menelusuri kembali rute yang dijalani oleh para pria dan anak laki-laki Bosnia yang dibantai saat mereka mencoba melarikan diri dari Srebrenica. Pasukan Serbia yang berhasil merebut Srebrenica melakukan pembantaian di tahun 1995.
”Saya di sini hari ini untuk mendukung putra saya, Sultan, saat ia memulai perjalanannya,” kata Amir Kulagic, salah satu dari mereka yang menempuh rute tersebut pada tahun 1995. Ia bersama keponakannya mencoba mengenang perjalanan anaknya saat menelusuri rute tersebut selama tujuh hari delapan malam.
Konflik di Bosnia menyebabkan lebih dari 100.000 orang tewas dan jutaan orang mengungsi. Baik warga Serbia di Bosnia maupun negara tetangganya, Serbia, masih menolak mengakui bahwa pembantaian di Srebrenica adalah genosida meskipun ada putusan dari dua pengadilan PBB. Puluhan pejabat politik dan militer Serbia dan Bosnia telah dihukum karena genosida.
”Kehidupan di ladang kematian” menjadi pengingat dunia akan peristiwa kelam yang terjadi 30 tahun lalu.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan