Meski IWF baru menerapkan per Juni 2025, PB PABSI memutuskan menerapkan kelas anyar lebih dulu agar penyesuaian di daerah lebih cepat. Lifter pun lebih siap.
15 Mei 2025 14:10 WIB · Olahraga
SLEMAN, KOMPAS — Meskipun baru akan diterapkan di dunia per Juni 2025, Indonesia lebih dulu menerapkan kategori berat badan anyar pada Kejuaraan Nasional Angkat Besi 2025. Langkah ini menjadi momentum para lifter menjajal kelas baru tersebut agar penyesuaian dalam pembinaan lebih cepat. Dengan demikian, mereka akan lebih siap ketika berkesempatan tampil di ajang internasional.
Kejuaraan Nasional Angkat Besi 2025 level senior diselenggarakan di GOR Universitas Negeri Yogyakarta, Sleman, 15-17 Mei. Hal ini menjadi ajang pertama di Indonesia yang menggunakan kategori berat badan baru.
”Kami melihat kapan lagi kita pengenalan dan penyesuaian kategori berat badan baru ini. Kita mesti lebih dulu menerapkannya agar para atlet siap dan pembinaan di daerah bisa menyesuaikan. Toh, sebulan lagi sudah pakai (kelas) yang baru,” ujar Ketua Panitia Kejurnas Angkat Besi 2025 Hadi Wihardja selepas acara pembukaan, Kamis (15/5/2025).
Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) telah menyetui usulan perubahan kategori berat badan ini pada Desember 2024. IWF memutuskan kelas baru ini akan diterapkan di kompetisi per Juni 2025.
Pada level senior dan yunior putra, kategori berat badan yang baru itu terdiri atas delapan kelas, meliputi 60 kilogram, 65 kg, 71 kg, 79 kg, 88 kg, 98 kg, 110 kg, dan +110 kg. Jumlah ini lebih sedikit dari kategori sebelumnya yang terdiri atas 10 kelas. Kelas lama mencakup 55 kg, 61 kg, 67 kg, 73 kg, 81 kg, 89 kg, 96 kg, 102 kg, 109, dan +109 kg.
Sementara pada sektor putri, kategori baru dimulai dari 48kg, 53kg, 58kg, 63kg, 69kg, 77kg, 86kg, dan +86 kg. Sebelumnya, 10 kelas untuk lifter putri terdiri dari 46 kg, 49 kg, 55 kg, 59 kg, 64kg, 71 kg, 76 kg, 81 kg, 87 kg, dan +87 kg.
Pembinaan harus menyesuaikan secara starategis agar tidak kehilangan momentum yang berdampak dalam raihan prestasi.
Pada kategori remaja putra, kelas meliputi 56 kg, 60 kg, 65 kg, 71 kg, 79 kg, 88 kg, 98 kg, dan +98 kg. Sementara remaja putri terdiri 44 kg, 48 kg, 53 kg, 58 kg, 63 kg, 69 kg, 77 kg, dan +77 kg.
”Di Kejuaraan Asia kemarin, misalnya, banyak negara yang tidak mengirim atletnya, termasuk Korea Utara yang biasanya mendominasi podium. Saat saya tanya alasannya, ternyata sedang mempersiapkan perubahan kelas sehingga memilih tidak berangkat,” kata Hadi yang juga Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI).
”Selain persiapan bagi atlet yang di pelatnas, ini jadi persiapan untuk atlet di daerah. Jika ternyata ada lifter yang angkatannya mendekati atau bahkan bisa melampaui penghuni pelatnas, ini akan jadi catatan buat kami. Jelas dia lebih siap untuk tampil di kelas baru,” lanjutnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/4d723048-4d42-417a-8f86-777b111cf7be_jpg.jpg)
Kejurnas Angkat Besi 2025 diikuti 84 atlet dari 24 daerah. Atlet yang menghuni pelatnas tidak ikut serta untuk memberikan kesempatan pada lifter daerah untuk unjuk gigi dan membuktikan kemampuannya. Hal itu termasuk memberikan kesempatan beberapa nama yang pernah menghuni pelatnas, seperti atlet Jawa Tengah, Siti Nafisatul (53 kg), serta lifter putra Papua, Ricko Saputra (60 kg).
Sekretaris Jenderal PB PABSI Djoko Pramono, yang mewakili Ketua Umum PB PABSI Rosan P Roeslani, mengatakan, penerapan kategori baru di Kejurnas adalah bagian dari upaya sosialisasi. Selanjutnya, PB PABSI akan melanjutkan sosialisasi secara masif. Djoko berharap para pelatih dan ofisial dapat mencermati dampak perubahan kelas tersebut.
”Tentunya, pembinaan harus menyesuaikan secara starategis agar tidak kehilangan momentum yang berdampak dalam raihan prestasi,” kata Djoko.
Djoko juga menambahkan, PB PABSI konsisten menggelar Kejurnas, yang didukung Pupuk Indonesia sebanyak dua kali dalam setahun demi mempersiapkan lifter masa depan. Dengan demikian, kata Djoko, stok lifter Indonesia akan terus melimpah untuk menjaga prestasi di kancah internasional.
Lifter peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Rizki Juniansyah, mengharapkan kemunculan atlet-atlet potensial dari Kejurnas yang kelak akan mengikuti jejaknya berprestasi di level dunia. Kejurnas, baik level remaja dan yunior maupun senior, adalah langkah awal yang biasanya ditempuh untuk lifter menunjukkan kemampuannya dan bisa dilirik pelatnas.
Rizki memulainya dengan Kejurnas Remaja pada 2015. Lifter asal Serang, Banten, ini belum meraih medali. Dia hanya menargetkan perkembangan dalam angkatan. Baru dua tahun kemudian, di level yunior, Rizki bisa meraih medali perunggu.
Pada 2019, Rizki kemudian menjalani debut di Kejuaraan Asia Remaja di Pyongyang, Korea Utara, dan meraih tiga medali perak 67 kg. Setahun berselang, dia berlaga di Kejuaraan Asia Remaja 2020 di Uzbekistan dan merebut tiga medali emas dan memecahkan dua rekor dunia.
”Kejurnas seperti ini sebenarnya untuk mengasah diri, terutama mental ya, karena level nasional dan atmosfernya pasti berbeda ketika main di kota atau provinsi. Ini jenjangnya untuk nanti ke level internasional,” ucap Rizki.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari