Kekalahan Bukan Akhir Segalanya bagi Pesepak Bola Putri Belia

Pada turnamen sepak bola putri usia belia, seperti MilkLife Soccer Challenge All-Stars, kekalahan bukan akhir. Ini justru awal dari segalanya.

25 Jan 2025 13:54 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

KUDUS, KOMPAS — Pada turnamen sepak bola putri belia seperti MilkLife Soccer Challenge All-Stars, kekalahan bukanlah akhir, justru awal dari segalanya. Cara pesepak bola putri belia merespons hasil buruk dan bangkit dari situasi sulit, termasuk kekalahan, lebih penting ketimbang hasil pertandingan.

Pemain tim All-Stars Surakarta, Ika Wonda (10), mengangkat tangannya ke arah penonton sembari tersenyum selepas wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga kontra Tangerang, Sabtu (25/1/2025). Ika lantas berpelukan dengan rekan setimnya yang juga semringah berkat kemenangan 4-0 di Stadion Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, ini.

Kemenangan pada laga ketiga sekaligus terakhir pada fase grup MilkLife Soccer Challenge All-Stars ini memang sukses mengantar Surakarta memastikan satu tempat di semifinal. Namun, laga itu bukan sekadar tentang kemenangan menentukan Surakarta, tetapi juga soal kebangkitan moral mereka.

Pada hari sebelumnya, para pemain Surakarta meluapkan emosi berbeda di lapangan selepas kalah dari Bandung, 0-2. Ika Wonda menggeleng-geleng kepala, lalu memberi gesture minta maaf ke arah penonton dengan menangkupkan kedua tangan. Pemain Surakarta lainnya juga tak bisa menyembunyikan kesedihan, beberapa di antaranya bahkan menangis sesenggukan.

Selebrasi para pemain MilkLife All-Star Solo setelah mencetak gol ke gawang tim MilkLife All-Star Tangerang pada babak grup MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025). Solo menang 4-0. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 25-01-2025

Kesedihan itu wajar. Kekalahan dari Bandung membuat Ika Wonda dan kawan-kawan menelan dua kekalahan beruntun. Mereka sebelumnya kalah 0-1 dari Kudus. Alhasil, peluang melaju ke semifinal menipis. Mereka harus menang dengan keunggulan empat gol.

Dan pada laga terakhir, anak-anak asuhan pelatih Maya Susmita sukses mengkonversi peluang tipis tersebut. Alih-alih terpuruk karena kekalahan pada dua laga awal, mereka justru bermain solid dan berani mendominasi permainan sejak sepak mula.

Bonusnya adalah kemenangan perdana dan menentukan. “Senang sekali bisa menang, apalagi banyak yang mendukung,” tutur Ika Wonda yang akhirnya mencetak gol perdana.

Rekan setim Ika, Najwa Ayu Ramadhani (11), juga menyampaikan kebahagiaannya. Kata Ayu, dia juga bangga karena bisa mengantar tim lolos ke semifinal. Najwa menyumbang dua gol untuk kemenangan timnya.

“Saya juga senang karena ada teman yang cedera tetap datang dan mendukung langsung, terima kasih sudah mendukung,” ujar Ayu.

Pemain MilkLife All-Star Solo, Ika Wonda (kiri), berebut bola dengan pemain MilkLife All-Star Tangerang, Shilen Nailenka Khanza, pada babak grup MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025). Solo menang 4-0. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 25-01-2025

Ujian Surakarta memang tak hanya kalah dua laga beruntun, tetapi juga kehilangan pemain andalan karena cedera. Delisha Cahaya Istighfara, pemain dari Sekolah Sepak Bola yang dipilih tim pencari bakat untuk meningkatkan akselerasi pemain lain, cedera pada laga kedua babak pertama.

Pelatih Maya Susmita mengatakan, ada banyak faktor yang mendorong kebangkitan moral anak-anak asuhnya. Pertama, Maya dan tim kepelatihan selalu mengajak para pemain untuk mencurahkan semua perasaan, termasuk keluh kesah selama turnamen.

Setelah mendengarkan para pemain, Maya kemudian memberikan motivasi pada anak-anak asuhnya. “Tidak muluk-muluk sebenarnya, saya hanya meminta mereka untuk tidak mudah menyerah, mengajak mereka mengingat lagi pengorbanan apa yang sudah dilakukan sehingga mereka tidak berhenti begitu saja,” ucap Maya.

“Lalu, saya hanya meminta mereka menjadi diri sendiri. Saya tidak meminta mereka menjadi Messi atau Ronaldo,  jadilah Ika Wonda, jadilah Ayu, karena diri sendiri mereka ini hebat, itu yang membuat mereka terpilih sebagai pemain terbaik mewakili Solo,” ucap Maya.

Pelatih MilkLife Soccer Challenge All-Star Solo, Maya Susmita, saat menemani timnya pada pertandingan MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (24/1/2025). 

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
24-01-2025

Kata Maya, para pemain kemudian lebih berfokus pada laga terakhir ketimbang dua laga sebelumnya. Mereka pun menghadapi laga terakhir dengan semangat yang lebih menyala-nyala karena ingin memanfaatkan kesempatan.

Maya menambahkan, faktor penting lainnya ialah dukungan orangtua yang tak terputus. Kehadiran orangtua yang menyaksikan langsung turut membangkitkan semangat para pemain.

Salah satu orangtua yang datang ke Kudus untuk mendukung langsung adalah Ageng, orangtua asuh Ika Wonda. Ageng mengatakan, dia dan orangtua lainnya langsung menghibur anak-anak ketika menelan kekalahan, terutama kekalahan kedua.

“Ibaratnya mereka jatuh, perlu ada yang menangkap. Kami menangkap mereka, minimal kami temani dan peluk, itu hal minimal yang dibutuhkan anak-anak. Selebihnya, biar mereka yang memproses kesedihan itu dan bangkit lagi,” ucap Ageng.

Selebrasi para pemain MilkLife All-Star Solo sesaat setelah wasit meniup peluit berakhirnya pertandingan melawan MilkLife All-Star Tangerang pada babak grup MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (25/1/2025). Solo menang 4-0. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 25-01-2025

Khusus Ika Wonda, kata Ageng, semangatnya tumbuh lagi setelah kehadiran kakak-kakaknya yang baru datang pada laga terakhir. Itu membuat Ika, yang pada dua laga sebelumnya masih kesulitan keluar dari tekanan dan mencetak gol, akhirnya bisa bermain lepas dan membobol gawang lawan.

Peran pelatih dan orangtua memang sangat krusial saat para pemain tengah memproses kesedihan karena kekalahan. Apalagi, kekalahan bukan sesuatu yang mudah untuk para pemain belia.

Pelatih Bandung, Fauzi Bramantio, mengamini bahwa tak mudah memberi pemahaman tersebut. Namun, Fauzi selalu mengingatkan kepada anak-anaknya bahwa kekalahan selalu memberi pelajaran. Terpenting, para pemain mau bermain dengan maksimal dan bangkit dari kekalahan tersebut.

“Saya selalu bilang bahwa saya bangga dengan anak-anak, mereka telah berjuang. Inilah langkah awal mereka untuk menghadapi tantangan dan fase selanjutnya, jadi tidak perlu bersedih berlarut-larut,” tutur Fauzi selepas kekalahan Bandung dari Kudus dengan skor 0-1.

Pertandingan antara tim Yogyakarta melawan Surabaya dalam MilkLife Soccer Challange All-Star di SuperSoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (24/1/2025). Yogyakarta menang 3-2.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
24-01-2025

Kepala Pelatih MilkLife Soccer Challenge Timo Scheunemann pernah mengatakan, pertandingan sepak bola adalah cerminan kehidupan. Itu bukan hanya perkara menang atau kalah, tetapi juga soal menghadapi hidup yang tidak akan melulu mudah.

Kalaupun nantinya para pemain ini tidak menjadi pesepak bola pada masa mendatang, bekal dari sepak bola akan tetap berguna bagi mereka. Cara mereka menghadapi kekalahan, bangkit dari kesulitan, adalah bekal yang penting tersebut.

“Terjun di bidang apapun nantinya, kita butuh mental yang kuat. Sebab, hidup itu tidak mudah,” kata Timo yang kemudian mengutip filsuf eksistensialisme asal Denmark, Soren Kierkegaard, yakni:

“Dengarkanlah tangisan seorang perempuan yang hendak melahirkan —lihatlah perjuangan seorang pria yang sedang sekarat di saat-saat terakhirnya, lalu katakan padaku apakah sesuatu yang dimulai dan diakhiri dengan cara demikian dapat dimaksudkan untuk dinikmati.”


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .