Poster menjadi media propaganda yang sudah lama digunakan, termasuk pada masa kemerdekaan. Poster memiliki kekuatan sebagai penyampai pesan secara ringkas.
23 Mar 2025 04:01 WIB · Hiburan
S
elama sekitar 30 menit peserta Aksi Kamisan ke-856 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (20/3/2025), berdiam diri sambil membawa payung hitam. Pada barisan depan, beberapa aktivis membawa poster yang sebagian besar tentang penolakan revisi Undang-Undang TNI.
Tangan mereka menggenggam erat poster, salah satunya berwarna biru dan putih bertuliskan ”Tiada Negara Tanpa Rakyat. Dengarkan Suara Kami!!”. Poster itu menggunakan gambar orang membawa payung yang terlihat dari sisi belakang dan terdapat mobil di hadapannya.
Meskipun pemegang poster hanya diam dengan tatapan kosong, sedih, bercampur amarah, poster itu bicara lebih lantang tentang yang tengah mereka perjuangkan. Setelah melakukan aksi diam, para aktivis melanjutkan orasi penolakan revisi UU TNI.
Aksi Kamisan di depan Istana Merdeka menjadi salah satu aksi memprotes DPR yang tetap memberikan persetujuan pengesahan revisi UU TNI menjadi UU dalam Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta. Di tempat lain juga terdapat aksi serupa. Peserta juga membawa poster.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/90a12ee1-808f-4291-9736-97d3c3d0eb5b_jpg.jpg)
Poster penolakan revisi UU TNI juga banyak beredar di media sosial. Tanpa diminta, warganet mengunggah dan membagikan poster itu dengan sukarela.
Sebelumnya, banyak beredar poster dukungan kepada band punk asal Purbalingga, Jawa Tengah, Sukatani, yang direpresi karena lagu ”Bayar Bayar Bayar”.
Saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (22/3/2025), gitaris Sukatani, Al alias Alectroguy, menegaskan, Sukatani terbantu dan semangat mereka terus terjaga karena dukungan publik melalui poster-poster yang dibuat. Poster itu telah memberikan dorongan moral kepada Al dan vokalis Sukatani, Ovi alias Twister Angel, serta tim Sukatani.
DPR & Pemerintah Bahas RUU TNI di Hotel Mewah & di Akhir Pekan. Halo, Efisiensi?
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pun kerap menggunakan poster dalam menyuarakan aksi mereka. Aktivis Kontras, salah satunya Andrie Yunus, turut membawa poster saat menerabas ruang rapat yang digunakan untuk pembahasan revisi UU TNI oleh panitia kerja pemerintah dan Komisi I DPR di Hotel Fairmont, Jakarta, Sabtu (15/3/2025).
Salah satu poster yang dibawa Andrie bertuliskan ”DPR & Pemerintah Bahas RUU TNI di Hotel Mewah & di Akhir Pekan. Halo, Efisiensi?”. Di bawah tulisan itu dibubuhi teks tanda pagar tolak RUU TNI.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/15/f0f6dcef08da265358c7a11445bdb267-IMG_20250315_201624_579.jpg)
Kepala Divisi Kampanye, Jaringan, dan Dukungan Publik Kontras Ahmad Sajali saat ditemui menuturkan, poster yang digunakan saat aksi di Hotel Fairmont dibuat dalam waktu singkat karena kemajuan teknologi yang memudahkan kerja mereka. Hanya butuh beberapa jam saja untuk membuat poster itu. Selain teks, mereka juga membubuhkan foto yang mendukung poster itu.
Kontras juga membuka seluas-luasnya partisipasi publik seperti mengumpulkan poster di Google Drive dan bisa diakses secara bebas. Poster-poster itu bisa menjadi penghubung ke ruang publik yang lebih luas.
Menurut Sajali, seni visual, baik grafis maupun video, menjadi salah satu ruang, bahkan senjata untuk menampilkan aspirasi mereka. Sebab, apa saja yang menarik mata dan perhatian bisa memengaruhi pikiran hingga nurani orang-orang yang terpapar.
Karena Kontras tidak punya basis massa yang besar, kecuali mungkin pengikut di media sosial dan teman-teman jaringan masyarakat sipil, sehingga kita menggunakan ruang-ruang yang ada, termasuk dengan poster, video.
”Karena Kontras tidak punya basis massa yang besar, kecuali mungkin pengikut di media sosial dan teman-teman jaringan masyarakat sipil, sehingga kita menggunakan ruang-ruang yang ada, termasuk dengan poster, video,” jelas Sajali.
Kontras juga berkolaborasi dengan produk budaya populer lain seperti musik dan film untuk menjadi pintu masuk agar orang memahami isu serta suara yang sedang diperjuangkan. Poster juga menjadi media bagi Kontras menularkan keberaniannya kepada publik agar kritis di negara demokrasi yang menjamin kebebasan berekspresi dan berkumpul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/79589dee-0611-40b8-9ee5-f378796f7914_jpg.jpg)
Indonesia Corruption Watch (ICW) pun melakukan hal serupa. Dalam isu penolakan revisi UU TNI, ICW membagikan poster terkait kasus korupsi yang ada di tubuh militer.
Mereka percaya, poster mempunyai kekuatan untuk menyampaikan pesan dengan lebih cepat kepada target. Selain itu, cukup sederhana dalam memproduksinya.
ICW membuat poster itu di dapur sendiri. Mereka memiliki divisi komunikasi yang salah satu tugasnya membuat produk visual. Biasanya mereka menentukan terlebih dahulu narasi utama yang akan disampaikan dalam aksi, baik luring maupun daring. Itu menjadi panduan mereka untuk menentukan kalimat apa yang muncul di poster.
”Kami tidak mungkin menjelaskan secara panjang lebar mengenai apa yang kami perjuangkan. Yang terpenting pesan utama kami dapat tersampaikan kepada pihak yang kami tuntut, kepada warga, dan kawan-kawan jurnalis,” jelas Kepala Divisi Komunikasi ICW Sigit Wijaya.
Menurut dia, poster sangat efektif karena mudah dan cepat dibaca, hanya beberapa detik saja. Karena itu, mereka memilih beberapa narasi atau pesan utama agar semua orang dapat memahami atau merekam dengan cepat di memori mereka mengenai apa yang ICW perjuangkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/28/07200517-0cb4-49e2-88e1-8eac4f889f4f_jpg.jpg)
Dalam membuat poster, ICW melakukannya sesuai nilai dan mekanisme kerja yang dipegang, yakni apa yang disampaikan berdasarkan data dan analisis. Jadi, pesan yang ada di poster merupakan tuntutan atau rekomendasi yang lahir dari bukti-bukti yang dipegang.
”Biasanya kami kemas dengan kata-kata yang lebih populer dan menarik supaya publik tertarik dan tergelitik. Beberapa kami ambil juga dari meme yang dibuat publik dan beredar di medsos untuk menyindir kebijakan pemerintah,” tutur Sigit.
Dari poster yang dibuat, ICW berharap pesannya bisa menggelitik ingatan dan perasaan orang yang melihatnya. Selanjutnya, menggerakkan mereka seperti bertanya mengapa ada aksi menuntut keadilan, apa yang terjadi, kemudian mulai tertarik mencari tahu.
Jika pesannya kuat dan terkait dengan permasalahan yang dialami, ICW berharap orang yang terpapar poster ikut terlibat. Mereka biasanya akan membantu menyebarkan atau menduplikasi untuk gerakan lainnya atau lanjutan.
Poster menjadi media propaganda sudah lama digunakan, termasuk pada masa kemerdekaan. Dikutip dari buku Propaganda Pemimpin Politik Indonesia karya Arief Adityawan S terbitan Pustaka LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) Indonesia, banyak seniman Indonesia ikut ambil bagian saat dan setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Salah satu poster terkenal pada masa itu adalah poster cat minyak berukuran 80 cm x 100 cm berwarna merah dan hitam dengan latar belakang putih yang berjudul ”Boeng, Ajo Boeng”. Poster itu menggambarkan seorang pemuda yang berteriak lantang. Dia membawa bendera Merah Putih dan mengangkat tangan dengan rantai belenggu yang terputus.
Poster ini dibuat oleh Affandi (penggambar), Soedjojono (penggagas), Chairil Anwar (penulis teks), dan Dullah (model). Poster propaganda ini ditiru dan diperbanyak oleh pelukis-pelukis muda untuk disebar ke sejumlah daerah dan diperbanyak oleh seniman setempat. ”Boeng, Ajo Boeng” menjadi poster resmi pertama yang dibuat berdasarkan prakarsa, oleh, dan untuk kepentingan bangsa Indonesia.
Saat dihubungi dari Jakarta, dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Widyatmoko atau yang dikenal dengan sapaan Koskow, menjelaskan, poster merupakan media yang identik dengan luar ruang dan memiliki sejarah panjang. Poster digunakan untuk berkomunikasi, baik persuasi (iklan dan propaganda), informasi (layanan), identitas (event), dan lain sebagainya.
Poster identik dengan cara ditempel. Karena memiliki kekuatan sebagai penyampai pesan secara ringkas, poster sering disematkan pula pada komunikasi visual serupa di media sosial. Keringkasan dan keterusterangan maksud komunikasi tersebut membuat poster masih digunakan. Di media sosial, keringkasan poster bertemu dengan kecepatan pesan yang diunggah dan dibagikan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/5ceec9ead52ce30010aa49500d028c98-20250322_PDS07.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/19/fd02165f-1029-4d67-8808-fd953fc51af6_jpg.jpg)
Dalam suasana perpolitikan Tanah Air belakangan ini, poster masih digunakan untuk berbagai kebutuhan dalam menyampaikan pesan. Tendensi propaganda cukup terasa. Cara kerja propaganda yakni memilah orang-orang ke dalam dua pihak. Hanya ada dua kelompok, yakni pihak yang mendukung atau lawan.
Masyarakat yang prodemokrasi memproduksi poster yang mengkritik, bahkan dengan sangat keras terhadap pemerintah atau berhadapan dengan pendengung. Perang media tersebut diperlukan agar suasana batin, kritik, dan pendapat menjadi terlihat.
Bentuk ritualnya yakni ’like’, ’comment’ yang mendukung, ’share’, bahkan diunduh.
Propaganda memperkuat polarisasi dan membangun kebenaran versi setiap pihak yang berseteru. Maraknya poster bernuansa kritik politik bisa memperkuat komunikasi ritual dan mempererat pihak-pihak yang berada dalam satu kelompok atau barisan, termasuk penonton poster.
”Bentuk ritualnya yakni like, comment yang mendukung, share, bahkan diunduh,” jelas Koskow.
Di sisi lain, jika hal ini terus berlangsung, bisa berdampak mempertajam konflik kedua belah pihak. Ia mengingatkan, kelompok prodemokrasi akan terus menanggapi karena berlangsung kesadaran untuk menolak lupa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/28/b4a7789d-9dba-40f2-832e-5a600d9a6176_jpg.jpg)
Efektivitas poster bisa ditujukan pada sisi estetika. Pilihan simbol atau tanda merupakan satu dari sekian unsur estetika, di samping diksi. Estetika poster tidak selalu berupa desain yang indah. Keindahan poster salah satunya terletak pada cara kebenaran disimbolkan.
”Unsur lain yang juga penting yakni kejujuran dan keberanian. Poster politik bisa tentang itu, bagaimana kebenaran disuarakan melalui simbol yang cepat dan mudah dipahami serta memperkuat perjuangan rakyat,” kata Koskow.
Secara terpisah, Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Bambang Tri Rahadian atau dikenal dengan Beng Rahadian mengatakan, penggunaan poster di media sosial lebih efektif dalam kampanye sosial politik karena mudah penyebarannya mengikuti algoritma.
Orang yang setuju merasa terwakili suaranya dan mudah membagikan tanpa upaya, bahkan dengan senang hati. ”Mereka merasa menjadi ’patriot’ dengan repost poster-poster itu,” kata Beng.
Poster yang menarik perhatian dan kalimat yang vulgar atau langsung pada intinya bisa tepat sasaran hingga memengaruhi penonton yang terpapar. Misalnya, menggunakan kalimat yang menunjukkan akibat dari sebuah kebijakan seperti kerugian yang dihasilkan. Menarik perhatian bisa menggunakan obyek yang kontroversi, warna yang kontras, dan huruf judul yang besar. Dengan begitu, poster berteriak lebih lantang daripada suara nyata, apalagi suara yang dibungkam.
Penulis:
Prayogi Dwi SulistyoEditor:
Moh. Hilmi Faiq