Prinsip berbeda kutub Nuno Espirito Santo di Forest dan Josep Guardiola di City akan bersinggungan pekan ini. Duel itu berhadiah peringkat ketiga klasemen.
07 Mar 2025 20:00 WIB · Olahraga
NOTTINGHAM, JUMAT — Nottingham Forest dan Manchester City membuktikan, dua tim bisa sama-sama sukses dengan pendekatan yang berbanding terbalik. Prinsip mereka dalam menyerang dan bertahan saling bertentangan. Perbedaan itu membuat duel kedua tim akan sangat menarik.
Forest akan menjamu City di Stadion City Ground, Nottingham, pada Sabtu (8/3/2025) pukul 19.30 WIB. Tim tuan rumah yang berada di peringkat ketiga Liga Inggris (48 poin) hanya unggul satu poin atas City. Jarak mereka di klasemen sangat tipis walaupun berbeda sangat jauh dari gaya main.
Bagi Pelatih Kepala Forest Nuno Espirito Santo, tidak penting berlama-lama dengan bola. Mereka hanya perlu menyerang secepat mungkin untuk mencetak gol. Itu jauh berbeda dibandingkan dengan prinsip modern milik Manajer City Josep Guardiola yang terobsesi dengan penguasaan bola.
Forest tercatat sebagai tim dengan rerata penguasaan bola terendah di liga (39,7 persen), sementara City tertinggi (60,6 persen). Meskipun begitu, gaya ala Santo yang tampak kuno itu tidak tecermin dari hasil. Gaya tersebut yang sukses memberikan satu-satunya kekalahan Liverpool pada musim ini.
Santo berkata, prinsipnya tetap sama menghadapi City. Padahal, jika tergesa-gesa, Forest bisa membuat City semakin dominan dalam penguasaan bola. ”Tidak ada yang berubah. Kami sadar harus menghadapi tim bagus dengan pelatih yang punya pengaruh besar, tetapi pendekatan kami selalu sama,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/15/ea1f280c76336b65133d1a3695759b51-wires_photo_44_.jpg)
Perbedaan kutub Forest dan City semakin jelas dalam grafis The Analyst yang menampilkan data kecepatan dan jumlah umpan saat menyerang. Forest berada di sudut paling kiri atas yang mengindikasikan cepat dan langsung, sementara City di sudut kanan bawah yang berarti lambat dan rumit.
Forest sangat memanfaatkan serangan balik dengan rerata laju 2,08 meter per satu detik atau tercepat di liga. City, tim paling lambat dengan laju sekitar 1,4 meter per detik, lebih sabar. Forest juga hanya mencatat 2,8 kali umpan dalam satu rangkaian serangan, saat City nyaris dua kali lipat lebih banyak.
Gaya bertahan ala Santo dan Guardiola juga berseberangan. Sebagai tim spesialis transisi, Forest bertahan lebih dalam. Mereka ingin memancing lawan untuk meninggalkan pertahanan. Terbukti, tidak ada tim yang lebih banyak bertahan di sepertiga lapangan sendiri ketimbang Forest (34 persen).
Skema ”parkir bis” Forest terbukti efektif. Mereka baru kemasukan 33 kali hingga 27 pekan berlalu. Jumlah itu merupakan paling sedikit keempat di liga, hanya kalah dari Arsenal, Liverpool, dan Bournemouth. Adapun City sudah kemasukan 37 kali.
City, sebaliknya, selalu berinisiatif merebut bola sejak bola masih dikontrol penjaga gawang lawan. Mereka menekan di sepertiga akhir sebanyak 38,3 persen atau yang tertinggi di liga. Harapannya, bola bisa direbut secepat mungkin dan penguasan kembali ke kaki Erling Haaland dan rekan-rekan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/69935b6d-6111-41da-a06c-d2c0edf257f0_jpg.jpg)
Masalahnya, City yang berstatus juara bertahan tidak bisa memaksimalkan gaya serupa pada musim ini. Mereka kehilangan gelandang bertahan Rodri yang ahli memutus transisi lawan. Alhasil pertahanan tim asuhan Guardiola begitu rentan saat menghadapi transisi.
Pertanyaan pun tertuju kepada Guardiola di Stadion City Ground. Bagaimana mereka dengan pendekatan yang sama bisa menghentikan transisi tim tuan rumah? Forest memiliki penyerang sayap yang sangat cepat, seperti Callum Hudson-Odoi dan Anthony Elanga.
Guardiola selalu dikenal sebagai sosok ”keras kepala”. Dia kembali menunjukkan itu. Saat ditanya tentang kemungkinan perubahan gaya main dengan situasi yang ada, dia menepis kans tersebut. ”Kami tidak akan mencoba untuk beradaptasi,” ucapnya.
”Ketika kami punya skuad (terbaik), kami bisa memainkan cara ini. Selama saya masih manajer, kami akan tetap bermain dengan cara sama yang membuat tim ini sukses selama bertahun-tahun. Menurut saya, hal yang berbeda saat ini hanya tim lawan lebih berani,” ujarnya melanjutkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/29/abd2e635-a8fc-4bfe-9474-7d0b80af2a6f_jpg.jpg)
Saking kontrasnya, Forest dan City pun berbeda jauh dalam memandang pemain terpenting dalam tim. Di City, pemain paling diandalkan adalah sang pencetak gol terbanyak, Haaland. Berbeda dibandingkan dengan Forest yang sedang terpukau dengan kegemilangan kiper Matz Sels.
”Buat saya, Matz Sels!” kata Santo tegas ketika ditanya apakah Alisson Becker merupakan kiper terbaik di dunia saat ini. ”Kepercayaan dirinya membantu tim ini. Kami menjadi lebih solid dan kompak. Matz membuat pertahanan kami berkembang signifikan musim ini,” tuturnya.
Forest berhasil mencatatkan 11 kali nirbobol pada musim ini, termasuk ketika menahan imbang Arsenal 0-0 pada pekan lalu. Sels kembali menunjukkan aksi heroik pada tengah pekan saat membawa Forest menang adu penalti atas Ipswich Town di babak 16 besar Piala FA.
Forest sedang di atas angin, terutama saat bermain selaku tuan rumah. Mereka belum terkalahkan dalam sembilan laga terakhir di kandang. ”Rasanya sedang sangat baik. Kami akan melakukan segalanya untuk finis setinggi mungkin,” kata Sels. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra