Terpuruknya Manchester City, Dilema Pep Guardiola

Manchester City tak mampu mempertahankan dominasinya. Musim ini menjadi krisis terbesar Pep Guardiola selama kariernya di City.

03 Mar 2025 04:07 WIB · Opini

Oleh Adi Prinantyo

Tersingkirnya Manchester City di tangan Real Madrid di playoff Liga Champions membuktikan kesulitan City mempertahankan performa seperti musim-musim sebelumnya. Trofi Liga Champions harus direlakan, juga Liga Inggris.

Manajer Manchester City Pep Guardiola mengakui secara terbuka kelemahan tim asuhannya, dalam artikel Paul Hirst di The Times berjudul ”Pep Guardiola: Rivals are faster and stronger. Man City can’t handle it”. ”Kami harus duduk bersama dengan para dokter, fisioterapi, agen, dan harus jelas memahami bahwa sebagian pemain tak bisa bugar tiap tiga hari, tiap bulan atau dalam dua bulan, untuk bermain tiap tiga hari,” ujar Guardiola.

Ia menambahkan, tim ”Biru Langit” selalu mencapai babak-babak akhir Liga Champions, apakah itu perempat final atau semifinal. ”(Tetapi) bukan di musim ini,” kata Guardiola lagi, menekankan betapa performa tim asuhannya musim ini yang jauh di bawah lazimnya.

Masih menurut dia, realitas timnya hari ini harus menjadi pijakan untuk menyiapkan tim jelang musim-musim mendatang. ”Jika kami ingin berada di sana lagi (mampu bersaing di level elite Eropa dan Liga Inggris), kami butuh pemain-pemain bugar dan selalu siap. Itu bisa terjadi kadang-kadang, tetapi amat sangat sering. Kondisinya menuntut begitu karena tim-tim rival lebih cepat, lebih kuat, dan kami tidak mampu mengimbangi itu,” katanya.

Inkonsistensi City terlihat kentara saat mereka dengan perkasa menundukkan Newcastle United dengan skor 4-0, Sabtu (15/2/2025). Namun, pada Kamis (20/2/2025) tim asuhan Guardiola kalah 1-3 dari Real Madrid pada laga kedua fase playoff Liga Champions sehingga tersisih dari persaingan liga elite Benua Biru.

City tampil buruk di Madrid sehingga fans ”El Real” meneriakkan ”Guardiola, quédate”, yang berarti ”Guardiola, bertahanlah”. Itu versi satir ”Bisakah kami melawan tim asuhanmu tiap pekan?” Bagi fans Madrid, menang atas tim asuhan Guardiola terasa istimewa karena semasa sang pelatih menangani Barcelona, ”Los Blancos” sulit menang.

TOPSHOT - Manchester City's Spanish manager Pep Guardiola celebrates his team second goal during the English Premier League football match between Manchester City and West Ham United at the Etihad Stadium in Manchester, north west England, on January 4, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Kondisi serba susah City, salah satunya karena deretan pemain andalan yang menua. Meski sejak beberapa tahun terakhir sudah menyatakan pentingnya regenerasi pemain, skuad Guardiola masih saja terhitung menua meski baru saja menambah empat pemain muda. Hingga September nanti, 11 dari anggota skuad City berusia di atas 30 tahun.

Mayoritas dari mereka, seperti Kevin De Bruyne, Ilkay Gundogan, dan Bernardo Silva, dibayangi tanda tanya terkait dengan masa depan mereka. Sayangnya, meski laga melawan Liverpool di Liga Inggris pada Minggu (23/2/2025) bisa menjadi pembuktian kapasitas para pemain senior itu sebelum pamit ke fans City, laga itu juga berakhir dengan kemenangan 2-0 untuk ”The Reds”.

Tak setangguh sebelumnya

Nyata-nyata, dua laga kandang City melawan dua rival berat, yakni menjamu Real Madrid di Liga Champions dan Liverpool di Liga Inggris, berakhir dengan kekalahan. Sebelum laga 12 Februari di Stadion Etihad, kolumnis The Times, Paul Hirst, ibarat mengingatkan City agar jangan membiarkan pemain Real Madrid leluasa memainkan bola. Saran sederhana, tetapi sulit dijalankan karena mutu skuad El Real.

Guardiola paham bahwa pamor El Real saat ini berada di pundak para penyerang mereka. Para pemain bertahan City sudah bersiap dengan gempuran kuartet penyerang paling tajam saat ini, yakni Jude Bellingham, Vinicius Jr, Rodrygo, dan Kylian Mbappe. Mereka tercatat bermain di 194 laga internasional serta menyumbang 60 gol plus 31 asis dari 38 pertandingan Real Madrid musim ini.

”Kami memahami nilai penting kami berempat di tim, khususnya terkait bagaimana kami bisa membuat perbedaan (dengan maupun tanpa bola),” ujar Rodrygo. Sebelum laga kedua di Madrid, Guardiola sudah melontarkan testimoni tentang betapa sulitnya mengimbangi mereka.

”Tak mungkin mengontrol empat pemain ini dalam 90 atau 180 menit. Bagaimana kombinasi permainan mereka, berlari mengejar bola, kemampuan satu lawan satu, bagaimana menguasai bola, keempatnya luar biasa,” tutur Guardiola.

Real Madrid's Brazilian forward #07 Vinicius Junior (L) fights for the ball with Manchester City's English defender #82 Rico Lewis during the UEFA Champions League football match between Manchester City and Real Madrid at the Etihad Stadium in Manchester, north west England, on February 11, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP)

Selain harus rela tersingkir dari Liga Champions, City juga terseok di peringkat keempat klasemen sementara Liga Inggris, dengan perolehan 47 poin, berselisih 20 angka dengan Liverpool di puncak klasemen. Laga penting melawan Liverpool di Etihad juga berakhir dengan kekalahan dua gol tanpa balas. Tak pelak, taji City yang masih diharapkan bisa mengganggu Liverpool meraih trofi Liga Inggris tak terwujud di lapangan.

Betapa City sulit mengimbangi Real Madrid di Liga Champions, dan kewalahan menandingi Liverpool di Liga Inggris, dengan kedua laga digelar di kandang sendiri, menunjukkan tim asuhan Guardiola tak setangguh dua musim lalu. Ketika itu, Manchester City menjadi treble winner, yakni menjuarai Liga Champions, Liga Inggris, dan Piala FA. Malang tak kuasa ditolak, musim ini City hanya menyisakan peluang juara di Piala FA.

Dengan tingkat persaingan antarklub Eropa dan Inggris sedemikian sengit, kiranya City sudah hampir pasti sulit meraih perbaikan drastis, dengan skuad yang ada dan sempitnya waktu jelang akhir liga. Krisis, seperti ditulis Mike Carson dalam buku The Manager, Inside The Minds of Football’s Leaders, memerlukan perubahan haluan demi menghidupkan kembali nasib baik.

Krisis di Manchester City, solusinya kembali berpulang kepada Guardiola. Menurut Carson, ada dua elemen kunci dalam mengatasi krisis, yakni pilihan dan tindakan. Pilihan dan tindakan itu bisa saja dengan lebih banyak memainkan pemain-pemain berusia lebih muda, salah satunya Omar Marmoush yang baru bergabung akhir Januari 2025 dan cukup impresif dengan mencetak tiga gol dari lima laga.

Memang, ada kesan ”berjudi” dengan banyak mengistirahatkan pemain-pemain lapis pertama yang sekian tahun berkontribusi bagi prestasi City. Namun, buah dari pilihan dan tindakan ini akan dituai sekian tahun ke depan, dengan prestasi yang kembali gemilang.

Pemain Liverpool Mohamed Salah (kedua dari kiri) berebut bola dengan pemain Manchester City Abdukodir Khusanov (kanan) pada laga Liga Inggris di Stadion Etihad, Manchester, Senin (24/2/2025) dini hari WIB. Liverpool menang 2-0 pada laga itu.

Kita masih ingat, skuad generasi emas tim nasional Spanyol yang tampil sebagai juara Piala Eropa Swiss-Austria 2008, juara dunia Afrika Selatan 2010, dan juara Piala Eropa Polandia-Ukraina 2012. Namun, seiring bergantinya musim, skuad bintang dengan andalan Xavi, Andres Iniesta, David Silva, dan Fernando Torres itu lantas tersisih di fase grup Piala Dunia Brasil 2014. Ini konsekuensi dari keterlambatan kaderisasi.

Di kancah klub, kisah Pelatih Sam Allardyce yang dikontrak Bolton Wanderers pada 1999 juga menarik. Allardyce tiba di Bolton dalam situasi banyak pemain tidak betah lagi di sana dan ingin hengkang. ”Mereka merasa karier mereka bakal membaik andai bisa segera hijrah (dari Bolton) sehingga sekaligus memperbaiki penghasilan. Semua orang tahu saat itu Bolton dilanda dilema finansial sehingga banyak dari mereka ingin segera pindah,” kata Allardyce, dikutip Carson.

Saat tahu dia masuk di tengah krisis, Allardyce bertindak cepat dengan mempertahankan asisten pelatih Phil Brown, yang memahami kualitas semua pemain. Dengan demikian, jika harus menilai pemain mana yang layak dipertahankan dan mana yang dilepas, dia percaya 100 persen kepada Brown.

Adapun aksi kedua, meraih beberapa hasil positif di pertandingan liga. ”Jika Anda mempertahankan hasil positif, pemain akan merasa nyaman lagi, mereka akan mulai berpikir: ’tidak terlalu jelek juga di sini’, dan dengan cepat tim akan berada dalam spiral perbaikan,” tutur Allardyce lagi. Bagi Guardiola, kemenangan 1-0 atas Tottenham Hotspur pada 27 Februari bisa menjadi pijakan deretan untuk menuai hasil positif menuju laga-laga mendatang.

Rotasi pemain sudah pasti bakal menjadi salah satu kesibukan Guardiola dalam sejumlah pekan ke depan. Dengan tersisa pertandingan di Liga Inggris dan Piala FA, bisa jadi Piala FA jadi prioritas karena masih ada peluang meraih satu-satunya trofi musim ini. Dengan demikian, skuad yang terbaik akan dimainkan di Piala FA.

Manchester City's head coach Pep Guardiola arrives at the pitch ahead of the Champions League, opening phase soccer match between Juventus and Manchester City at the Allianz stadium in Turin, Italy, Tuesday, Wednesday, Dec.11, 2024. (AP Photo/Luca Bruno)

Adapun di Liga Inggris, targetnya semata bertahan di empat besar klasemen agar tetap memastikan tampil di Liga Champions musim depan. Ini tentu situasi dilematis bagi Guardiola. Namun, pengalamannya semasa di Barcelona, Bayern Muenchen, dan kini di Manchester City, rasanya bisa jadi modal menghadapi krisis ini.

”Selama ini saya tidak pernah komplain (jika ada masalah) dan menunjuk siapa yang salah. Ini semua sudah terjadi, inilah hidup, inilah sepak bola, jadi ayo berusaha lagi. Ini juga yang membuat selama ini kami meraih sukses: karena selalu merasa tidak pernah cukup. Tiap tiga hari ada pertandingan dan menang, menang, menang selama bertahun-tahun. Kali ini kami harus melakukan yang sama dan hasilnya tidak bagus,” kata Guardiola, yang berusaha tetap setenang mungkin.

Layak ditunggu, apa pilihan dan tindakan Guardiola di tengah krisis Manchester City saat ini. City memang terseok di urutan keempat klasemen sementara Liga Inggris. Namun, masih ada asa di Piala FA. Mampukah Guardiola mengoptimalkan skuadnya guna meraih satu-satunya harapan trofi di Piala FA?


Kerabat Kerja

Penulis:

Adi Prinantyo
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .