Sebanyak 30 dari 66 penumpang dan awak KMP Tunu Pratama Jaya masih hilang. Dari jumlah itu, lima orang dipastikan tewas.
03 Jul 2025 18:10 WIB · Nasional
BANYUWANGI, KOMPAS — Puluhan anggota keluarga korban insiden tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya menanti penuh harap kerabat mereka selamat dari musibah itu. Di posko informasi gabungan yang berada di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mereka menantikan kabar terbaru mengenai anggota keluarga mereka yang diduga menjadi korban.
Hingga pukul 17.30 WIB, posko itu dipadati anggota keluarga penumpang KMP Tunu Pratama Jaya. Mereka memandang papan di posko dengan deretan nama penumpang kapal naas tersebut. KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) malam.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengonfirmasi bahwa kapal milik operator swasta PT Raputra Jaya itu tenggelam pada Rabu malam saat tengah berlayar di lintasan Ketapang-Gilimanuk, yakni di Selat Bali.
Kejadian tersebut pertama kali terpantau pada pukul 23.20 ketika KMP Tunu Pratama Jaya mengalami gangguan dan menyampaikan permintaan bantuan melalui saluran komunikasi radio. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapal mengalami blackout pada pukul 23.35. Tidak lama berselang, kapal tersebut terbalik dan hanyut ke arah selatan, dengan posisi terakhir tercatat di koordinat -08°09.371', 114°25.1569'.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/6f893276fb6dcc2c5069b149f9249cd0-WhatsApp_Image_2025_07_03_at_15.20.07.jpeg)
Keluarga yang menanti kepastian nasib anggota keluarganya itu sebagian duduk menggelesot di lantai posko. Sebagian lainnya gelisah menanti di kursi tunggu.
Pada pukul 16.30, sebagian keluarga akhirnya mendapatkan kepastian. Sebanyak 21 korban selamat dibawa dari Pelabuhan Gilimanuk di Jembrana, Bali, ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dengan KMP Dharma Rucitra.
Setiba di ketapang, semua korban selamat itu dinaikkan ke ambulans untuk dibawa ke posko informasi. Mereka menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Keluarga yang berjam-jam menanti mereka pun menyambut dengan histeris. Tangis haru menyelimuti anggota keluarga korban selamat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/8fc154b839780d3d8b7434ab3788e32b-WhatsApp_Image_2025_07_03_at_15.20.08.jpeg)
Ahmad Suyipno, salah seorang korban selamat, mengungkapkan, kejadian tenggelamnya kapal itu begitu cepat.
”Saya ada di dalam mobil pikap mengangkut bibit ikan. Tidak ada tanda-tanda, kapal miring ke kiri. Saya belum sempat dapat pelampung, hingga kapal tenggelam,” ujar Suyipno.
”Saat saya keluar dari air, tiba-tiba sudah ada sekoci darurat. Saya sempat membantu orang masuk hampir 16 orang,” kata Suyipno yang pada Kamis sore langsung disambut keluarganya untuk dibawa pulang.
Malangnya, dari tiga rekan kerja Suyipno, masih ada satu orang belum ditemukan.
Sementara puluhan orang lainnya di posko informasi gabungan itu masih gelisah dan penuh harap karena keluarga mereka belum ditemukan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/3e2b2e4cb183a25887d848b579ae7581-WhatsApp_Image_2025_07_03_at_15.20.08_1_.jpeg)
Salah satunya adalah Narwi (50). Lelaki itu hanya bisa pasrah. Anaknya tidak termasuk sebagai korban selamat yang berhasil dievakuasi pada Kamis sore. Anak dan dua cucunya belum ditemukan.
”Mereka pergi ke Bali dengan travel. Bersama anak dan dua cucu, ada tiga keluarga besan yang ikut untuk menjenguk suami anak saya yang bekerja di Bali,” ujarnya.
Narwi yang sudah berada di Pelabuhan Ketapang sejak subuh hanya bisa berharap enam anggota keluarganya ditemukan selamat.
Hingga pukul 14.00 Wita, tim gabungan pencarian korban kapal tenggelam KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali masih terus mencari 30 korban hilang. Data penumpang kapal adalah sebanyak 53 penumpang, ditambah 13 awak kapal, sehingga total ada 66 orang di dalam kapal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/03/6c729da8-abc6-4436-ac66-1c0e1b90cfdc_jpg.jpg)
”Dari jumlah tersebut, korban selamat 31 orang dan 5 korban meninggal. Sisanya, yaitu 30 korban, masih dalam pencarian,” kata Ida Bagus Indra Yoga, anggota staf bidang pelayanan kesehatan dan ambulans Palang Merah Indonesia (PMI) Jembrana yang bertugas di lapangan dalam penanganan kecelakaan kapal tersebut.
Semua korban tewasl, menurut Yoga, saat ini masih berada di kamar jenazah RSU Negara, Jembrana.
Penulis:
Bahana Patria Gupta, Dahlia IrawatiEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar