KETENAGAKERJAAN

Tahun 2026, Kerja Layak Bakal Masih Sulit Dicari

Laporan terbaru ILO menyebut ratusan juta pekerja di seluruh dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Gejolak perdagangan global menambah ketidakpastian.

19 Jan 2026 17:30 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS

Oleh Caecilia Mediana

JAKARTA, KOMPAS — Tingkat pengangguran global 2026 diperkirakan stagnan dengan peluang kerja layak yang masih terbatas. Kaum muda di sejumlah negara berjuang mencari pekerjaan layak, sementara perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan ketidakpastian kebijakan perdagangan berisiko semakin merusak pasar kerja. 

Hal itu terangkum dalam laporan studi terbaru Organisasi Buruh Internasional (ILO) bertajuk ”Tren Ketenagakerjaan dan Sosial 2026” yang diumumkan pada Jumat (16/1/2026).

Dalam siaran pers yang dikutip Senin (19/1/2026), Direktur Jenderal ILO Gilbert F Houngbo menyebutkan, tingkat pengangguran secara global diproyeksikan tetap 4,9 persen atau sebanyak 186 juta orang. Kendati tidak memburuk, angka itu semestinya tidak mengalihkan perhatian dari kenyataan bahwa masih ada banyak pekerja yang terjebak dalam kemiskinan, informalitas, dan pengucilan. 

Mereka yang bekerja di sektor informal itu cenderung memiliki akses terbatas terhadap perlindungan sosial, hak-hak di tempat kerja, dan jaminan sosial. 

”Hampir 300 juta pekerja terus hidup dalam kemiskinan ekstrem dan berpenghasilan kurang dari 3 dolar AS per hari. Sektor informal meningkat, dengan 2,1 miliar pekerja atau 60 persen dari total penduduk bekerja secara global diperkirakan akan memegang pekerjaan informal pada 2026,” ucapnya. 

Pencari kerja memadati bursa kerja Indonesia Career Expo yang berlangsung selama dua hari di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (24/1). Potensi angkatan kerja muda yang dinamis saat ini dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi.  

Kompas/Raditya Helabumi (RAD)
24-01-2018

Melanjutkan kondisi pada tahun-tahun sebelumnya, angkatan kerja usia muda secara global diperkirakan akan terus berjuang mencari pekerjaan layak pada 2026. Pada 2025 saja, laporan ILO menyebutkan, tingkat pengangguran kaum muda telah naik menjadi 12,4 persen, dengan sekitar 260 juta orang kaum muda tidak bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan (NEET).

Di negara-negara berpenghasilan rendah, angka NEET mencapai 27,9 persen. Laporan itu mengingatkan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan otomatisasi dapat memperburuk tantangan, khususnya bagi kaum muda terdidik di negara-negara berpenghasilan tinggi. 

Laporan ILO yang sama menyebutkan, sejumlah negara lambat mengalihkan perekonomiannya ke industri atau jasa bernilai tinggi. Hal itu menghambat kemajuan kualitas pekerjaan berkelanjutan dan pertumbuhan produktivitas. Gejolak perdagangan global menambah ketidakpastian pasar tenaga kerja.

Ketidakpastian tentang aturan perdagangan dan hambatan rantai pasokan tercatat mengurangi upah pekerja, terutama di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Eropa. Meski demikian, perdagangan tetap menjadi sumber utama lapangan kerja di dunia. 

Pertumbuhan lapangan kerja pada 2026 diproyeksikan 0,5 persen di negara berpenghasilan menengah ke bawah dan 3,1 persen di negara berpenghasilan rendah. Tanpa peluang kerja produktif, negara-negara miskin berisiko menyia-nyiakan dividen demografis mereka. 

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, Senin (19/1/2026), di Jakarta, berpendapat, jika tingkat pengangguran secara global cenderung stabil (resilient), tetapi tingkat pengangguran usia muda cenderung naik, artinya masyarakat semakin susah mencari pekerjaan baik formal maupun informal.

Proyeksi serapan tenaga kerja dan tingkat pengangguran dari Laporan Tren Ketenagakerjaan dan Sosial 2026 dari ILO.

Masa tunggu yang harus dilalui seseorang sejak fase lulus sekolah hingga bekerja juga semakin panjang. Dengan kata lain, persaingan di pasar kerja semakin ketat. ”Semakin ketat pula mencari pekerjaan formal yang menawarkan gaji lebih layak,” ujarnya. 

Konsekuensi dari situasi itu ialah daya beli yang berpotensi semakin rendah. Dengan lesunya daya beli, semakin besar pula tekanan pada konsumsi rumah tangga. 

Kebijakan mesti jelas

Solusi mengatasi masalah itu tidak cukup hanya menyasar sisi permintaan tenaga kerja, seperti menambah program-program peningkatan keterampilan kerja. Pemerintah juga perlu punya strategi kebijakan yang jelas untuk meningkatkan kuantitas penyediaan lapangan pekerjaan. 

Quote

Pekerja di Indonesia menghadapi tekanan ganda: pesatnya tren otomasi karena kehadiran teknologi kecerdasan buatan dan lemahnya pertumbuhan industri nasional.

Sementara itu, peneliti ekonomi Centre for Strategic and International Studies, Deni Friawan, berpendapat, secara umum tingkat pengangguran usia muda selalu lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran secara umum. Sebab, angkatan kerja usia muda, terutama fresh graduate, cenderung belum memiliki pengalaman kerja. 

Namun, saat ini ada kecenderungan tingkat pengangguran usia muda melonjak, baik di negara maju maupun berkembang. Menurut Deni, penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi di banyak negara yang sedang melambat, ketidakpastian situasi ekonomi politik, dan inovasi teknologi AI.

Penyandang disabilitas mencari lowongan pekerjaan dalam Job Fair Disabilitas di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (3/11/2025). Acara ini menyediakan 107 lowongan pekerjaan khusus penyandang disabilitas dari 21 perusahaan. Sepanjang tahun 2025, Pemerintah Provinsi Jakarta telah menggelar 13 bursa kerja yang melibatkan penyandang disabilitas. Dari kegiatan tersebut, sekitar 150 pencari kerja disabilitas telah disalurkan ke berbagai perusahaan.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
03-11-2025

Di tengah situasi itu, perusahaan bakal berpikir ulang untuk merekrut tenaga kerja baru dan memermanenkan status mereka. Angkatan kerja pun berisiko semakin frustrasi mencari kerja dan terancam turun kelas ke bawah garis kemiskinan.

Saat dihubungi terpisah, Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Jumhur Hidayat memandang, pekerja di Indonesia menghadapi tekanan ganda: pesatnya tren otomasi karena kehadiran teknologi AI dan lemahnya pertumbuhan industri nasional.

Otomasi yang tak terhindarkan, menurut pengamatannya, tidak diikuti dengan strategi menguatkan industri nasional. ”Kami tidak melihat ada komitmen kuat dari pemerintah untuk menguatkan industri nasional. Gagasan besar industrialisasi nasional yang tangguh kurang terasa,” ujarnya.

Masalah lain yang memperparah kondisi industri nasional dan pasar kerja adalah derasnya impor, termasuk impor ilegal. Dia menduga, situasi itu dipengaruhi oleh rendahnya hambatan impor.

”Advokasi kami ke pemerintah bukan hanya pada sisi hilir (peningkatan keterampilan pekerja), tetapi juga tataran makro. Misalnya, regulasi penggunaan otomasi, penguatan industri dalam negeri, dan pemberantasan impor ilegal,” kata Jumhur. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Caecilia Mediana
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti