Dampak borok korupsi akan dipikul selama bertahun-tahun, termasuk oleh generasi muda. Lewat unjuk rasa tiada henti, anak-anak muda dan mahasiswa Serbia menyuarakan perlawanan pada praktik-praktik korupsi di negara mereka.
19 Mar 2025 10:31 WIB · Opini
Marah pada korupsi yang menggurita di negaranya, anak-anak muda Serbia tiada henti berunjuk rasa. Mereka marah, korupsi merampas masa depan mereka.
Hampir empat bulan terakhir ini, Serbia diguncang unjuk rasa. Motornya adalah anak-anak muda. Unjuk rasa terbaru— terbesar sejauh ini—berlangsung pada Sabtu (15/3/2025). Dilaporkan, 100.000 hingga 300.000 orang turun ke jalan, mulai dari ibu kota Belgrade hingga kota-kota kecil.
Pemandangan beberapa bulan terakhir ini membangkitkan kenangan sejarah gerakan mahasiswa di negara itu melawan pemerintah saat masih berbentuk Yugoslavia. Jika kala itu mereka melawan rezim komunis, anak-anak muda Serbia kali ini menentang korupsi masif di pemerintahan Serbia.
Seperti diberitakan, pemantik unjuk rasa besar-besaran di Serbia adalah korupsi. Pemicunya, insiden ambruknya atap stasiun kereta di Novi Sad, kota terbesar kedua, yang menewaskan 15 orang, November 2024. Warga marah, stasiun itu baru direnovasi pada 2022, tetapi sudah ambruk dan menelan korban jiwa. Insiden itu mengungkap adanya borok korupsi.
Setelah diguncang demonstrasi, aparat hukum di Serbia telah mengusut kasus stasiun di Novi Sad. Sejumlah pejabat, termasuk Perdana Menteri Milos Vucevic, Menteri Perhubungan dan Infrastruktur Tomislav Momirović, serta penggantinya, Milan Duric, mundur. Namun, di mata anak-anak muda pengunjuk rasa, harapan mereka tak berhenti di situ.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/16/a9a9a20eeea4934a8ef5fdb3ec4164d5-TOPSHOT_SERBIA_POLITICS_DEMONSTRATION_ACCIDENT_128261248.jpg)
Mereka menginginkan perubahan menyeluruh. Perubahan yang bisa memupus kanker korupsi di Serbia. Kasus di Novi Sad hanyalah salah satu contoh korupsi di negara itu. Sedemikian kuat gurita korupsi di Serbia, segala perkara hingga urusan mencari pekerjaan tak lepas dari praktik korupsi. Sangat bisa dimaklumi jika anak-anak muda di negara itu marah dan menumpahkannya lewat serangkaian unjuk rasa.
Simaklah kata-kata Ivana, mahasiswa Universitas Novi Sad, yang dikutip dalam berita. ”Ijazah saya tidak akan berguna selama korupsi dan kolusi mewabah. Lapangan kerja terbuka bukan karena saya terampil. Saya bisa dapat kerja kalau mau menyuap atau jadi kroni,” ujarnya (Kompas, 18/3/2025).
Ijazah saya tidak akan berguna selama korupsi dan kolusi mewabah. Lapangan kerja terbuka bukan karena saya terampil. Saya bisa dapat kerja kalau mau menyuap atau jadi kroni.
Data Transparency International memperlihatkan, Serbia menduduki peringkat ke-105 dari 180 negara soal indeks persepsi korupsi. Hal ini diperburuk oleh catatan Freedom House yang menempatkan Serbia sebagai negara dengan kebebasan terbatas dengan nilai 56 dari skala 0-100.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/17/38fb06602032972d434fa59aecbb28cc-Serbia_Protests_Tensions.jpeg)
Merespons situasi di negaranya, Presiden Serbia Aleksandar Vucic menuding gerakan unjuk rasa ditunggangi oposisi dan kelompok asing. Ia menyebut motif dan target unjuk rasa tersebut adalah untuk menggulingkan pemerintahannya.
Gelombang unjuk rasa di Serbia kemungkinan bakal terus menggelinding. Pemberian kenaikan subsidi oleh Vucic pada perguruan-perguruan tinggi di negeri itu tak akan mampu menghentikannya. Yang dibutuhkan warga, terutama anak- anak mudanya, adalah perubahan sistemik yang menyembuhkan penyakit kronis korupsi dari pemerintahan Serbia.
Penulis:
REDAKSIEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari