Sebelum meninggal, mahasiswa Unnes, Iko Juliant Junior, disebut sempat mengigau meminta ampun supaya tak dipukuli. Kematian Iko yang janggal itu pun dipertanyakan.
02 Sep 2025 08:34 WIB · Politik & Hukum
SEMARANG, KOMPAS — Kematian mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, Iko Juliant Junior (19), dinilai penuh dengan kejanggalan. Sebelum meninggal, Iko yang dibawa ke rumah sakit dengan luka parah oleh orang tak dikenal disebut sempat mengigau meminta ampun supaya tidak dipukuli.
Meninggalnya Iko turut menjadi perhatian Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes). Anggota IKA FH Unnes, Naufal Sebastian, mengatakan, penelusuran terhadap kematian Iko yang dinilai janggal itu sedang dilakukan.
Naufal menyebut, Iko yang tinggal di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, itu berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke kampusnya pada Sabtu (30/8/2025) sekitar pukul 17.00 WIB. Iko mengenakan pakaian dinas harian dewan perwakilan mahasiswa, membawa jas almamater, dan tas ransel biru. Ia pergi dengan mengendarai sepeda motor.
Setelah itu, Iko sempat pulang ke rumah. Namun, pada Sabtu sekitar pukul 23.00 WIB, ia kembali meninggalkan rumah. Kepada temannya melalui pesan Whatsapp, Iko mengatakan dirinya hendak pergi ke Markas Kepolisian Daerah Jateng untuk menjemput teman-temannya yang ditahan polisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/02/8ccd410f33c9b876101d4c016fc97501-1001015873.jpg)
”Pada Minggu (31/8/2025) sekitar pukul 11.00 WIB, Iko diantar ke Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi (Semarang). Kata satpam (diantar) oleh Brimob Polda Jawa Tengah. Kondisinya kritis,” kata Naufal, Senin (1/9/2025) malam.
Dokter yang menangani Iko menyebut, mahasiswa angkatan 2024 itu mengalami pendarahan hebat dan kerusakan pada bagian limpa. Dokter pun menyarankan agar Iko dioperasi. Saran itu disetujui ibu Iko hingga akhirnya Iko dioperasi.
Setelah operasi selesai, Iko yang ditunggui oleh ibunya sempat mengigau. Setidaknya tiga kali Iko berkata, ”Ampun Pak, tolong Pak, jangan pukulin saya lagi.” Kemudian, pada Minggu sekitar pukul 15.30 WIB, Iko meninggal.
Naufal mengatakan, pihaknya belum tahu pasti mengenai luka-luka di tubuh Iko. Sejauh ini, IKA FH Unnes baru mendapatkan foto jenazah Iko pada bagian kepala. Dalam foto itu terlihat, ada luka robek di bibir Iko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/01/beb00acd-bb8e-4336-a1f8-f5fcc2ed0443_jpg.jpg)
Menurut keterangan polisi, Iko bersama temannya yang bernama Ilham mengalami kecelakaan di daerah Dr Cipto, Kota Semarang. Ilham masih dalam perawatan di rumah sakit dan disebut mengalami trauma. Adapun sepeda motor yang dikendarai Iko masih berada di Polda Jateng.
Sementara itu, Ketua Pusat Bantuan Hukum IKA FH Unnes Ady Putra Cesario mengatakan, pihaknya masih berupaya menggali keterangan dari Ilham yang diyakini mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Iko.
Kendati sempat dalam kondisi kritis, Ilham disebut sudah membaik. Namun, Ilham mengaku belum siap untuk dimintai keterangan mengenai peristiwa tersebut karena masih trauma.
”Apabila nanti kami sudah menemukan bukti-bukti yang mengerucut pada dugaan tindakan kekerasan, kami akan mendesak kepolisian untuk mengusut kasus ini. Kami dari PBH IKA Unnes siap mengawal dan memberikan pendampingan hukum, baik kepada keluarga maupun teman-teman almarhum,” ujar Ady.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/ba01b04f-1a69-4e7e-9ec0-50b07a3fc09f_jpg.jpg)
Sebelumnya, Polda Jateng menangkap ratusan orang yang melintas di Jalan Pahlawan, depan Markas Polda Jateng, dan sekitarnya pada Sabtu petang hingga Minggu dini hari. Penangkapan dilakukan kepada para pelintas yang dicurigai akan melakukan penyerangan Markas Polda Jateng.
Pantauan Kompas pada Sabtu petang, puluhan orang dengan pakaian mayoritas hitam menghadang para pengendara yang melintas, terutama anak-anak dan remaja laki-laki yang mengendarai sepeda motor. Mereka dihentikan dengan berbagai cara, seperti menarik kendaraan atau tubuh pengendara maupun pembonceng.
Selain itu, ada juga yang dihentikan dengan ditendang sepeda motornya atau dilempar helm pada bagian rodanya hingga sepeda motornya terjatuh. Usai terjatuh, mereka dipukuli beramai-ramai sebelum akhirnya digelandang menuju Markas Polda Jateng dengan cara dipiting.
”Situasinya seram banget, banyak banget kekerasan. Orang-orang melintas ditarik sampai jatuh, terus ada yang dipukulin. Jujur saya jadi tidak nyaman melihatnya,” ujar Indah (24), salah satu warga yang melintas, Sabtu petang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/2f9514f21d5bf75c4a6ca2638b6f233c-WhatsApp_Image_2025_08_31_at_22.31.45.jpeg)
Sedikitnya 327 orang ditangkap oleh polisi dalam kegiatan tersebut. Sebanyak tujuh orang di antaranya ditetapkan sebagai tersangka karena dinilai telah merusak Polda Jateng dan fasilitas umum di jalan raya. Kendati demikian, semuanya dibebaskan pada Minggu malam.
Saat dikonfirmasi apakah Iko merupakan salah satu orang yang ditangkap Polda Jateng, Kepala Bidang Humas Polda Jateng Komisaris Besar Artanto tak menjawab pasti.
”Segera keluarganya atau utusannya merapat ke Kepolisian Resor Kota Besar Semarang atau ke Markas Polda Jateng untuk informasikan secara resmi kejadian tersebut guna penyelidikan atas informasi tersebut,” kata Artanto.
Setidaknya tiga kali Iko berkata, ’Ampun Pak, tolong Pak, jangan pukulin saya lagi.’
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan