Pihak kampus dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta masih berupaya mengumpulkan kronologi lengkap perihal kejadian itu.
31 Agt 2025 22:24 WIB · Politik & Hukum
SLEMAN, KOMPAS — Seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama (21), meninggal dengan kondisi luka-luka di tubuhnya, Minggu (31/8/2025). Rheza disebut ikut dalam unjuk rasa pada Sabtu (30/8/2025) malam hingga Minggu pagi.
Ratusan orang melayat ke rumah duka di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu siang. Para pelayat, yang sebagian besar mahasiswa, juga turut mengantarkan jenazah ke pemakaman, yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah.
Seusai pemakaman, ayah Rheza, Yoyon Surono, mengatakan, anaknya itu merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta Angkatan 2023. Rheza sedang menempuh pendidikan semester V di kampus tersebut.
Yoyon menjelaskan, awalnya dia mendapat informasi dari tetangga yang datang ke rumahnya pada Minggu pagi bahwa Rheza berada di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Yogyakarta. Awalnya, dia mengira sang anak hanya terkena gas air mata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/c1f5d88ff24ce51dd584c03964989e30-20250831eng01.jpeg)
Namun, ketika dia tiba di rumah sakit itu, sang anak telah terbujur. ”Saya tanya, yang antar (ke rumah sakit) siapa? Katanya (staf rumah sakit) dari unit kesehatan polda. Dua orang,” ujar Yoyon.
Saat memandikan jenazah Rheza, Yoyon mengungkapkan, dirinya melihat sejumlah luka, seperti bekas kekerasan di tubuh anaknya itu, antara lain di bagian leher, perut, kepala, punggung, tangan, dan kaki.
Namun, Yoyon mengatakan, keluarga tidak bersedia jenazah Rheza diotopsi meskipun kepolisian memintanya melakukan hal tersebut. ”Kami keluarga sudah pasrah. Apa pun yang terjadi, ini musibah. Jadi, kami enggak mau otopsi,” ujarnya.
Yoyon pun mengaku belum tahu persis kronologi peristiwa yang menimpa anaknya itu. Hanya saja, dia mendapat informasi hal itu diduga terkait aksi demonstrasi di dekat Markas Polda DIY pada Minggu pagi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/29/1f3b9498-caf6-4ad5-b50b-e1b7d8253c23_jpg.jpg)
Dia pun masih berupaya mencari teman yang pergi bersama Rheza pada Sabtu malam tersebut untuk mendapatkan penjelasan lebih lengkap. Rheza pamit pergi kepadanya dengan alasan diajak ngopi temannya itu di sekitar Tugu, Kota Yogyakarta.
Yoyon berharap aksi-aksi demonstrasi yang marak terjadi saat ini dapat berlangsung damai. Selain itu, pengamanan juga harus diperjelas. ”Jangan terus langsung apa-apa main gebuk. Kasihan itu nanti orang-orang yang enggak ngerti,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Amikom Alvito Afriansyah mengatakan, pihaknya juga belum memperoleh informasi yang lengkap perihal kronologi peristiwa yang menimpa Rheza. ”Kami belum investigasi secara menyeluruh sehingga kami belum tahu apa sebetulnya yang terjadi,” ujarnya.
Rheza merupakan salah satu mahasiswa yang cukup aktif menyuarakan aspirasi masyarakat di lapangan.
Menurut Alvito, secara kelembagaan, BEM Amikom tidak ikut dalam aksi demonstrasi di Yogyakarta, baik yang terjadi pada Jumat (29/8/2025)-Sabtu pagi maupun pada Sabtu malam-Minggu pagi. Demonstrasi itu terkait kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis polisi saat unjuk rasa di Jakarta pada 28 Agustus 2025.
Namun, dia mengatakan, selama ini cukup banyak mahasiswa Amikom yang turut bersuara ketika ada hal-hal yang tak tepat terkait kebijakan-kebijakan pemerintah. Meski bukan anggota BEM, Alvito menyebut, Rheza merupakan salah satu mahasiswa yang cukup aktif menyuarakan aspirasi masyarakat di lapangan.
Alvito mengatakan, Rheza hadir dalam unjuk rasa pada Sabtu malam hingga Minggu pagi. Dia pun berharap bisa mendapatkan keterbukaan dari berbagai pihak, terutama yang hadir di lokasi saat itu dan melihat langsung kejadiannya sehingga BEM Amikom bisa menyuarakan keadilan bagi Rheza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/a7c31fb3499fe7304c8ca0dc029cb48e-20250831eng03.jpeg)
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Amikom Achmad Fauzi, yang juga hadir di rumah duka, mengungkapkan, pihaknya sangat prihatin dan sedih sekali dengan peristiwa ini. Kejadian ini semestinya tidak perlu terjadi.
Terkait kronologi kejadian, Fauzi mengatakan, pihaknya belum melakukan investigasi secara menyeluruh karena masih berfokus pada penanganan korban sejak dari rumah sakit hingga pemakaman. Namun, dia menyebut pihak kampus akan melakukan investigasi tersebut.
”Meskipun (peristiwa) itu juga sudah di luar pantauan dan kendali kami, ini adalah mahasiswa kami sehingga harus dilakukan investigasi,” ujar Fauzi.
Dia pun berharap pihak kepolisian bisa memberikan informasi yang lengkap kepada kampus tentang peristiwa tersebut. Kepolisian pun diharapkan berkoordinasi dengan kampus untuk mengusut peristiwa ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/63b7c2e5b29e4bdd38d69902ad7f5aaf-20250831eng02.jpeg)
Kompas telah berupaya meminta konfirmasi tentang peristiwa ini dari Kepala Bidang Humas Polda DIY Komisaris Besar Ihsan. Akan tetapi, hingga berita ini diturunkan pada Minggu malam, pesan yang dikirimkan belum direspons.
Pada Minggu sore, Ihsan merilis keterangan tertulis tentang situasi terkini Markas Polda (Mapolda) DIY pascapenyerangan oleh sekelompok massa. Aksi itu terjadi di depan Markas Polda DIY pada Sabtu malam hingga Minggu pagi.
Menurut Ihsan, aksi bermula pada Sabtu pukul 21.40 WIB saat lebih kurang 50 orang tidak dikenal mendatangi Markas Polda DIY. Orang-orang itu berteriak-teriak dan melakukan pelemparan ke petugas yang berjaga menggunakan batu, petasan, dan bom molotov sambil menarik kawat duri yang digunakan sebagai pagar sementara oleh Polda DIY.
Sekitar pukul 22.10 WIB, muncul juga warga dari sisi timur Mapolda DIY yang merasa terganggu dengan aksi kelompok massa yang melakukan tindakan anarkistis tersebut. Kedua kelompok massa itu pun saling melempar batu di depan Mapolda DIY.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/973f845fc17f748a12e7402899a799c2-20250830DRA5038.jpg)
Pada pukul 01.30 sampai pukul 06.00 WIB, kata Ihsan, petugas terus berusaha menghalau dan mengimbau, khususnya kepada kelompok yang terus melakukan penyerangan menggunakan petasan, molotov, batu, bahkan senjata tajam. Pada pukul 06.00 WIB, massa dapat dibubarkan oleh personel pengamanan dari Polri dan TNI.
Ihsan mengatakan, puluhan pelaku penyerangan diamankan, yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak yang masih berstatus pelajar SMP dan SMA/SMK. Beberapa di antaranya positif menggunakan narkoba.
Adapun barang bukti yang diamankan berupa 1 senjata tajam dan 2 molotov. Dari peristiwa tersebut, terdampak enam korban (5 dari kelompok penyerang dan 1 personel pengamanan) yang dirawat di RS Bhayangkara Polda DIY.
Penulis:
Mohamad Final Daeng, Haris FirdausEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari