Kembali Jadi Isu KTT ASEAN, Penipuan Daring Tetap Marak

Isu penipuan dan judi daring telah berulang kali dimasukkan dalam KTT ASEAN. Komplotan penipu terus beraksi.

26 Okt 2025 12:00 WIB · Internasional

AFP

Oleh Kris Mada

BANGKOK, MINGGU — Isu penipuan daring kembali jadi bahasan di rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Malaysia. Negara-negara lokasi pusat penipuan melancarkan pemberangusan besar-besaran di tengah sorotan global.

Rangkaian konferensi dimulai pada Minggu (26/10/2025). Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menyatakan, isu penipuan daring salah satu prioritas Thailand. ”Banyak warga asing lari ke Thailand beberapa waktu terakhir. Menunjukkan parahnya masalah ini. ASEAN harus memperlakukan isu ini tidak saja sebagai prioritas kawasan, tetapi juga internasional,” ujarnya sebagaimana dikutip Bangkok Post.

Sepanjang pekan ini saja, Thailand mendata 1.198 orang menyeberang dari Myawaddy, Myanmar, ke Maesot, Thailand. Orang-orang itu melarikan diri dari KK Park, salah satu pusat penipuan daring di Myawaddy.

Orang-orang yang lari antara lain diketahui warga Indonesia. Mayoritas yang lari diketahui warga India, China, dan Vietnam. Sisanya dari beberapa negara lain, termasuk Thailand.

Dilaporkan media Thailand, The Nation, militer Myanmar menyerbu KK Park pada Jumat malam sampai Sabtu dini hari. Sejumlah bangunan di KK Park diledakkan dan suaranya terdengar sampai beberapa kilometer dari perbatasan Thailand-Myanmar.

Yangon memberi tahu Bangkok soal rencana penyerbuan itu. Kecuali gelombang pelarian pekerja dari KK Park, tidak ada dampak ke Thailand akibat peledakan itu.

Alleged scam centre workers and victims rest during a crackdown operation by the Karen Border Guard Force (BGF) on illicit activity in Shwe Kokko in Myanmar's eastern Myawaddy township on February 18, 2025. Battered and bruised Chinese workers from online scam centres in Myanmar faced an anxious wait to be returned home, as Beijing and Thailand on February 19 finalised plans for their repatriation. (Photo by AFP) *** Local Caption *** Sejumlah warga China yang diduga merupakan pekerja sindikat penipuan daring (online scam) duduk di lantai sebuah bangunan yang menjadi pusat operasi kegiatan penipuan di Kota Shwe Kokko, Mywaddy, Myanmar, Selasa (18/2/2025), setelah lokasi itu digerebek Pasukan Penjaga Perbatasan Karen (BGF). Pemerintah Thailand menyebut warga China yang merupakan korban dan berjumlah ribuan orang, akan dipulangkan kembali ke negaranya melalui Kota Mae Sot, Thailand, secara bertahap.

Menteri Ekonomi Digital Thailand Chaichanok Chidchob mengatakan, aparat dari berbagai lembaga terkait terus berkoordinasi untuk mengatasi penipuan daring. Kepolisian Thailand mengintensifkan perburuan terhadap kasus-kasus penipuan.

Bangkok antara lain fokus memburu simpul-simpul pengiriman calon pekerja pusat penipuan daring. Thailand menjadi salah satu lokasi transit utama ke berbagai lokasi itu.

Sihasak mengatakan, Bangkok mengajukan diri sebagai koordinator kawasan untuk pemberantasan pusat penipuan daring. Thailand berharap, deklarasi pemimpin ASEAN membahas masalah penipuan daring.

Isu penipuan dan judi daring telah berulang kali dimasukkan dalam KTT ASEAN. Semasa Indonesia jadi ketua bergilir ASEAN pada 2023, isu itu jadi bahasan prioritas.

Namun, hingga beberapa tahun kemudian, penipuan daring tetap menjadi masalah di kawasan. Kamboja dan Myanmar menjadi tempat utama operasi penipuan itu. Sementara negara di sekitarnya menjadi tempat transit calon pekerja ke berbagai lokasi penipuan daring.

Bagi pemimpin oposisi Thailand, Natthaphong Ruengpanyawut, pemerintah cuma berbicara saja. Tidak ada tindakan benar-benar tegas untuk memberangus penipuan daring. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, menurut Natthaphong, bisa membuktikan keseriusan pemberantasan itu dengan bertindak nyata.

Ia meragukan keseriusan dan ketulusan pemerintah mengatasi masalah tersebut. ”Perdana Menteri perlu menunjukkan tindakan nyata dan berdampak,” kata Ketua Partai Rakyat (PP) itu.

Ia juga menyinggung, sejumlah aparat dan petinggi Thailand terkait sindikat penipuan daring. ”PM punya kewenangan bertindak, tidak perlu menunggu lagi,” katanya seperti dikutip Bangkok Post.

Para terduga korban penipuan menaiki perahu untuk menyeberangi sungai di perbatasan Myanmar-Thailand dan bertemu dengan tentara Angkatan Darat Thailand saat mereka dipulangkan dari Kyauk Khet, Myawaddy, di Negara Bagian Karen atau Kayin, Myanmar, pada 12 Februari 2025. Lebih dari 250 orang yang diselamatkan dari pusat penipuan daring di Myanmar.

Tindakan tegas

Korea Selatan bertindak tegas ke para pekerja penipuan daring. Seoul tidak lagi memperlakukan mereka sebagai korban. Pekan lalu, 64 orang yang dipulangkan dari tempat operasi penipuan itu telah ditahan aparat Korsel.

Sikap Korsel berbeda dari beberapa negara lain. Sejumlah negara membantu warganya pulang dari pusat penipuan daring dan orang-orang itu diperlakukan sebagai korban. Padahal, data menunjukkan banyak orang-orang itu telah berulang kali bolak-balik bekerja di tempat penipuan daring.

Sementara di Kamboja dilaporkan penangkapan empat orang asing di Siem Reap. Satuan tugas menyerbu rumah di Desa Sala Kanseng, Siem Reap, pada Jumat lalu. Mereka menangkap tiga pria China dan seorang perempuan Vietnam di sana.

Di lokasi ditemukan 23 ponsel, empat komputer, dan berbagai barang lain yang diduga dipakai untuk penipuan. Komplotan itu beroperasi sebagai ”penipu cinta”. Mereka berpura-pura tertarik dengan korban. Tujuannya, membujuk korban membeli uang kripto atau mengirim uang ke penipu.

Komisaris Kepolisian Metro Phnom Penh Letnan Jenderal Chuon Narin mengatakan, seluruh kepolisian di metro Phnom Penh telah diperintahkan mengencarkan pemberangusan sindikat penipuan daring. Kamboja disebut menjadi korban warga asing yang menjadikan negara itu sebagai basis operasi penipuan daring.

Aparat diminta siaga 24 jam untuk menanggapi setiap laporan dan petunjuk soal penipuan daring. Nama baik Kamboja harus dipulihkan dalam kasus penipuan daring. ”Kriminal dari negara lain tidak boleh menjadikan Kamboja ladang uang,” ujarnya sebagaimana dikutip Khmer Times. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan