Tim bulu tangkis Indonesia punya momen baik di Denmark. Saat kembali ke sana, mereka membawa kenangan juara Piala Thomas 2020.
21 Apr 2026 07:57 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
Denmark menjadi tuan rumah kejuaraan bulu tangkis beregu putra dan putri Piala Thomas dan Uber 2026, setelah menggelar ajang yang sama ketika Indonesia menjadi juara Piala Thomas 2020. Indonesia kembali ke negara Skandinavia itu, meski ke kota berbeda, dengan harapan meraih hasil serupa.
Piala Thomas dan Uber 2026 diselenggarakan di Horsens, kota di Semenanjung Jutland yang berada di Eropa bagian utara. Di semenanjung ini pula, Aarhus berada, kota yang menggelar Piala Thomas dan Uber 2020.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/a4c83f8b4458dffa90bc379da6c09927-20260415_ARS_Tim_Thomas_mumed.png)
Sebanyak 16 tim putra bersaing untuk memperebutkan Piala Thomas dalam kejuaraan edisi ke-34 pada tahun ini. Adapun 16 tim putri berebut Piala Uber dalam edisi ke-31.
Semua peserta mengawali persaingan dalam fase penyisihan yang dibagi dalam empat grup, baik di tim putra maupun putri. Dengan format round robin, mereka harus menempati posisi dua teratas di grup masing-masing agar bisa melanjutkan perjalanan ke perempat final.
China datang sebagai juara bertahan putra dan putri, sedangkan Indonesia menjadi tim yang dikalahkan China di final, dua tahun lalu. Tim putra Indonesia kalah 1-3, sedangkan tim putri kalah 0-3, di Chengdu, China.
Tim Indonesia berada di Horsens sejak Jumat (17/4/2026) untuk menjalani aklimatisasi dan persiapan akhir lainnya. Skuad putra akan tampil sejak hari pertama turnamen untuk melawan Aljazair pada penyisihan Grup D, sedangkan tim putri mengawali penampilan melawan Kanada pada keesokan harinya.
Keberadaan Indonesia di Denmark dalam kejuaraan beregu selevel Kejuaraan Dunia ini mengembalikan memori pada momen Piala Thomas dan Uber 2020. Kejuaraan yang penyelenggaraannya mundur setahun karena pandemi Covid-19 itu memang berlangsung di kota berbeda. Namun, tak berlebihan kiranya jika menyebut Denmark sebagai tempat penuh kenangan untuk bulu tangkis Indonesia.
Lima tahun lalu, Indonesia menjuarai Piala Thomas setelah mengalahkan China 3-0 di final. Gelar itu menjadi yang pertama bagi ”Merah Putih” dalam rentang 19 tahun setelah terakhir kali juara di Guangzhou, China, pada 2002.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/10/18/20211017_1754_ThomasUberCupFinals2020_BPYN0735_1634550783.jpg)
Setelah 2002, Indonesia sebenarnya punya materi pemain putra yang mumpuni dengan keberadaan Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto, dan Candra Wijaya/Sigit Budiarto. Namun, persaingan bulu tangkis putra yang semakin merata membuat Indonesia kalah dari tim berbeda pada rentang 2004 hingga 2018, kebanyakan di semifinal. Di sisi lain, China terlalu kuat bagi semua negara hingga menjuarai Piala Thomas lima kali beruntun, pada 2004, 2006, 2008, 2010, dan 2012.
Saat kejuaraan di gelar di Aarhus—Piala Thomas untuk pertama kalinya diselenggarakan di luar Asia setelah London 1982—barulah Indonesia berdiri di podium tertinggi. Setelah memenangi semua pertandingan di fase grup, skuad Indonesia tampil solid pada fase gugur dengan mengalahkan Malaysia (3-0), Denmark (3-1), dan China (3-0) di perempat final hingga final.
Saat itu, Indonesia diperkuat Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan Fajar Alfian yang kembali memperkuat ”Merah Putih” di Horsens. Hendra Setiawan juga kembali, tetapi kali ini dengan peran baru, yaitu sebagai pelatih. Atlet lain yang turut merasakan mengangkat Piala Thomas di podium di antaranya Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Muhammad Rian Ardianto, dan Shesar Hiren Rhustavito.
Dalam dua penyelenggaraan berikutnya, di Bangkok, Thailand, pada 2022 dan Chengdu 2024, hasil yang didapat tim Piala Thomas sebenarnya tak terlalu buruk. Jonatan dan kawan-kawan menembus final meski kalah dari India pada 2022, lalu China, dua tahun kemudian. Dengan demikian, Indonesia pun selalu tampil di final Piala Thomas dalam tiga penyelenggaraan terakhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/428e66ee7888632069946a92576f7be0-Piala_Thomas_Uber_2026_Bagian_1.jpg)
Dengan catatan tersebut, ditambah dengan kenangan Piala Thomas 2020, penggemar bulu tangkis di Indonesia boleh berharap melihat hasil baik di Horsens. Apalagi, persaingan tim putra lebih merata dibandingkan kompetisi memperebutkan Piala Uber. Posisi teratas tim putri berpeluang besar menjadi milik China, Korea Selatan, atau Jepang.
Tim putra Korea Selatan punya Kim Won-ho/Seo Seung-jae yang mendominasi persaingan ganda putra dan Kang Min-hyuk/Ki Dong-ju sebagai ganda kedua. Akan tetapi, Korea Selatan mempunyai ”lubang” di sektor tunggal.
Kekuatan Malaysia serupa dengan Korea Selatan yang mengandalkan pemain-pemain ganda. Adapun China justru mempunyai celah di ganda putra.
”Di Piala Thomas, tidak ada tim yang mempunyai kekuatan merata di lima partai. Ada celah pada setiap tim. Ini membuat persaingan lebih merata, semua memiliki peluang, termasuk Indonesia,” kata mantan atlet dan pelatih ganda putra, Christian Hadinata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/14/4ce144bc882fa6e46041f55af2a44dea-WhatsApp_Image_2026_03_14_at_02.55.27.jpeg)
Christian bahkan menilai Indonesia mempunyai kekuatan yang memungkinkan untuk menjadi juara. Sektor tunggal mempunyai dua pemain berpengalaman, Jonatan dan Anthony, yang didampingi Alwi Farhan dan Mohammad Zaki Ubaidillah. Posisi Anthony sebagai tunggal keempat juga bisa menjadi keuntungan bagi Indonesia.
Alwi memperkuat Indonesia di Piala Thomas 2024 meski tidak diturunkan dalam setiap pertandingan. Atlet berusia 20 tahun itu mendapat tambahan pengalaman dalam kejuaraan beregu dari Piala Sudirman 2025. Dia mengalahkan Anders Antonsen saat Indonesia menang 4-1 atas Denmark, lalu menyumbangkan kemenangan ketika melawan Korea Selatan di semifinal meski Indonesia kalah 2-3.
Di luar China, Denmark, Jepang, Indonesia, dan Malaysia yang bergantian mengisi posisi empat besar, Taiwan bisa menjadi ”kuda hitam” di Piala Thomas. Taiwan mengandalkan Chou Tien Chen dan Lin Chun Yi di tunggal. Lin dalam performa terbaik pada tahun ini dengan menjuarai India Terbuka dan All England. Ganda putra Taiwan, meski tak ada yang menempati peringkat sepuluh besar dunia, selalu menyulitkan lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/16/470bfb7e159be934a59df4e5319abc24-WhatsApp_Image_2026_01_16_at_17.56.37.jpeg)
Perancis menjadi tim lain yang bisa mengejutkan. Negara ini menghentikan dominasi Denmark sebagai juara beregu putra Eropa sembilan kali beruntun pada 2006-2024. Perancis mengalahkan Denmark dalam final Kejuaraan Eropa Beregu 2026 di Istanbul, Turki, Februari.
Dalam Kejuaraan Eropa kategori perorangan di Spanyol, 6-12 April, Perancis mengukuhkan kekuatan di tunggal putra ketika Christo Popov mengalahkan Antonsen di final. Ganda putra, Christo/Toma Junior Popov, juga tampil di final meski kalah dari Ben Lane/Sean Vendy (Inggris).
Mantan tunggal putra Denmark, Hans-Kristian Vittinghus, mengakui bahwa bulu tangkis Denmark kalah dari Perancis pada saat ini. ”Kami tidak sekuat dalam 10 tahun terakhir dan itu tidak bisa disembunyikan. Kami (tunggal putra Denmark) dalam masa peralihan generasi,” kata Vittinghus dalam laman resmi BWF.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/e676abd97d1316df0816b66597c2a01c-WhatsApp_Image_2026_04_19_at_18.48.40.jpeg)
Ada faktor yang sebenarnya bisa membuat penggemar bulu tangkis Indonesia khawatir, yaitu hasil yang tidak begitu baik dari turnamen BWF World Tour pada Januari-April. Dari empat turnamen Super 500, 750, dan 1000, Indonesia hanya mempunyai satu gelar juara, dari Alwi di Indonesia Masters Super 500. Indonesia kalah bersaing dengan China, Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia.
Meski demikian, ada hal lain yang bisa menjadi modal skuad Merah Putih di Horsens, yaitu kekompakan. ”Itu menjadi kelebihan tim Indonesia. Saya selalu merinding kalau mengingat keikutsertaan dan kekompakan Indonesia dalam kejuaraan beregu,” kata Indra.
Saking mendalamnya kesan dalam ajang beregu, Indra hampir menangis ketika bercerita tentang pengalamannya menjadi bagian dari tim Indonesia dalam kejuaraan beregu, baik sebagai atlet maupun pelatih. ”Kebersamaan menjadi faktor sangat penting dalam kejuaraan beregu meski bukan berarti mengeliminasi faktor lain,” kata Indra yang berada dalam tim Indonesia saat menjuarai Piala Thomas 1998.
Faktor kekompakan itu pula yang berperan besar mengantarkan tim putri Indonesia ke final Piala Uber 2024, final pertama setelah 2008. Kekuatan Indonesia berada di bawah empat tim yang menjadi unggulan, yaitu China, Korea Selatan, Jepang, dan Thailand, tetapi Gregoria Mariska Tunjung dan kawan-kawan mengubah peta persaingan dengan lolos ke final.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/04/a84de2db-432e-4f64-9ac9-064d1e136f88_jpg.jpg)
Putri-putri Indonesia menang atas Thailand 3-0 di perempat final, lalu menyingkirkan Korea Selatan di semifinal dengan skor 3-2. Kekuatan China sulit dibendung hingga Indonesia kalah 0-3 di final, tetapi perjalanan tersebut menghasilkan banyak catatan positif.
Indonesia menyingkirkan dua tim yang lebih kuat, Thailand dan Korea Selatan, berkat semangat juang tinggi atlet-atletnya. Mereka juga kompak saling mendukung, apa pun kondisinya.
Pemain muda, yaitu Ester Nurumi Tri Wardoyo dan Komang Ayu Cahya Dewi, turut berperan besar membawa Indonesia ke laga puncak. Ester membuat Indonesia menang 3-0 setelah mengalahkan pemain senior Thailand, Supanida Katethong, 19-21, 21-19, 21-19.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/3858d169b026441bd903a0e04584fc52-20260415_ARS_Tim_Uber_mumed.png)
Saat melawan Korea Selatan, tiga kemenangan didapat tiga pemain tunggal, yaitu Gregoria, Ester, dan Komang. Dalam kedudukan 2-2, Komang mengalahkan Kim Min-sun 17-21, 21-16, 21-19.
Perjalanan itu menjadi motivasi bagi Putri Kusuma Wardani yang menjadi kapten tim Piala Uber Indonesia pada 2026. Apalagi, Putri tak dipilih menjadi anggota tim 2024 karena berpenampilan buruk sebelum Piala Uber.
”Dua tahun lalu saja bisa ke final, sekarang harusnya bisa, tetapi fokusnya satu-satu dulu. Ada penyisihan grup yang harus dilewati. Taiwan, Kanada, dan Australia adalah tim bagus,” kata Putri, menyebut tiga tim yang bersaing dengan Indonesia di Grup C Piala Uber.
Kebersamaan memang menjadi faktor kunci dalam ajang beregu, tetapi kemampuan atlet tetap tak bisa dikesampingkan. Kekuatan mental menjadi faktor penting lain karena tekanan dalam kejuaraan beregu akan terasa lebih besar dibandingkan dalam turnamen individu.
”Daya juangnya harus lebih besar karena hasil sendiri akan berpengaruh pada tim,” kata Hendra yang delapan kali membela Indonesia di Piala Thomas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/90973cf69626dc73bfe24eb64e5246fd-WhatsApp_Image_2026_04_19_at_18.48.56.jpeg)
Anthony juga menyampaikan pendapat yang sama. Menjadi salah satu atlet yang paling berpengalaman di tim Piala Thomas 2026, Anthony mengingatkan besarnya peran setiap atlet. Anthony dan Jonatan memperkuat Indonesia untuk keenam kali beruntun sejak Piala Thomas dan Uber 2016.
”Mau jadi tunggal pertama, kedua, atau ketiga, semua punya peran penting. Pola pikir yang juga penting adalah fokus pada tanggung jawab masing-masing, tidak usah berpikir terlalu jauh tentang hasil orang lain karena setiap orang punya tanggung jawab yang sama,” kata Anthony.
Formula tampil di kejuaraan beregu sudah dikuasai, pengalaman atlet senior dan semangat atlet-atlet muda menjadi modal lainnya. Kekompakan juga selalu ada di tim Indonesia. Kini, saatnya berjuang untuk mengulang memori Piala Thomas dan Uber 2020.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra