Thailand menuduh Kamboja melanggar gencatan senjata. Kamboja menyanggah. Para atase pertahanan mengunjungi daerah sengketa perbatasan Thailand-Kamboja.
30 Jul 2025 16:29 WIB · Internasional
SHANGHAI, RABU — Pemerintah Thailand dan Kamboja kembali mengatakan untuk siap melanjutkan perundingan dan menciptakan perdamaian. Pernyataan itu dikeluarkan seusai pertemuan di Shanghai, China, Rabu (30/7/2025). Sebelumnya, pada Rabu pagi, Pemerintah Thailand mengecam Kamboja yang dituduh menyerang sejumlah lokasi di perbatasan kedua negara sepanjang Selasa malam dan Rabu pagi.
Pertemuan di Shanghai dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri China Sun Weidong selaku mediator dan tuan rumah. Delegasi Thailand dan Kamboja terlihat akrab dalam sesi foto bersama dengan Wamenlu Sun.
Pihak China mengatakan, pertemuan tersebut adalah upaya diplomatik Beijing dan China mengupayakan peran konstruktif dalam membantu menyelesaikan konflik perbatasan Thailand-Kamboja. Saat ini China memiliki sejumlah proyek infrastruktur besar di Thailand dan Kamboja, seperti kereta api cepat, jaringan kerta api Asia, pabrik mobil listrik di Thailand, dan kanal Techo-Funan di Kamboja.
Seiring pertemuan di Shanghai, juru bicara Pemerintah Thailand, Jirayu Huangsap, mengumumkan, lembaga Ad Hoc Perbatasan Thailand-Kamboja mengadakan pertemuan darurat, Rabu, membahas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Kamboja.
Akibat kontak senjata di perbatasan, pertemuan segera digelar Rabu pagi di Badan Keamanan Nasional (NSC) di Bangkok, yang membahas hasil pertemuan para komandan pasukan di perbatasan dan menentukan sikap resmi Thailand terhadap pelanggaran yang berulang.
Pada Rabu pagi, secara umum situasi perbatasan di wilayah Thailand di Provinsi Udon Ratchathani, Surin, dan Sisaket terlihat aman. Kondisi serupa terpantau di wilayah Kamboja di Provinsi Oddar Meancheay dan Provinsi Preah Vihear.
Sebelumnya, Thailand telah melaporkan pelanggaran gencatan senjata oleh Kamboja ke Malaysia, Amerika Serikat, dan China. Reuters melaporkan, Menteri Pertahanan Kamboja Tea Seiha menyanggah tudingan bahwa Kamboja melanggar gencatan senjata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/30/7bb7dbfee75feb56accaaf3ed72deef5-wires_photo_2025_07_30T154923.923.jpg)
Jirayu yang juga menjadi anggota Badan Ad Hoc Pusat Perbatasan Thailand-Kamboja mengumumkan pentingnya mengadakan pertemuan untuk menentukan sikap diplomatik dan militer menyusul pelanggaran gencatan senjata semalam.
Dalam kesempatan yang sama, Jirayu membantah informasi adanya serangan drone Kamboja ke Pangkalan Udara Wing Udara 21 di Ubon Racthathani. Ubon Ratchathani dan Nakon Ratchashima (Korat) dan U-Tapao di Thailand adalah lokasi pangkalan udara penting yang digunakan Amerika Serikat semasa Perang Vietnam untuk mengebom Vietnam, Laos, dan Kamboja (1960-1975).
Wakil Juru Bicara Angkatan Darat Thailand Kolonel Ritcha Suksuwanon mengatakan, pada Rabu pagi, unit militer Thailand mengalami provokasi dari militer Kamboja pada pukul 04.15 dan 05.25 (WIB). Keterangan itu disampaikan menyusul taklimat Juru Bicara Angkatan Bersenjata Thailand Mayor Jenderal Winthai Suvaree yang mengonfirmasi adanya dua kali kontak senjata pada Selasa (29/7/2025) malam.
Pada pukul 21.30 semalam, pasukan Kamboja disebut melepaskan tembakan dengan senapan ke posisi pos militer Thailand di dekat Chong Arn Ma. Militer Thailand membalas sehingga terjadi 30 menit saling tembak di sana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/30/4154722e94846855438aef9e290e6b3f-Jubir_Kemhan_Kamboja_Letjen_Maly_Socheata_2025.jpg)
Sekitar setengah jam kemudian pada pukul 22.00 WIB, militer Kamboja melancarkan serangan lebih berat ke posisi Thailand di Phu Makua dengan rentetan tembakan dan serangan mortar. Akhirnya terjadi saling tembak nyaris sepanjang malam di lokasi tersebut.
”Ini membuktikan tidak adanya komitmen Kamboja untuk mematuhi gencatan senjata yang disepakati Pemerintah Thailand dan Kamboja. Thailand sudah mematuhi aturan, tetapi Kamboja terus melanggar. Tindakan tersebut tidak dapat diterima,” kata Kolonel Ritcha.
Dia menambahkan, Angkatan Bersenjata Thailand secara resmi mengecam provokasi tersebut. Pelanggaran itu akan melemahkan posisi Kamboja di forum internasional.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Letnan Jenderal Maly Socheata menegaskan komitmen Kamboja untuk menjaga hubungan baik dengan negara tetangga berdasarkan saling menghormati dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam laman Khmer Times, Rabu (30/7/2025), Letjen Maly dalam jumpa pers pagi di ibu kota Phnom Penh mengatakan, Kamboja akan menjaga kelangsungan gencatan senjata Kamboja–Thailand. Kerajaan Kamboja akan mematuhi aturan internasional seperti prinsip koeksistensi secara damai dan kerja sama multilateral.
Dia menambahkan, Kementerian Pertahanan Kamboja mengadakan kunjungan lapangan ke daerah sengketa perbatasan. Mereka mengundang para diplomat dan atase pertahanan negara sahabat untuk melihat langsung situasi lapangan serta memantau pelaksanaan gencatan senjata.
”Langkah selanjutnya Kamboja bekerja sama dengan seluruh pihak terkait untuk membuat mekanisme pemantuan guna melakukan verifikasi secara ketat dan berkepanjangan untuk menjaga pelaksanaan gencatan senjata,” kata Letjen Maly.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/30/4432ed3a692d1feaf1bc500c2e0ae9a9-Cambodia_Thailand.jpg)
Dia menambahkan, Kamboja akan menjadi tuan rumah Komite Perbatasan (General Border Committee) Thailand–Kamboja pada 4 Agustus 2025 sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dicapai dalam pertemuan di Putera Jaya, Malaysia, 28 Juli 2025.
Menurut Socheata, dalam pertemuan terpisah tanggal 28 Juli lalu, para petinggi militer Kamboja Jenderal Vong Pisen, Panglima Angkatan Bersenjata Kamboja, dan Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia Jenderal Datuk Haji Mohammad Nizam bin Haji Jaffar akan mengunjungi perbatasan Thailand–Kamboja.
Di daerah tujuan, mereka akan melakukan peninjauan bersama para pejabat militer Thailand, yakni Panglima Daerah Militer I dan Panglima Daerah Militer II, serta di pihak Kamboja hadir Pangilma Daerah Militer 4 dan Panglima Daerah Militer 5.
Panglima Angkatan Bersenjata Malaysia mengumumkan pembentukan tim pemantau yang dipimpin Atase Pertahanan Malaysia di Kamboja dan Atase Pertahanan Malaysia di Thailand. Dia yakin perdamaian berkelanjutan bisa dilakukan antara Kamboja dan Thailand dengan didasari saling percaya dan keterbukaan para pihak. (Associated Press/Reuters)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Retma Wati