Pasar Takjil Benhil telah berkembang dari sekadar tradisi menuju budaya pop sebagai ekspresi sukacita antarsesama saat bulan puasa.
20 Feb 2026 04:30 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Matahari beranjak condong ke barat seiring jarum jam melewati pukul tiga, menandai waktu sore tiba. Kamis (19/2/2026) itu merupakan hari pertama puasa bulan Ramadhan 1447 Hijriah.
Seiring mendekati waktu berbuka, kerumunan orang terlihat mendekat ke sebuah tenda yang berisi para pedagang di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta. Pedagang-pedagang ini menjajakan aneka jenis makanan berbuka puasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/b4434ca7634d7b389d59de2d95dc7036-20260219ronA.jpg)
Inilah sekilas pemandangan lapak musiman yang dinamai Pasar Takjil Benhil. Benhil sendiri merupakan akronim nama kawasan ini, yaitu Bendungan Hilir.
Pasar Takjil Benhil hadir setiap tahun saat bulan puasa tiba. Kehadiran pasar ini lekat sebagai tempat membeli takjil atau menu berbuka puasa andalan warga.
Tak hanya warga setempat, para pekerja perkantoran di kawasan Sudirman juga mengandalkan tempat ini sebagai tempat berbelanja makanan berbuka puasa.
Pasar takjil ini mulai muncul di medio 1985. Menu yang menjadi tren hidangan berbuka dari zaman ke zaman tersedia di tempat ini. Mulai makanan ringan, minuman segar, hingga makanan berat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/5e3c603dac7d55e2f4d2beb6fe5600eb-RON04745_01.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/be9a8dddad589a3991a6702193cef147-RON04933_01.jpeg)
Selain menjadi tempat yang sangat membantu memudahkan membeli takjil, adanya pasar takjil ini juga membawa berkah tersendiri bagi para pedagang. Salah satu pedagang, Sri Nuraini (59), mengaku cukup merasakan berkah dari berjualan di tempat tersebut.
”Keuntungan bersih sebulan berdagang takjil disini minimal bisa sampai Rp 30 juta,” ujar Sri Nuraini, yang telah turut berjualan takjil sejak pertama pasar takjil ini ada. Beberapa pedagang lain bahkan minimal bisa mendapat omzet penjualan hingga Rp 9 juta per hari. Angka omzet jualan ini cukup fantastis untuk ukuran lapak musiman pedagang skala mikro dengan komoditas makanan rakyat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/35a6466f6ca4ccadfde95bfd7368a71e-20260219ronB.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/7b51ce1ca4851b7e490999bd8da49320-20260219ronD.jpg)
Selain menjadi pusat pembelian takjil, Pasar Takjil Benhil juga menghadirkan sisi lain, yaitu wajah kerukunan umat beragama. Pasalnya, yang merayakan hajatan tahunan ini bukan hanya umat Islam, melainkan juga umat beragama lain. Konten-konten tentang nge-war takjil oleh umat Islam dan agama lain ramai dibagikan di media sosial.
”Nge-war takjil bukanlah peperangan dalam arti kekerasan yang sesungguhnya, melainkan istilah ini digunakan sebagai kiasan untuk berlomba-lomba berburu takjil yang menyenangkan. Fenomena nge-war takjil dinikmati dengan gembira dan sukacita antarsesama. Rona wajah mereka berbinar-binar dengan senyum yang cukup lebar tatkala berswafoto dengan bungkusan makanan yang diburunya saat menggunggah di media sosial.
Pada akhirnya, Pasar Takjil Benhil bukan hanya sekadar tempat untuk memenuhi kebutuhan akan kudapan berbuka puasa. Pasar Takjil Benhil telah bertransformasi menjadi penggalan tradisi dan budaya pop di tengah para pekerja lintas agama ketika Ramadhan tiba.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/178b253fe29fac6670f648911c3f89c3-RON04752_01.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/19/b3ec96d741b3b64892365e8ddf192afb-RON05003_01.jpeg)
Penulis:
Rony Ariyanto NugrohoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra