Bursa transfer pemain Januari yang biasanya sepi kali ini menggeliat. Klub-klub yang sedang di ujung tanduk rela menggelontorkan banyak uang.
25 Jan 2025 14:34 WIB · Olahraga
Citra sepi nan landai telanjur melekat pada bursa transfer Januari. Momentumnya yang muncul di saat liga sedang berjalan membuat pasar transfer pemain Januari tidak seramai dibandingkan jelang dimulainya musim baru. Namun, Manchester City mengembalikan esensi bursa transfer Januari sebagai jalan keluar darurat bagi klub-klub terancam.
Setidaknya, ada sejumlah penyebab mengapa klub-klub Eropa jarang bersedia mengeluarkan uang banyak pada bursa transfer musim dingin. Penyebab paling utama tentu saja karena seluruh sumber daya serta kebutuhan tim sudah mereka penuhi pada bursa transfer musim panas atau jelang dimulainya musim baru.
Dengan begitu, sejak awal bursa transfer musim dingin atau Januari memang disediakan bagi klub-klub yang hendak melakukan penyesuaian di tengah jalan. Risikonya akan sangat besar bagi klub bila gegabah membongkar tim dengan mendatangkan pemain baru pada pertengahan liga.
Selain membebani neraca keuangan klub yang berujung pada sanksi, kedatangan pemain baru belum tentu sesuai dengan kebutuhan. Maka dari itu, kebanyakan klub akan sangat berhati-hati sebelum memutuskan merekrut pemain pada bursa transfer Januari.
Pengecualian berlaku bagi klub-klub yang sedang dalam posisi bahaya. Bagi mereka, bursa transfer Januari yang semula tidak begitu penting berubah menjadi jalan keluar darurat. Hal ini dialami oleh Manchester City yang telah menghabiskan setidaknya 128 juta poundsterling (sekitar Rp 2,5 triliun) untuk mendatangkan tiga amunisi baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/b305ea41015e0a418bbb0a51c108e544-wires_photo.jpg)
Badai cedera membuat City membutuhkan tambahan pemain baru, khususnya bek. Mereka menggaet Vitor Reis dan Abdukodir Khusanov untuk mengatasi lubang di lini belakang. Sedangkan untuk memaksimalkan lini depan, tim besutan manajer Pep Guardiola itu mendatangkan Omar Marmoush.
Manuver City ini menjadi menarik dicermati lantaran mereka jarang sangat aktif pada bursa transfer Januari. Jumlah uang yang mereka gelontorkan untuk menggaet tiga pemain baru itu bahkan sudah melampaui total pengeluaran seluruh klub Liga Inggris pada bursa transfer Januari musim lalu sebesar 100 juta poundsterling (Rp 2 triliun).
Langkah agresif ini hanya bisa dilakukan oleh klub yang sedang terancam. City memang sedang menjalani musim terburuknya bersama Guardiola. Mereka di ambang kegagalan melaju ke fase gugur Liga Champions Eropa. Pada kancah domestik, kans City mempertahankan gelar juara Liga Inggris sudah tertutup. Target paling realistis bagi City kini finis di peringkat empat besar pada akhir musim.
“Kami ingin menambah pemain untuk situasi yang kami miliki karena para pemain sering mengalami cedera,” ujar Guardiola pada awal Januari lalu, dinukil dari laman City.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/1a9704fcdd4b4792421aaca744dc358b-wires_photo_72_.jpg)
Selain City, klub lain yang juga berinvestasi besar pada bursa transfer Januari adalah Ipswich Town. Mereka mendatangkan penyerang sayap kiri Jaden Philogene dari Aston Villa untuk memperkuat lini depan. Langkah merekrut pemain baru ini diambil Ipswich yang membutuhkan suntikan tenaga baru untuk lolos dari zona degradasi.
Pada masa lalu, bursa transfer Januari juga tidak begitu dilirik oleh kebanyakan manajer top sepak bola. Dua diantaranya adalah mantan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, dan mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger. Ferguson tidak pernah memanfaatkan bursa transfer Januari, adapun Wenger bahkan menyerukan agar bursa transfer Januari dibatalkan pada musim terakhirnya menangani Arsenal.
“Situasi yang ideal adalah memiliki periode transfer yang ditutup 48 jam sebelum pertandingan pertama liga dan menutupnya sepenuhnya hingga setelah musim,” kata Wenger kepada wartawan pada 2017.
Bukan tanpa alasan Wenger begitu kontra dengan bursa transfer Januari. Manajer berjuluk “The Professor” itu menilai bursa transfer Januari hanya mengganggu fokus seorang pesepak bola. Selama masa bursa transfer itu, sejumlah pesepak bola lebih memilih mempertimbangkan kelanjutan kariernya dibandingkan konsentrasi meningkatkan performa bersama tim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/30/e76dd1f4-abe7-436c-b40f-8af31f8f11d1_jpg.jpg)
“Para pemain yang tidak bermain atau pemain yang direkrut pada bulan Oktober sudah mulai berpikir lagi, ‘Ke mana saya akan pergi pada bulan Januari?’. Itu bukan cara yang tepat untuk bergabung dengan klub sepak bola,” kata Wenger dikutip dari beIN Sports.
Dengan kata lain, Wenger hendak mengatakan bahwa dengan adanya satu jendela transfer tahunan di akhir musim itu akan memberi jaminan terhadap fokus seorang pesepak bola. Selain itu, ada aspek kepatutan atau kesantunan olahraga yang akan bisa dipenuhi.
Betapapun tidak setujunya Wenger terhadap bursa transfer Januari, momentum ini masih dipertahankan. Bagi klub-klub yang sedang terancam, bursa transfer Januari sudah seperti juru selamat yang memberikan kesempatan untuk berbenah. Apa yang dilakukan City kali ini tidak lain seperti mengingatkan publik akan esensi lama dari bursa transfer Januari. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase