SANTA CLARA, SENIN — Riyad Mahrez sudah di ujung karier sepak bola profesionalnya, tetapi penyerang sayap berusia 35 tahun itu masih brilian. Dia menyuntikkan dinamika permainan, mengalirkan bola lebih cepat untuk menginspirasi kebangkitan Aljazair saat melawan Jordania pada laga kedua Grup J Piala Dunia 2026 di Stadion San Francisco Bay Area, Selasa (23/6/2026) siang WIB. Aljazair akan bertarung dengan Austria, rival yang berada di pusaran skandal ”Aib Gijon” pada Piala Dunia 1982, Minggu (28/6/2026) pagi WIB, di Kansas City.
Mahrez, yang disimpan saat Aljazair melawan Argentina dalam laga pertama Grup J, tampil untuk pertama kali di Piala Dunia 2026 saat melawan Jordania. Dia menginspirasi kebangkitan Aljazair pada babak kedua, setelah tertinggal 0-1 berkat gol Nizar Alrashdan pada menit ke-36.
Aljazair menemukan ritme permainan mereka pada babak kedua di mana Mahrez mulai menunjukkan kilatan kecemerlangan masa jayanya. Mantan penyerang Manchester City itu menciptakan tiga peluang gol dan melepaskan enam umpan silang.

Saya tidak tahu apakah kami menunjukkan wajah asli kami, tetapi kami bermain lebih baik daripada saat melawan Argentina.
Mahrez juga memiliki sejumlah peluang emas, tetapi gagal dia selesaikan. Dia menerima umpan lambung brilian dari Hicham Boudaoui, tetapi kehilangan bola dari kakinya. Dia juga menerima umpan panjang lainnya dari Boudaoui dan berhadapan satu lawan satu dengan Yazeed Abulaila, tetapi kiper Jordania itu berhasil menepis tendangan lobnya.
Intensitas serangan Aljazair lebih agresif setelah pelatih Vladimir Petkovic memasukkan Nabil Bentaleb dan Nadhir Benbouali di awal babak kedua. Benboulai menjadi pemecah kebuntuan dengan mencetak gol sundulan pada menit ke-69 memanfaatkan tendangan sudut Mahrez.
Tiga belas menit kemudian, Aljazair unggul 2-1 melalui sepakan Amine Gouiri. Gol kedua Aljazair ini juga berawal dari situasi bola mati, di mana Anis Hadj Moussa melepaskan tendangan sudut yang disambut Gouiri dan mengenai badan kiper Jordania sebelum masuk gawang.
”Saya tidak tahu apakah kami menunjukkan wajah asli kami, tetapi kami bermain lebih baik daripada saat melawan Argentina,” kata Gouiri.
”Kami kebobolan satu gol, tetapi kami memiliki ketahanan mental dan kami secara bertahap semakin kuat, dan pertandingan ini akan sangat bermanfaat bagi kami,” tegas Gouiri.
Kemenangan ini membuat Aljazair menyamai poin Austria dengan tiga poin di Grup J. Namun, untuk lolos langsung ke babak 32 besar, Aljazair harus menang atas Austria dalam laga ketiga Grup J pada Minggu (28/6/2026). Kedua tim itu berebut posisi kedua grup karena Argentina sudah pasti lolos ke babak 32 besar sebagai juara grup setelah menang 2-0 atas Austria.
Sementara bagi debutan Piala Dunia, Jordania, kekalahan ini menutup peluang mereka melangkah lebih jauh. Mereka akan pulang setelah menjalani laga ketiga melawan Argentina di Dallas. Di akhir laga ini, kiper Jordania Yazeed Abulaila menangis.
”Gol-gol di mana kami kebobolan sebenarnya bukan karena taktik atau hal semacam itu. Kami mengendalikan permainan, tetapi kami melewatkan peluang kami. Sebagai pemain, kami harus melihat detailnya dan bertanggung jawab,” ujar Abulaila.
”Kami menyalahkan diri sendiri dan meminta maaf kepada para penggemar kami,” pungkas kiper berusia 33 tahun itu.
Aib Gijon
Kemenangan Aljazair atas Jordania membuka peluang Mahrez dan kawan-kawan lolos ke babak 32 besar sebagai peringkat kedua grup. Namun, mereka harus mengalahkan Austria yang kini di posisi kedua berbekal keunggulan selisih gol nol, sedangkan Aljazair minus dua. Kedua tim sama-sama mengemas tiga poin.
Dengan posisi seperti itu, laga ketiga akan sangat krusial bagi kedua tim, dengan permutasi sebagai berikut:
- Jika Aljazair dan Austria imbang, kedua tim akan finis dengan empat poin. Austria akan mengamankan posisi kedua Grup J, dan Aljazair melaju ke babak 32 besar sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
- Jika Austria menang, Austria finis di posisi kedua Grup J dengan enam poin. Aljazair dengan tiga poin, akan bergantung pada hasil grup lain untuk lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
- Jika Aljazair menang, Aljazair akan menempati posisi kedua Grup J dengan enam poin, sedangkan Austria dengan tiga poin akan berharap hasil yang menguntungkan di grup lain untuk lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Dengan permuatasi seperti itu, kemenangan tetap menjadi target utama bagi kedua tim dalam laga terakhir. Mereka berpotensi menghadirkan laga panas, juga karena sejarah masa lalu yang muram, yang dikenal dengan ”Aib Gijon” pada Piala Dunia 1982. Skandal itu melibatkan Austria dan Jerman Barat yang dituding bermain mata sehingga Aljazair tidak lolos dari fase grup.
Laga terakhir Grup 2 Piala Dunia 1982 antara Jerman Barat dan Austria berlangsung di Stadion El Molinon, Gijon, Spanyol, sehari setelah Aljazair menjalani laga terakhir mereka, menang 3-2 atas Chile. Dengan hasil itu, jika Jerman Barat menang dengan selisih gol satu atau dua atas Austria, kedua tim akan lolos, dan Aljazair tersingkir.
Pada 25 Juni 1982, di stadion El Molinón di Gijón, Spanyol, Jerman Barat dan Austria berhadapan dalam pertandingan terakhir Grup 2 mereka. Karena Aljazair telah memainkan pertandingan terakhir mereka sehari sebelumnya, penghitungan matematis yang tepat diketahui: kemenangan Jerman Barat dengan selisih tepat satu atau dua gol akan menjamin bahwa Jerman Barat dan Austria lolos ke babak selanjutnya, dan Aljazair akan tereliminasi berdasarkan selisih gol.
Jerman Barat mengawali laga dengan agresif dan unggul 1-0 berkat gol Horst Hrubesch di menit ke-10. Setelah gol tersebut, intensitas permainan langsung menurun drastis. Selama 80 menit berikutnya, para pemain hanya mengoper bola tanpa tujuan di antara mereka sendiri, tanpa menunjukkan keinginan untuk menyerang atau mencetak gol lebih banyak. Bahkan, wasit laga itu, Bob Valentine dari Skotlandia, mengaku merasa ada yang tidak beres dengan permainan kedua tim.
”Pertandingan sudah berjalan sekitar 20 menit sebelum saya mulai merasa ada yang tidak benar,” kata wasit Bob Valentine, yang memimpin pertandingan Piala Dunia pertamanya, kepada The Athletic pada 2022.
“Saya mulai berpikir, 'Tidak banyak tekel yang terjadi di sini.' Kemudian seorang pemain melewati garis tengah lapangan, berhenti dengan bola, dan mengumpan bola kembali ke kipernya. Bukannya memasukkannya ke kotak penalti lawan, dia malah mengopernya ke belakang. Saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang salah,” kenang Valentine.
Aljazair mengajukan protes resmi, tetapi FIFA menilai tidak ada aturan resmi yang dilanggar. Namun, kritik dari seluruh dunia memaksa FIFA mengubah format laga terakhir grup. Mulai Piala Dunia 1986, laga terakhir grup dimainkan bersamaan untuk memastikan setiap tim tidak tahu hasil laga yang mereka perlukan untuk lolos ke babak selajutnya.
Skandal ”Aib Gijon” itu sudah berselang 44 tahun, tetapi atmosfer untuk menuntut keadilan dari Aljazair akan membara. Mereka akan menuntut balas dalam laga krusial di Stadion Kansas City akhir pekan ini.
”Tiga poin adalah hal terpenting. Saya rasa kami memiliki kepercayaan diri lebih untuk menghadapi pertandingan selanjutnya. Kami akan berjuang lebih keras lagi daripada hari ini,” tegas gelandang ALjazair Ibrahim Maza. (AP/REUTERS)
SANTA CLARA, SENIN — Riyad Mahrez sudah di ujung karier sepak bola profesionalnya, tetapi penyerang sayap berusia 35 tahun itu masih brilian. Dia menyuntikkan dinamika permainan, mengalirkan bola lebih cepat untuk menginspirasi kebangkitan Aljazair saat melawan Jordania pada laga kedua Grup J Piala Dunia 2026 di Stadion San Francisco Bay Area, Selasa (23/6/2026) siang WIB. Aljazair akan bertarung dengan Austria, rival yang berada di pusaran skandal ”Aib Gijon” pada Piala Dunia 1982, Minggu (28/6/2026) pagi WIB, di Kansas City.
Mahrez, yang disimpan saat Aljazair melawan Argentina dalam laga pertama Grup J, tampil untuk pertama kali di Piala Dunia 2026 saat melawan Jordania. Dia menginspirasi kebangkitan Aljazair pada babak kedua, setelah tertinggal 0-1 berkat gol Nizar Alrashdan pada menit ke-36.
Aljazair menemukan ritme permainan mereka pada babak kedua di mana Mahrez mulai menunjukkan kilatan kecemerlangan masa jayanya. Mantan penyerang Manchester City itu menciptakan tiga peluang gol dan melepaskan enam umpan silang.

Saya tidak tahu apakah kami menunjukkan wajah asli kami, tetapi kami bermain lebih baik daripada saat melawan Argentina.
Mahrez juga memiliki sejumlah peluang emas, tetapi gagal dia selesaikan. Dia menerima umpan lambung brilian dari Hicham Boudaoui, tetapi kehilangan bola dari kakinya. Dia juga menerima umpan panjang lainnya dari Boudaoui dan berhadapan satu lawan satu dengan Yazeed Abulaila, tetapi kiper Jordania itu berhasil menepis tendangan lobnya.
Intensitas serangan Aljazair lebih agresif setelah pelatih Vladimir Petkovic memasukkan Nabil Bentaleb dan Nadhir Benbouali di awal babak kedua. Benboulai menjadi pemecah kebuntuan dengan mencetak gol sundulan pada menit ke-69 memanfaatkan tendangan sudut Mahrez.
Tiga belas menit kemudian, Aljazair unggul 2-1 melalui sepakan Amine Gouiri. Gol kedua Aljazair ini juga berawal dari situasi bola mati, di mana Anis Hadj Moussa melepaskan tendangan sudut yang disambut Gouiri dan mengenai badan kiper Jordania sebelum masuk gawang.
”Saya tidak tahu apakah kami menunjukkan wajah asli kami, tetapi kami bermain lebih baik daripada saat melawan Argentina,” kata Gouiri.
”Kami kebobolan satu gol, tetapi kami memiliki ketahanan mental dan kami secara bertahap semakin kuat, dan pertandingan ini akan sangat bermanfaat bagi kami,” tegas Gouiri.
Kemenangan ini membuat Aljazair menyamai poin Austria dengan tiga poin di Grup J. Namun, untuk lolos langsung ke babak 32 besar, Aljazair harus menang atas Austria dalam laga ketiga Grup J pada Minggu (28/6/2026). Kedua tim itu berebut posisi kedua grup karena Argentina sudah pasti lolos ke babak 32 besar sebagai juara grup setelah menang 2-0 atas Austria.
Sementara bagi debutan Piala Dunia, Jordania, kekalahan ini menutup peluang mereka melangkah lebih jauh. Mereka akan pulang setelah menjalani laga ketiga melawan Argentina di Dallas. Di akhir laga ini, kiper Jordania Yazeed Abulaila menangis.
”Gol-gol di mana kami kebobolan sebenarnya bukan karena taktik atau hal semacam itu. Kami mengendalikan permainan, tetapi kami melewatkan peluang kami. Sebagai pemain, kami harus melihat detailnya dan bertanggung jawab,” ujar Abulaila.
”Kami menyalahkan diri sendiri dan meminta maaf kepada para penggemar kami,” pungkas kiper berusia 33 tahun itu.
Aib Gijon
Kemenangan Aljazair atas Jordania membuka peluang Mahrez dan kawan-kawan lolos ke babak 32 besar sebagai peringkat kedua grup. Namun, mereka harus mengalahkan Austria yang kini di posisi kedua berbekal keunggulan selisih gol nol, sedangkan Aljazair minus dua. Kedua tim sama-sama mengemas tiga poin.
Dengan posisi seperti itu, laga ketiga akan sangat krusial bagi kedua tim, dengan permutasi sebagai berikut:
- Jika Aljazair dan Austria imbang, kedua tim akan finis dengan empat poin. Austria akan mengamankan posisi kedua Grup J, dan Aljazair melaju ke babak 32 besar sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
- Jika Austria menang, Austria finis di posisi kedua Grup J dengan enam poin. Aljazair dengan tiga poin, akan bergantung pada hasil grup lain untuk lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
- Jika Aljazair menang, Aljazair akan menempati posisi kedua Grup J dengan enam poin, sedangkan Austria dengan tiga poin akan berharap hasil yang menguntungkan di grup lain untuk lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Dengan permuatasi seperti itu, kemenangan tetap menjadi target utama bagi kedua tim dalam laga terakhir. Mereka berpotensi menghadirkan laga panas, juga karena sejarah masa lalu yang muram, yang dikenal dengan ”Aib Gijon” pada Piala Dunia 1982. Skandal itu melibatkan Austria dan Jerman Barat yang dituding bermain mata sehingga Aljazair tidak lolos dari fase grup.
Laga terakhir Grup 2 Piala Dunia 1982 antara Jerman Barat dan Austria berlangsung di Stadion El Molinon, Gijon, Spanyol, sehari setelah Aljazair menjalani laga terakhir mereka, menang 3-2 atas Chile. Dengan hasil itu, jika Jerman Barat menang dengan selisih gol satu atau dua atas Austria, kedua tim akan lolos, dan Aljazair tersingkir.
Pada 25 Juni 1982, di stadion El Molinón di Gijón, Spanyol, Jerman Barat dan Austria berhadapan dalam pertandingan terakhir Grup 2 mereka. Karena Aljazair telah memainkan pertandingan terakhir mereka sehari sebelumnya, penghitungan matematis yang tepat diketahui: kemenangan Jerman Barat dengan selisih tepat satu atau dua gol akan menjamin bahwa Jerman Barat dan Austria lolos ke babak selanjutnya, dan Aljazair akan tereliminasi berdasarkan selisih gol.
Jerman Barat mengawali laga dengan agresif dan unggul 1-0 berkat gol Horst Hrubesch di menit ke-10. Setelah gol tersebut, intensitas permainan langsung menurun drastis. Selama 80 menit berikutnya, para pemain hanya mengoper bola tanpa tujuan di antara mereka sendiri, tanpa menunjukkan keinginan untuk menyerang atau mencetak gol lebih banyak. Bahkan, wasit laga itu, Bob Valentine dari Skotlandia, mengaku merasa ada yang tidak beres dengan permainan kedua tim.
”Pertandingan sudah berjalan sekitar 20 menit sebelum saya mulai merasa ada yang tidak benar,” kata wasit Bob Valentine, yang memimpin pertandingan Piala Dunia pertamanya, kepada The Athletic pada 2022.
“Saya mulai berpikir, 'Tidak banyak tekel yang terjadi di sini.' Kemudian seorang pemain melewati garis tengah lapangan, berhenti dengan bola, dan mengumpan bola kembali ke kipernya. Bukannya memasukkannya ke kotak penalti lawan, dia malah mengopernya ke belakang. Saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang salah,” kenang Valentine.
Aljazair mengajukan protes resmi, tetapi FIFA menilai tidak ada aturan resmi yang dilanggar. Namun, kritik dari seluruh dunia memaksa FIFA mengubah format laga terakhir grup. Mulai Piala Dunia 1986, laga terakhir grup dimainkan bersamaan untuk memastikan setiap tim tidak tahu hasil laga yang mereka perlukan untuk lolos ke babak selajutnya.
Skandal ”Aib Gijon” itu sudah berselang 44 tahun, tetapi atmosfer untuk menuntut keadilan dari Aljazair akan membara. Mereka akan menuntut balas dalam laga krusial di Stadion Kansas City akhir pekan ini.
”Tiga poin adalah hal terpenting. Saya rasa kami memiliki kepercayaan diri lebih untuk menghadapi pertandingan selanjutnya. Kami akan berjuang lebih keras lagi daripada hari ini,” tegas gelandang ALjazair Ibrahim Maza. (AP/REUTERS)