DIGITAL

Kemenangan Iran di Perang Meme

AS dibombardir klip video sindiran. Diawali pihak pro-Iran, sumbernya meluas dari China hingga Afrika Selatan. Trump menjadi olok-olok tiada habisnya.

18 Apr 2026 07:00 WIB · Internasional

KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM

Oleh Irene Sarwindaningrum

Di medan tempur, Iran sulit mengklaim kemenangan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Namun, di internet, Iran berjaya dengan klip-klip video meme bernada sindiran dan humor satir.

Memasuki bulan kedua perang Iran yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel, AS terus dibombardir klip video sindiran. Diawali pihak pro-Iran, sumbernya terus meluas dari China hingga Afrika Selatan. Presiden AS Donald Trump menjadi bahan olok-olok tiada habisnya.

”River of Blood on your pride/Island Epstein secrets you hide/All your crime buried deep inside” demikian sepenggal lirik tajam lagu rap yang mengiringi video klip berjudul Liar, diunggah akun @explosivemediaa di X, Sabtu (12/4/2026).

Klip yang bergaya film animasi Lego itu menampilkan Trump sebagai badut yang gemar mengunggah berita palsu. Adapun Iran digambarkan sebagai sosok hitam pencabut nyawa, Grim Reaper, yang mengejar Trump.

Musiknya berdentum dengan lirik berima, bergaya rap West Coast yang populer di AS. Klip ini hanyalah salah satu dari belasan meme yang diunggah akun itu sejak pertengahan Maret 2026. Sosok di baliknya memilih merahasiakan diri dan hanya menyebut diri Mr Explosive.

Dibuat dengan akal imitasi (AI), meme-meme menggambarkan Trump sebagai pembohong dan pengecut. Klip lain menyiratkan operasi Epic Fury yang dilancarkan AS di Iran hanya kedok Trump untuk menutupi kasus Epstein. Bahkan, Epic Fury dipelesetkan menjadi Epstein Fury.

Tangkapan layar klip video AI yang diunggah akun X @ExplosiveMediaa memperlihatkan sosok mirip Donald Trump dari belakang mengangkat papan bertuliskan “I am a loser” di depan kerumunan, dalam meme propaganda perang bergaya animasi Lego. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Tangkapan layar klip video AI yang diunggah akun X @ExplosiveMediaa memperlihatkan sosok mirip Donald Trump memegang telepon genggam di samping unggahan media sosial tentang Selat Hormuz, dalam meme propaganda perang bergaya animasi Lego. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Menarik dan mudah dipahami, klip-klip itu viral. Setiap unggahan di X ditonton ribuan hingga ratusan ribu kali. Video-video mereka lalu rutin dibagikan akun media Pemerintah Iran dan Rusia, termasuk kedutaan besar Iran di berbagai negara. Jangkauannya meluas. Klip-klip itu diperkirakan menjangkau jutaan orang.

Meme-meme itu pun menjadi alat diplomasi satir dan propaganda perang bagi Iran. Di X, Explosive Media, yang dalam bahasa Parsi bernama Akhbar Enfejari, menyatakan diri sebagai tim independen. Namun, dalam laporan BBC yang terbit pada Minggu (12/4/2026), Mr Explosive mengakui Pemerintah Iran adalah pelanggan mereka. ”Iran sedang mencari kebenaran dan kebebasan,” katanya.

Klip-klip mereka diproduksi nyaris seketika setiap ada perkembangan perang. Bahkan, satu video tentang gencatan senjata sudah tayang sebelum pengumuman resmi.

Quote

Iran sedang mencari kebenaran dan kebebasan.

Mereka tak kesulitan dengan akses internet. Padahal, saat ini Iran tengah mengalami pemadaman yang membuat warga biasa tak bisa mengakses internet ke luar negeri. Mr Explosive mengaku mendapat akses internet jurnalis dari Pemerintah Iran.

Menurut Mr Explosive, timnya beranggotakan kurang dari 10 orang. Mereka memakai gaya Lego karena dianggap mudah dipahami lintas negara.

Aksi mereka meresahkan sejumlah pihak. Pekan laku, kanal Youtube milik Explosive Media ditutup. ”Setelah ditinjau, kami menghentikan kanal tersebut karena melanggar kebijakan kami tentang spam, praktik menyesatkan, dan penipuan,” kata juru bicara Youtube, dikutip dari Middle East Eye, Minggu (13/4/2026).

Di X, Mr Explosive protes. ”Serius? Apakah animasi bergaya Lego kami benar-benar mengandung kekerasan?” tulis mereka.

Tangkapan layar klip video AI yang diunggah akun Instagram @oda_show_ai memperlihatkan sosok mirip Donald Trump tengah bernegosiasi dengan kursi kosong dalam meme satir tentang ketegangan perang Iran. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Tangkapan layar klip video AI yang diunggah akun Instagram @oda_show_ai memperlihatkan sosok mirip Mojtaba Khamenei tertawa di atas palang penutup bertuliskan Selat Hormuz, dengan kapal-kapal di latar belakang, dalam meme satir tentang ketegangan di jalur pelayaran strategis itu. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Selain gaya Lego, beredar pula meme AI bergaya kartun Pixar Disney. Salah satunya rutin diunggah akun @Oda_AI_show di Instagram. Bergaya film animasi Up dan Inside Out, para tokoh digambarkan imut, berkepala besar, dan bertubuh bayi.

Klip-klip mereka jenaka. Salah satunya menampilkan sosok Trump bernegosiasi dengan kursi kosong. Sementara itu, sosok mirip Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menertawakan. Klip ini muncul setelah Trump mengklaim telah berunding dengan Iran, tetapi Teheran menyangkal.

Dari China hingga Afrika

Tak hanya di Iran, media Pemerintah China, CCTV, memproduksi film pendek animasi AI berjudul Kisah Seteru di Lembah Liujin. Bergaya silat wuxia, Iran digambarkan sebagai kucing persia yang melawan elang putih, lambang AS. Elang itu penguasa gurun yang memaksa pihak lain berdagang dengan tiket emasnya. Dalam situsnya, CCTV menyebut film itu sebagai alegori tentang persaingan geopolitik Timur Tengah, hegemoni dolar dan minyak, serta perlawanan terhadap dominasi AS.

Mulai tayang pada 18 Maret 2026, animasi pendek itu langsung viral. Menurut CCTV, film itu meraup lebih dari satu juta likes dalam 10 jam pertama. Pada hari penayangannya, film tersebut langsung masuk tiga besar topik tren di Douyin, media sosial Tiktok versi China. Satu unggahan disebut ditonton lebih dari 32 juta kali dan menjangkau 68 juta orang.

Tangkapan layar film animasi AI dari situs CCTV.com memperlihatkan sosok elang putih berhadapan dengan kucing Persia berjubah hitam di atap bangunan, dalam alegori perang Iran. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Tangkapan layar film animasi AI dari situs CCTV.com memperlihatkan kucing Persia berjubah hitam menggendong anak kucing terluka, dalam adegan propaganda perang Iran yang mengingatkan pada tragedi sekolah dasar putri di Minab. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Video itu dinilai memperlihatkan bagaimana China membingkai perang Iran untuk membentuk opini publik. ”Citra yang ditampilkan adalah China yang mantap, terlibat, dan diplomatik, berlawanan dengan AS yang agresif dan tak dapat diprediksi,” tulis WA Figueroa, asisten profesor sejarah dan hubungan internasional di University of Groningen, Belanda, dikutip dari media penyiaran internasional milik publik Jerman, DW.

Setelah CCTV, konten yang lebih berani beredar di China. Salah satunya menampilkan sosok perempuan mengenakan jas berkepala anjing asal Jepang, Shiba Inu. Bersama dua unta berbaju Arab, Shiba Inu lari dari serangan batu kucing persia. Mereka meninggalkan elang putih yang mereka sebut sebagai ”Boss”.

Tangkapan layar klip video dari Douyin memperlihatkan sosok elang putih berbadan manusia menodong sosok kucing Persia berjubah hitam di halaman rumah bergaya China, dalam meme satir geopolitik tentang perang Iran. Di kepala elang, cumi-cumi menempel dan terus membisikkan provokasi. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Di atas kepala elang itu menempel cumi-cumi yang terus membisikkan provokasi. Dalam bahasa China, cumi-cumi disebut youyu, bunyinya dekat dengan youtai, bahasa China yang artinya Yahudi. Tak jelas lagi dari mana sumber klip ini karena sudah berkali-kali dibagikan ulang.

Dari Afrika, Kedutaan Iran di Afrika Selatan mengunggah klip video satir berjudul Blockade. Klip ini menampilkan Trump bergaya bintang rock 1980-an menyanyikan parodi lagu Perancis, ”Voyage Voyage”. Dengan lirik sarat sindiran, unggahan itu mendapat 45.000 likes dalam 24 jam.

Perang propaganda ini diawali AS. Awal Maret lalu, pemerintahan Trump mengunggah video bergaya Hollywood untuk merayakan serangan AS dan Israel ke Iran. Dengan teknik splice, isinya rangkaian potongan video serangan ke Iran dipadukan dengan cuplikan film dan serial. Ada dari seri film Marvel, Gladiator, Top Gun: Maverick, Star Wars, Breaking Bad, Braveheart, John Wick, Superman, Deadpool, dan Halo.

Video itu menuai kritik. Gedung Putih dinilai tak punya empati dengan menempatkan perang sebagai bahan hiburan dan olok-olok politik. Padahal, perang itu telah menewaskan ribuan orang. Banyak pengguna media sosial menyebutnya ”slopaganda”, gabungan dari kata slop (AI berkualitas buruk) dan propaganda.

Viral adalah senjata

Meme-meme propaganda efektif membentuk narasi publik. Salah satu video Lego menguatkan narasi alternatif seputar misi penyelamatan pilot tempur AS di Iran. Pemengaruh Tiktok AS, @newswithsteph, mengatakan, video itu mengungkapkan bahwa misi sebenarnya AS mencuri uranium Iran. ”Mereka membongkar cerita tentang misi pilot AS yang sama sekali bukan operasi penyelamatan, melainkan misi operasi khusus untuk uranium,” katanya.

Klip-klip propaganda AI diperkirakan telah ditonton ratusan juta kali sepanjang perang di Iran. Pakar propaganda, Emma Briant, mengatakan, AI membuat Iran dan aktor lain kini bisa berkomunikasi langsung dengan audiens Barat secara jauh lebih efektif. Sebagian besar AI dilatih dengan data Barat sehingga ideal untuk membuat konten bagi audiens Barat. ”Inilah yang selama ini kurang dimiliki negara-negara yang menarget Barat,” kata Briant, dikutip BBC.

Tangkapan layar klip video AI yang diunggah akun X @ExplosiveMediaa memperlihatkan sejumlah sosok mirip pejabat Iran memegang bendera Iran di depan bangunan bertuliskan, dalam meme propaganda perang bergaya animasi Lego. Tangkapan layar diambil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Dalam esainya di majalah Time, peneliti madya profesor di McCourt School of Public Policy Georgetown University, Renee DiResta, mengatakan, viralitas menjadi senjata propaganda baru. ”Pengguna media sosial tidak perlu mendukung sebuah pesan. Mereka hanya perlu menganggapnya cukup menarik untuk ditonton dan dibagikan,” tulisnya.

AI membuat teknik ini semakin mudah dan murah. Dulu, produksi animasi mahal dan lama. Dengan AI, satu klip bisa dihasilkan dalam beberapa jam nyaris tanpa biaya. Fenomena ini diperkirakan akan semakin berkembang ke depannya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra