”Teater impian” Old Trafford mengubur asa MU untuk menang dan Arsenal untuk bersaing gelar. Liverpool tidak hadir di stadion, tetapi merayakan kemenangan terbesar.
10 Mar 2025 03:11 WIB · Olahraga
MANCHESTER, SENIN — Tim pemimpin klasemen Liverpool menjadi pemenang walaupun tidak bertanding di Stadion Old Trafford. Manchester United dan Arsenal yang berlaga justru sama-sama ”kalah” dari perspektif masing-masing. Sudah tim rival gagal menang, Liverpool diberkahi kehilangan poin tim pesaing gelar.
MU dan Arsenal berbagai poin setelah imbang 1-1 dalam pertarungan dramatis di Old Trafford pada Senin (10/3/2025) dini hari WIB. Dua gol indah, masing-masing dari gelandang MU, Bruno Fernandes, dan gelandang Arsenal, Declan Rice, menjadikan laga berujung tanpa pemenang.
Liverpool merupakan pihak paling bahagia dengan hasil itu. Mereka semakin kokoh di puncak klasemen Liga Inggris, unggul 15 poin atas peringkat kedua Arsenal. Meskipun Arsenal memainkan satu laga lebih sedikit, jarak itu sudah terlalu jauh dengan sembilan pekan tersisa. Sulit melihat Liverpool tidak juara pada akhir musim.
”Saya ingin berkata sekarang, Arsenal lebih baik berkonsentrasi untuk mengamankan empat besar. Liverpool sudah terlalu jauh untuk dikejar. Mereka hanya kalah sekali sepanjang musim ini. Perburuan gelar sudah berakhir,” kata mantan pemain Arsenal, Paul Merson, kepada Sky Sports.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/896a4dc6ff825c7ffbec519a48183f76-Britain_Soccer_Premier_League_3_.jpg)
MU, terlepas dari soal perebutan gelar, seharusnya paling menyesal dengan hasil imbang. Mereka menikmati situasi kacau pada pengujung laga dan mendapatkan beberapa peluang emas. Salah satunya upaya tembakan Fernandes yang berhasil digagalkan kiper tamu, David Raya, pada injury time.
Raya membalas kesalahan pada akhir babak pertama saat tidak berdaya menghadapi tendangan bebas dari Fernandes. Sang kiper menciptakan tiga penyelamatan hebat pada paruh kedua untuk menjaga nyawa Arsenal. Adapun tuan rumah unggul sampai menit ke-74, sampai akhirnya Rice menyamakan kedudukan.
Strategi Pelatih Kepala MU Ruben Amorin sangat jelas. Mereka lebih banyak menunggu di separuh lapangan sendiri untuk memancing lawan. ”Jika Anda melihat peluang kami, kami semestinya menang. Kami mencoba untuk menyerang balik sebanyak mungkin. Itu adalah rencana kami,” kata gelandang Christian Eriksen.
Jika diibaratkan konser musik, laga itu seperti bertajuk ”pertunjukan dua genre”. Bagai konser musik klasik, duel begitu tenang pada paruh pertama dengan dominasi penguasaan bola oleh Arsenal. MU bermain sangat disiplin, baru menggigit balik ketika mendapatkan tendangan bebas tepat di depan kotak penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/fce8a4d03db13a7b61cef72e5424ed88-Britain_Soccer_Premier_League_2_.jpg)
Pertunjukan tiba-tiba berubah menjadi konser heavy metal pada paruh kedua. Arsenal yang mulai frustrasi akibat blok rendah pertahanan lawan dengan formasi 5-4-1 melakukan berbagai upaya spekulatif. Umpan silang dan tembakan jarak jauh dilakukan. Hasilnya, MU lebih banyak mendapatkan momentum serangan balik.
Terutama, setelah kedudukan sama lagi, Rice dan rekan-rekan semakin ambisius untuk mencuri tiga poin penuh. Hasilnya, mereka justru terlalu terburu-buru dan kehilangan struktur serangan. MU memanfaatkan itu dengan kecepatan penyerang sayap Alejandro Garnacho dan bantuan bek sayap Noussair Mazraoui.
Menurut Amorim, gol Fernandes jelang turun minum sukses mengubah momentum pertandingan. Percobaan Fernandes pada injury time babak pertama merupakan tembakan tepat sasaran pertama MU. ”Itu sangat membantu ketika Anda mencetak gol terlebih dulu dan tidak tertinggal. Anda bisa merasakan energi di stadion,” ujarnya.
Bagi Arteta, timnya mencari masalah sendiri dengan kecerobohan yang tidak perlu. Salah satunya memberikan hadiah tendangan bebas yang seperti jatuh dari langit kepada Fernandes. ”Cara kami kecolongan (peluang) di beberapa momen tidak bisa diterima. Kami membuka pintu untuk kalah di laga ini,” katanya.
Arsenal, baru mengalahkan PSV Eindhoven 7-1 di Liga Champions pada tengah pekan, sebenarnya jauh diunggulkan. Itu bisa terlihat dari dominasi pada 45 menit pertama. Mereka juga menguasai bola hingga 68,2 persen. Masalahnya, penguasaan itu tidak banyak berarti karena minim kreativitas di sepertiga akhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/10/ba8436511207432e97791a186ab8d0f4-Britain_Soccer_Premier_League_4_.jpg)
Penyerang sayap 18 tahun yang sedang berapi-api, Ethan Nwaneri, tidak berkembang karena dikawal ketat oleh bek sayap Diogo Dalot. Kapten tim Martin Odegaard yang sedang tampil dalam performa terbaik hanya bisa berkreasi di tengah lapangan. Odegaard menemui kebuntuan ketika ingin masuk ke kotak penalti.
Disiplin para pemain MU patut diapresiasi. Fernandes dan rekan-rekan selalu kembali secepat mungkin ke pertahanan setelah kehilangan bola. Gelandang veteran Casemiro turut berperan vital sebagai ”tukang jagal” di lini tengah. Peran Casemiro bisa sedikit tecermin dari keberhasilan 9 dari 10 percobaan tekel.
Peran Mazraoui juga sangat krusial. Selain menjaga sisi sayap, area operasi Leandro Trossard, dia juga begitu dinamis membantu serangan. Gol Fernandes bermula dari upaya ekstra Mazraoui berduel udara di pertahanan Arsenal. Walaupun sedang menjalani ibadah puasa dan baru berbuka di pertengahan laga, dia tetap energik. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .