Kemenpora Hanya Targetkan Empat Emas di Asian Games 2026

Target 4 emas di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 lebih sedikit dari raihan 7 emas di edisi 2022. Anggaran persiapan yang turun 79 persen jadi salah satu alasannya.

03 Jun 2026 11:30 WIB · Olahraga

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Rebiyyah Salasah

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Pemuda dan Olahraga menetapkan target awal untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 ”hanya” empat emas, turun dari target dan perolehan Indonesia di ajang yang sama di Hangzhou 2022. Selain karena tiga nomor unggulan tidak dilombakan, Kemenpora memasang target minimalis itu karena persiapan atlet tidak bisa optimal menyusul pemangkasan anggaran.

Hal tersebut terungkap dalam rapat kerja Komisi X DPR dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir di kompleks DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026). Dalam rapat itu, Erick memaparkan sejumlah topik, termasuk persiapan Asian Games yang akan digelar September 2026 di Aichi dan Nagoya, Jepang.

Erick memaparkan perolehan medali emas Indonesia dalam empat edisi terakhir Asian Games, termasuk saat menjadi tuan rumah di Jakarta-Palembang 2018. Setelah meraih 31 emas pada 2018, Indonesia memperoleh 7 emas di Hangzhou 2022. Hasil di Hangzhou jadi patokan untuk menetapkan target awal di Aichi-Nagoya 2026.

”Hari ini, kita hanya bisa menargetkan empat emas. Walaupun saya sudah rapatkan di Kemenpora dan bertemu pimpinan cabor (cabang olahraga), kita harus bisa lebih meski juga tidak mudah,” kata Erick.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memaparkan soal persiapan Asian Games 2026 dalam rapat kerja bersama Komisi X DPRI RI di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Erick mengatakan, setelah meraih hingga 31 emas saat menjadi tuan rumah di Asian Games Jakarta-Palembang 2018, Indonesia idealnya meraih sepertiga medali paling bergengsi itu atau 10 emas pada edisi selanjutnya di Hangzhou 2022. Saat itu, Indonesia memang menargetkan perolehan 12 medali emas, tetapi hanya 7 emas yang berhasil diraih.

Emas-emas itu berasal dari angkat besi, panjat tebing, menembak (nomor perseorangan running target 10 meter dan nomor perseorangan running target mixed 10 meter), perahu naga, wushu, dan panjat tebing. Menurut Erick, meski jadi patokan, 7 emas di Hangzhou tersebut tidak serta-merta jadi target untuk Aichi-Nagoya.

Kemenpora justru mengurangi target dari perolehan medali emas Indonesia di Hangzhou tersebut. Penyesuaian dilakukan lantaran terdapat tiga nomor penghasil emas di Hangzhou tidak dilombakan lagi di Aichi-Nagoya. Ketiga nomor potensial ini adalah nomor running target 10 meter dan running target mixed 10 meter di cabang menembak dan perahu naga di cabang dayung.

Selain karena persoalan nomor potensial yang tidak dilombakan, Erick mengatakan bahwa target awal yang minimalis itu juga tak lepas dari persiapan atlet yang tidak bisa berjalan optimal. Sebagian besar pemusatan latihan nasional berhenti digelar karena keterbatasan anggaran.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memaparkan soal persiapan Asian Games 2026 dalam rapat kerja bersama Komisi X DPRI RI di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Dalam paparannya, Erick menyebut bahwa anggaran pelatnas untuk Asian Games 2026 menurun signifikan dibandingkan dengan Asian Games 2022. Untuk persiapan Hangzhou, anggaran pelatnas sebesar Rp 389 miliar untuk 31 cabang olahraga dan 415 atlet. Sementara untuk Aichi-Nagoya 2026, anggaran pelatnas Rp 81 miliar untuk 33 cabang olahraga dan 361 atlet. Adapun total cabang olahraga menunggu final kualifikasi 1 Juli 2026.

Artinya, terdapat penurunan sebesar 79 persen dari anggaran untuk Asian Games 2022. Hal itu tak lepas dari pemangkasan dari Kementerian Keuangan dan pagu Kemenpora yang rendah. Dari total anggaran Kemenpora sebesar Rp 1,15 triliun, terdapat pemangkasan hingga mencapai Rp 270 miliar.

”Kalau persiapan dengan anggaran yang cukup besar saja hanya mendapatkan tujuh (emas), sekarang dengan Rp 81 miliar, tentu ini ada risiko-risiko,” kata Erick.

Untuk itu, Erick pun meminta DPR, khususnya Komisi X yang memiliki lingkup tugas di bidang pendidikan, olahraga, sains, dan teknologi, memberikan dukungan agar problem anggaran itu dapat teratasi. Dengan demikian, atlet-atlet bisa kembali menjalani pelatnas guna menyiapkan diri meraih prestasi.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir (kanan) memberikan keterangan pers dalam konferensi pers persiapan kontingen Indonesia di SEA Games Thailand 2025 di Gedung Kemenpora, Jakarta,  Jumat (21/11/2025).

Terlebih, waktu yang tersisa untuk Asian Games tidaklah banyak. Para atlet hanya memiliki waktu efektif sekitar tiga bulan untuk menyiapkan diri. ”Sayang kalau pelatnas harus tersendat-sendat. Kami sudah rasakan dari pimpinan cabor dan beberapa atlet serta pelatih, mereka sudah mengutarakan bahwa ini bukan kondisi yang diharapkan,” ujar Ketua PSSI ini.

”Saya sebagai pimpinan akan tanggung jawab kalau memang tidak tercapai (target) karena ini memang konsekuensinya. Namun, kita fokus empat emas dulu walau maunya tujuh emas seperti sebelumnya. Kita coba dulu dengan keterbatasan, siapa tahu empat emas ini tetap jadi impian atau malah lebih,” ucap Erick.

Terkait permasalahan ini, anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Gerindra, La Tinro La Tunrung, meminta Erick merinci tambahan dana dari pemerintah yang diperlukan untuk mencapai target minimal tujuh emas di Asian Games. Adapun sejumlah anggota Komisi X lain memberikan tanggapan terkait topik lainnya, seperti persiapan PON 2028, dualisme cabang olahraga, dan masalah kepemudaan.

Dalam catatan/kesimpulan rapat tidak disebutkan pandangan ataupun rekomendasi Komisi X DPR tentang persoalan persiapan Asian Games tersebut. Komisi X DPR dan Menpora sepakat melaksanakan diskusi kelompok terpumpun untuk pendalaman isu lebih spesifik penyelenggaraan sektor olahraga dan kepemudaan.

Lifter putra Indonesia Rahmat Erwin Abdullah (bawah) berpose dengan pelatih sekaligus ayahnya Erwin Abdullah (atas) usai melakukan angkatan clean and jerk pada final 73 kilogram Grup A Asian Games 2022 di Xiaoshan Sports Centre Gymnasium, Hangzhou, China, Selasa (3/10/2023). Rahmat Erwin meraih medali emas dengan total angkatan 359 kilogram sekaligus memecahkan rekor Asian Games, sementara untuk angkatan clean and jerk Rahmat berhasil memecahkan rekor dunia dengan total angkatan 201 kilogram. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.

Adapun problem anggaran yang jadi kendala cabang olahraga untuk persiapan Asian Games mengemuka dalam Rapat Anggota Komite Olimpiade Indonesia (KOI) 2026 pada 9 Mei 2026. Dalam forum yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan olahraga ini, termasuk Menpora Erick Thohir, Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari mengungkapkan, pihaknya mendapatkan masukan dan keluhan dari cabang olahraga terkait kebutuhan pendanaan.

KOI telah mengajukan permohonan audiensi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk membicarakan kebijakan anggaran olahraga tersebut bersama para perwakilan cabang. Sementara itu, Erick sempat meminta para ketua atau pimpinan cabang olahraga yang berada dalam pemerintahan untuk turut membantu mendorong perwujudan komitmen pengembangan prestasi itu lewat pemenuhan pembiayaan.

Problem anggaran ini membuat beberapa atlet dipulangkan, pelatnas dibubarkan, dan uji coba dibatalkan. Atlet juga bahkan dalam ketidakpastian berangkat ke Asian Games.

”Jadi, dari dua hari sebelumnya, tiba-tiba dikasih tahu, Sabtu kami harus keluar Aryaduta (tempat menginap para atlet renang). Kami kayak enggak percaya karena rasanya dikeluarin secara tidak proper. Cuma, balik lagi sebagai atlet nasional, kami harus tetap semangat, tetap berlatih, sambil berharap pelatnas minimal bisa dimulai dulu,” ucap perenang Flairene Candrea saat ditemui di Senayan, Rabu (13/5/2026).

Pelari jarak jauh Indonesia, Odekta Elvina Naibaho membawa bendera Merah Putih usai memasuki garis finis dalam maraton putri Asian Games Hangzhou 2022 mengelilingi Qiantang River Green Belt di Provinsi Zhejiang, China, Kamis (5/10/2023). Odekta berada di urutan ke-10 dengan catatan waktu 2 jam 37 menit 51 detik. Emas diraih pelari jarak jauh Bahrain, Eunice Chebichii Paul Chumba dengan catatan waktu 2 jam 26 menit 14 detik. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) -10-2023

Sementara pelatnas renang dibubarkan, pelatnas atletik masih bertahan meski terpaksa harus memulangkan sebagian atlet. Dalam daftar yang ditunjukkan pelari jarak jauh Odekta Elvina Naibaho, atlet yang dipertahankan hanya sembilan peraih medali emas dan satu peraih perak di SEA Games Thailand 2025.

Odekta juga bercerita, pemusatan latihan di luar negeri dan sejumlah uji coba batal diikuti. Padahal, selepas SEA Games Thailand 2025, Odekta sempat direncanakan melanjutkan pemusatan latihan di Kenya.

Wakil Sekretaris Umum Pengurus Pusat Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PP PASI) Singgih Widiyastono mengamini ada kendala keuangan untuk membiayai program-program pelatnas. Selama lima bulan terakhir, PP PASI membiayai pelatnas untuk Asian Games secara mandiri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar