Israel menempatkan pasukan dan melipatgandakan jumlah warganya di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan. Mengapa wilayah ini selalu bergolak?
18 Des 2024 16:30 WIB · Internasional
1. Di mana Dataran Tinggi Golan dan kenapa daerah ini penting?
2. Siapa yang tinggal di Dataran Tinggi Golan?
3. Apa status Dataran Tinggi Golan?
4. Apa yang terjadi di sana sekarang?
5. Bagaimana reaksi dunia?
Runtuhnya kekuasaan dinasti politik Assad di Suriah dan kaburnya Presiden Bashar al-Assad ke Rusia membawa sukacita bagi rakyat Suriah. Mereka akhirnya memiliki kembali negaranya.
Pada saat yang sama, situasi juga belum bisa sepenuhnya dikatakan stabil. Kelompok oposisi bersenjata Hayat Tahrir al-Sham yang menggulingkan Assad dan membentuk pemerintahan baru terlibat kontak senjata dengan kelompok oposisi Kurdi.
Di wilayah perbatasan barat daya, Suriah menghadapi rongrongan Israel yang intens menggempur sejumlah wilayah di negara itu. Israel juga memperluas wilayah caplokannya di Suriah, melebihi Dataran Tinggi Golan yang diduduki sejak Perang Arab-Israel 1967.
Hal ini membuat dunia belum bisa 100 persen yakin di Suriah akan terjadi konsolidasi politik yang membawa negara itu maju ke masa depan.
Dataran Tinggi Golan adalah wilayah milik Suriah. Letaknya tepat di perbatasan empat negara: Israel, Lebanon, Suriah, dan Jordania. Wilayahnya berbukit-bukit dengan luas sekitar 1.200 kilometer persegi.
Lokasinya sangat strategis. Dari ketinggian di wilayah itu, pemandangan terbuka mengarah ke berbagai penjuru, seperti ke Galilee (Israel), Lebanon, perbatasan Jordania, dan dari puncak Gunung Hermon juga ke Damaskus, Suriah.
Lokasinya yang strategis menjadi tempat perlawanan terhadap Israel. Milisi Hizbullah dari Lebanon dulu kerap menyerang Israel dari daerah tersebut. Ini menjadikan Dataran Tinggi Golan tidak sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Pemerintah Suriah.
Bagi orang Israel, Dataran Tinggi Golan menjadi area wisata alam yang populer. Area ini dibatasi oleh Gunung Hermon. Dengan ketinggian lebih dari 2.800 meter, saat diselimuti salju, gunung itu menjadi area yang ramai dikunjungi oleh para peminat ski es.
Menurut Avraham Levine, analis pada lembaga Alma Research and Education Center, yang menekuni isu keamanan Israel di perbatasan dengan Suriah, sekitar 31.000 warga Israel bertempat tinggal di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan. Kebanyakan mereka bekerja di sektor pertanian, termasuk perkebunan anggur, dan pariwisata.
Golan juga menjadi tempat tinggal sekitar 24.000 warga Druze, warga minoritas Arab yang mempraktikkan sejumlah ajaran Islam. Kebanyakan dari warga Druze di Golan mengidentifikasi kewarganegaraan mereka sebagai orang Suriah.
Banyak warga Druze di Suriah loyal pada rezim Assad. Banyak dari mereka punya anggota keluarga yang tinggal di kedua sisi garis demarkasi pemisah antara wilayah Suriah dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/17/426005bdbac0c28b75623225159bb67e-ISRAEL_SYRIA_GOLAN_CONFLICT_126227499.jpg)
Setelah menganeksasi Golan, Israel memberi pilihan pada warga Druze untuk memilih kewarganegaraan Israel. Namun, kebanyakan mereka menolak tawaran itu dan tetap mengidentifikasi diri sebagai warga Suriah.
Israel merebut dua pertiga wilayah Golan pada Perang Enam Hari Arab-Israel 1967. Sebulan kemudian, mereka membangun area permukiman sipil pertama, yakni Merom Golan. Pada 1970, sebanyak 12 komunitas tambahan ditempatkan di sana.
Israel kemudian sepenuhnya mencaplok Golan dari Suriah pada 1981. Perbuatan itu dikecam oleh dunia. Komunitas internasional selalu melekatkan sebutan ”wilayah pendudukan (occupied)” pada Dataran Tinggi Golan karena pendudukan yang dilakukan Israel.
Namun, pada 2019 Amerika Serikat, saat dipimpin Presiden Donald Trump, mengakui kedaulatan Israel atas Golan.
Setelah perang Arab-Israel 1973, Suriah dan Israel menyepakati gencatan senjata. Sebagai bagian dari kesepakatan itu, dibangun zona penyangga sepanjang 80 kilometer. Zona ini dibangun di sebelah timur wilayah yang diduduki Israel dan menjadi pemisah dengan sisi Suriah.
Pada 1974, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bernama UNDOF dibentuk dan ditempatkan di Golan. Mereka memastikan Golan menjadi zona netral. Posisi UNDOF mencakup sebuah pos pemantau di puncak Gunung Hermon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/17/47825eae6b23d8bcc9d15f509bd9cde5-Israel_Syria_126229034.jpg)
UNDOF mengupayakan tidak ada kontak senjata. Sejak itu pula keadaan di Golan relatif stabil.
Sejak 8 Desember 2024 saat pasukan oposisi bersenjata pimpinan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menggulingkan Assad, Israel memasukkan tank dan kendaraan lapis baja mereka ke Dataran Tinggi Golan. Daerah itu kini berjejal dengan pasukan dan persenjataan Israel
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar berdalih bahwa keadaan itu hanya sementara. Israel memantau perkembangan situasi di Suriah. Apabila situasi telah stabil dan aman, pasukan Israel ditarik pulang.
Pada Minggu (15/12/2024), Israel memutuskan untuk melipatgandakan jumlah warganya di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan. Terkait dengan langkah itu, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan telah mengalokasikan anggaran lebih dari 40 juta shekel atau 11 juta dollar AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/16/36a18ec56a60b5178bde851a4a7e0fdf-1000000075.jpg)
Pada saat yang sama, pemimpin HTS, Ahmed Al-Sharaa alias Mohammed Al-Golani mengeluarkan pernyataan bahwa ia tidak mau menjerumuskan Suriah ke dalam perang yang baru. Rakyat Suriah membutuhkan pembangunan dan kedamaian, bukan konflik.
Berkat pernyataan itu, Amerika Serikat dan Inggris membuka kembali kontak dengan Suriah. AS mengatakan, jika pemerintahan sementara HTS berhasil membawa Suriah ke pemerintahan baru yang inklusif dan dipilih oleh rakyat pada pemilihan umum Maret 2025, Washington akan membuka kembali hubungan diplomasi dengan Damaskus.
Dunia mengecam Israel. Mulai dari PBB Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Arab tidak ada yang memercayai Israel. Mereka semua menuduh Israel melanggar kesepakatan 1974, sama seperti kejadian pencaplokan Golan pada 1981.
Menurut dunia, Israel memanfaatkan situasi yang masih cair di Suriah untuk masuk dan menduduki Golan. Ujung-ujungnya, Israel akan ekspansif dan menyatakan Golan sebagai wilayah mereka.
Qatar menyebut keputusan Tel Aviv sebagai ”babak baru dari serangkaian serangan Israel terhadap wilayah-wilayah Suriah dan sebagai pelanggaran terang benderang atas hukum internasional”. UEA menegaskan, keputusan terbaru Israel sebagai ”upaya sengaja memperluas pendudukan dan melanggar hukum internasional”.
PBB dan negara-negara lain meminta pasukan Israel untuk angkat kaki dari Golan. Seperti biasa, Israel tutup mata dan tutup telinga. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne Anwar, Muhammad Samsul HadiEditor:
Muhammad Samsul Hadi