Presiden Suriah Bashar al-Assad Tumbang, Israel Untung?

Setelah Presiden Assad tumbang, rute pasokan persenjataan Hizbullah dari Iran ke Lebanon terputus. Melemahnya Hizbullah menjadi keuntungan bagi Israel.

15 Des 2024 18:38 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

BEIRUT, SABTU — Dengan tumbangnya Presiden Suriah Bashar al-Assad, pemimpin kelompok Hizbullah Naim Qassem mengakui pihaknya kehilangan rute penting pasokan persenjataan. Selama era Assad, kelompok yang disokong oleh Iran itu mendapatkan banyak manfaat. Di era Assad, pasokan persenjataan dan peralatan militer lain dari Iran untuk Hizbullah mengalir ke Lebanon melalui Irak dan Suriah.

Namun, pada 6 Desember 2024, Hayat Tahrir al-Sham (HTS) merebut perbatasan Suriah-Irak dan memotong rute penyelundupan senjata itu. Tanpa sekutu setianya, Assad, Hizbullah yang sudah lemah kian kekurangan tenaga. Sepanjang 14 bulan terakhir, isi gudang persenjataan mereka terus terkuras akibat perang melawan Israel.

Sebaliknya, dengan jatuhnya Assad, Israel justru kian leluasa menghajar Suriah. Kapabilitas dan moral tentara Suriah kian menurun akibat tekanan kelompok oposisi. Basis-basis utama mereka kian rentan lantaran tidak terkawal dengan optimal.

Akibatnya, dengan keunggulan teknologi dan alat tempur canggih, Israel dengan mudah menghancurkan situs-situs militer Suriah. Sabtu (14/12/2024), hanya dalam waktu lima jam, militer Israel menembakkan 61 rudal dengan target pangkalan militer Suriah.

Tidak hanya itu, sebelumnya, Israel pun dengan leluasa menguasai Golan. Tetangga dekat di kawasan, Mesir dan Jordania, pun segera bersuara, menuntut agar Israel menarik diri dari zona demiliterisasi di sepanjang perbatasan dengan Suriah.

Pasukan Israel memasuki zona penyangga atau demiliterisasi yang dijaga Perserikatan Bangsa-Bangsa, pekan lalu. Zona ini memisahkan pasukan Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan. Dengan masuk ke zona itu, Israel dinilai PBB telah melanggar perjanjian gencatan senjata tahun 1974.

Israeli military forces cross the fence to and from the buffer zone with Syria, near the Druze village of Majdal Shams in the Israel-annexed Golan Heights, on December 11, 2024. After a lightning offensive by Islamist rebel fighter ousted president Bashar al-Assad, Israel, which borders Syria, sent troops into a buffer zone east of the Israeli-annexed Golan Heights, in what Foreign Minister Gideon Saar described as a "limited and temporary step" for "security reasons". (Photo by Jalaa MAREY / AFP)

Israel beralasan pasukannya perlu masuk ke zona itu demi pengamanan perbatasan. Setelah Suriah kembali tenang, Israel baru akan keluar dari zona itu.

Bagi Israel, menghancurkan jaringan regional Iran menjadi tujuan utama meski tetap waswas dengan kelompok bersenjata yang tergabung dalam kelompok oposisi di Suriah, Hayat Tahrir al-Sham.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menganggap jatuhnya Assad sebagai hari bersejarah. Bagi Israel, jatuhnya Assad merupakan bagian dari upaya Israel melawan Hizbullah dan Iran yang menjadi pendukung utama Assad.

Pemimpin HTS Abu Mohammed al-Golani mengecam Israel atas serangannya ke Suriah. Namun, dia mengatakan, Suriah sudah terlalu lelah dengan konflik baru. Israel jelas sudah melewati batas pemisahan diri di Suriah. Ini tidak dapat dibenarkan karena berisiko memicu eskalasi baru.

”Tetapi, setelah selama bertahun-tahun perang dan konflik dan sudah lelah, kondisi kami tidak memungkinkan untuk memasuki konflik baru,” ujarnya.

Harapan Hizbullah

Sementara itu, Naim Qassem berpesan kepada HTS bahwa sebaiknya HTS tidak menjalin hubungan dengan Israel. Hizbullah berharap HTS akan menganggap Israel sebagai musuh dan tidak menormalisasi hubungan dengannya. Ini akan menjadi penentu bagaimana bentuk hubungan Hizbullah dan Suriah.

Masalahnya, Hizbullah adalah kelompok yang membantu Assad melawan kelompok oposisi. Hizbullah mulai ikut campur di Suriah pada 2013. ”Hizbullah belum bisa menilai kekuatan baru ini sampai mereka stabil dan mengambil posisi yang jelas. Kami berharap rakyat dan Pemerintah Lebanon dan Suriah dapat terus bekerja sama,” ujar Qassem.

Hizbullah masih terikat kesepakatan gencatan senjata dengan Israel selama 60 hari sejak pekan lalu. Tentara Lebanon dan pasukan penjaga perdamaian PBB akan dikerahkan di Lebanon selatan. Sementara pasukan Israel serta Hizbullah mundur dari daerah perbatasan, Hizbullah di utara sementara pasukan Israel kembali ke Israel.

Hizbullah adalah satu-satunya kelompok bersenjata Lebanon yang menolak menyerahkan senjatanya setelah perang saudara Lebanon pada 1975-1990. Mereka bersumpah akan terus memerangi Israel.

Anggota parlemen Lebanon yang mewakili sayap politik Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengatakan, apa yang terjadi di Suriah adalah perubahan besar, berbahaya, dan baru. Meski demikian, perubahan itu tidak akan melemahkan Hizbullah.

Para pengamat menilai melemahnya Hizbullah akan berdampak besar bagi Lebanon dan Iran yang mengandalkan Hizbullah sebagai kekuatan proksi yang memproyeksikan kekuatan mereka di Timur Tengah. Namun, posisi ini juga menjadi pengubah permainan bagi Israel karena saat ini Hizbullah berada di kondisi paling rentan.

Banyak tokoh penting Hizbullah, termasuk pemimpinnya, Hassan Nasrallah, yang tewas dalam serangan udara Israel. Pengeboman Israel selama berbulan-bulan juga menghancurkan sebagian besar infrastruktur militer Hizbullah.

”Jatuhnya rezim ini menandai berakhirnya kekuatan Iran di Suriah dan Lebanon,” kata Fares al-Bayoush, pembelot tentara Suriah yang bertempur dalam perang saudara melawan pasukan Assad dan Hizbullah hingga tahun 2017.

Dalang penggulingan

Sebelumnya, Rabu (11/12/2024), Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan penggulingan Assad merupakan hasil dari rencana Amerika Serikat dan Israel. Ada juga salah satu negara tetangga Suriah yang ikut berperan, tetapi Khamenei tidak menyebutkan nama negaranya.

Hanya saja, tampaknya merujuk pada Turki yang selama ini diketahui mendukung kelompok-kelompok oposisi Suriah yang mau menggulingkan Assad sejak pecah perang saudara pada 2011. Penggulingan Assad dianggap sebagai pukulan hebat bagi aliansi politik dan militer ”Poros Perlawanan” yang dipimpin Iran.

”Apa yang terjadi di Suriah sebagian besar direncanakan di Amerika dan Israel. Kami punya bukti kuat,” kata Khamenei.

This handout picture provided by the office of Iran's Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei on December 11, 2024 shows him addressing supporters in Tehran. Khamenei said on December 11, the weakening of the anti-Israel "resistance" after the ouster of Bashar al-Assad in Syria would not diminish Tehran's power. (Photo by KHAMENEI.IR / AFP) / === RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / KHAMENEI.IR" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ===

Iran mengaku intelijennya sudah mengirimkan peringatan kepada pemerintah Assad tentang kemungkinan akan terjadi serangan. Mereka juga meramalkan anak muda Suriah pada akhirnya akan merebut kembali Suriah. Pernyataan seperti ini yang akan mempersulit Iran untuk membangun hubungan yang kuat dengan penguasa baru di Suriah.

Iran menghabiskan miliaran dollar untuk mendukung Assad selama perang dan mengerahkan Garda Revolusi ke Suriah untuk mempertahankan kekuasaan Assad. Beberapa jam setelah Assad jatuh, Iran berharap hubungannya dengan Suriah akan terus berlanjut.

Iran juga menyerukan pembentukan pemerintahan inklusif yang mewakili semua segmen masyarakat Suriah. ”Semakin besar tekanan yang diberikan pada Iran, semakin kuat pula perlawanannya. Semakin banyak kejahatan yang Anda lakukan, semakin kuat pula perlawanan. Semakin keras Anda melawan, semakin meluaslah perlawanan. Iran kuat dan berkuasa dan menjadi lebih kuat lagi,” kata Khamenei.

Dinasti Assad yang memerintah Suriah selama setengah abad dengan tangan besi memainkan peran penting dalam memberdayakan Hizbullah yang didirikan pada awal 1980-an oleh para penasihat Iran yang datang melalui Suriah.

Selain menjadi saluran untuk senjata Iran, Suriah juga menjadi tempat Hizbullah melatih anggota-anggotanya dan memproduksi senjatanya sendiri. Seiring dengan pertumbuhan Hizbullah yang semakin kuat, Hizbullah menjadi kekuatan yang dapat diandalkan Assad untuk perlindungan di saat-saat krisis. Hizbullah mengirim ribuan pejuang untuk memperkuat pasukan Assad ketika perang saudara meletus pada 2011.

(FILES) A file handout picture released by the Syrian Arab News Agency (SANA) shows (L-R) then Iranian President Mahmoud Ahmadinejad, his Syrian counterpart Bashar al-Assad (C) and Lebanon's Hezbollah chief Hassan Nasrallah (R) upon their arrival for an official dinner in Damascus on February 25, 2010. In a televised address, the Iran-backed group's deputy chief Naim Qassem said on September 30, 2024 a new leader to replace Hassan Nasrallah, who enjoyed cult status among his supporters, would be selected "at the earliest opportunity", following his killing in an Israeli airstrike last week. (Photo by SANA / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /SANA " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Di Lebanon, melemahnya kekuatan Hizbullah telah memberi militer kesempatan untuk menegaskan kembali kendali mereka, terutama di sepanjang perbatasan bagian selatannya. Gencatan senjata yang dimediasi AS antara Hizbullah dan Israel menyatakan Hizbullah seharusnya tidak memiliki kehadiran bersenjata di sepanjang perbatasan itu. Merujuk kesepakatan itu, seruan agar kelompok Hizbullah dilucuti menguat.

”Bagi Hizbullah, permainan sudah berakhir. Sebaiknya mereka duduk bersama militer Lebanon dan akhiri saja status sebagai kelompok bersenjata dan mengubah diri menjadi partai politik,” kata Samir Geagea yang memimpin Partai Pasukan Kristen Lebanon.

Pengaruh lama Hizbullah di arena politik di Lebanon juga menghadapi tantangan berat. Banyak orang di Lebanon yang marah dengan Hizbullah karena Hizbullah melanggar janjinya untuk menggunakan senjatanya hanya untuk membela Lebanon. Hizbullah mulai menembakkan roket ke Israel sehari setelah Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2024.

Keikutsertaan Hizbullah dalam konflik Israel-Hamas itu menyeret malapetaka ke Lebanon. Demi menghancurkan Hizbullah, Israel menyerang banyak target di Beirut dan sekitarnya. Dampaknya ratusan warga sipil tewas dan ribuan orang lainnya terpaksa mengungsi. Selain itu, Hizbullah kehilangan banyak pemimpin utama.

”Dengan runtuhnya rezim (Suriah), Hizbullah di Lebanon menghadapi realitas yang sama sekali baru,” kata Firas Maksad dari Middle East Institute.

(Reuters/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H