Gencatan senjata usai, padahal baru di tahap pertama. Tahap kedua entah akan terwujud atau tidak.
19 Mar 2025 12:00 WIB · Internasional
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Apa yang terjadi di Gaza?
2. Apa tanggapan Hamas?
3. Kenapa Israel menyerang Gaza?
4. Bagaimana posisi Netanyahu di pemerintahan?
5. Bagaimana imbauan Palestina kepada dunia?
Pada Selasa (18/3/2025), militer Israel menembakkan rudal dan roket ke Jalur Gaza dan Tepi Barat di Palestina. Sebanyak 413 orang tewas dan 500 orang terluka. Kejadian ini praktis mengakhiri perjanjian gencatan senjata antara Israel dengan Hamas.
Pada Rabu (19/3/2025), Gaza kembali diserang. Jumlah korban tewas sejauh ini 404 orang, tetapi diduga terus bertambah karena banyak yang tertimpa puing bangunan.
Selain warga sipil, korban tewas ialah kepala de facto pemerintahan Hamas Essam Addalees, wakil menteri kehakiman Hamas Ahmed Al-Hetta, dan kepala dinas keamanan Hamas Mahmoud Abu Watfa.
Israel dan Hamas sejatinya terikat perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar. Tahap pertama gencatan senjata ini adalah pada 19 Januari 2025 hingga 1 Maret 2025.
Di dalam gencatan senjata itu, Hamas membebaskan 33 sandera yang mereka culik dalam serangan Badai Aqsa 7 Oktober 2023. Beberapa sandera pulang sudah menjadi jenazah.
Sebaliknya, Israel membebaskan warga Palestina yang mereka penjara. Baik dipenjara selama perang berlangsung maupun dari tahun-tahun sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/19/503a9033-85c3-4a02-8de5-64e827f4508a_jpg.jpg)
Seusai gencatan tahap pertama, kedua belah pihak semestinya bertemu lagi membahas fase kedua. Akan tetapi, Israel malah menyerang. Menurut Hamas, Israel menghukum mati sendiri warga mereka yang disandera oleh Hamas.
Para keluarga sandera di Tel Aviv juga berpendapat demikian. Mereka berdemo menentang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia dituduh rakyatnya mengabaikan para sandera.
Netanyahu memanfaatkan serangan ke Gaza untuk menghindari sidang kasus korupsi. Dalam lima tahun terakhir, ia disidang atas tiga kasus. Kasus pertama, ia dan istrinya Sara dituduh menerima suap dari seorang pengusaha agar mau mengeluarkan visa.
Pada kasus kedua dan ketiga agak mirip. Netanyahu membantu pengusaha maupun redaktur surat kabar, yaitu Yehdioth Ahronoth dan Walla menduduki kursi kepemimpinan. Balasannya ialah kedua media itu beritanya hanya memuji Netanyahu.
Desember 2024, Netanyahu mangkir dari panggilan pengadilan dengan alasan operasi prostat. Kali ini, ia menggunakan serangan ke Gaza sebagai dalih.
Alasan lain, dia mau mengembalikan sokongan kelompok kanan. Tanpa dukungan kelompok kanan, koalisi pemerintahan akan rapuh dan Netanyahu kehilangan jabatan.
Alasan kedua Netanyahu melanggar gencatan senjata ialah demi mengamankan posisinya di Pemerintahan Israel. Ia bisa memenangi pemilihan umum berkat berkoalisi dengan partai-partai ultrakanan.
Sayap kanan menentang gencatan senjata dengan Hamas. Mereka menginginkan Gaza dikosongkan dan Hamas dihancurkan. Oleh sebab itu, mereka mengancam keluar dari koalisi Netanyahu.
Partai oposisi mau mendukung Netanyahu dengan syarat melanjutkan gencatan senjata dan pemulangan sandera. Akan tetapi, Netanyahu menolak karena setelah sandera dipulangkan semua, oposisi tetap menginginkan dia bertanggung jawab secara hukum
Negara-negara Arab dan Eropa mengecam serangan Israel dan pelanggaran gencatan senjata. AS mendukung tindakan Netanyahu.
Menteri Kehakiman Palestina Mahmoud Al-Habbash yang sedang berkunjung ke Jakarta menjelaskan, AS hanya bertindak sesuai kepentingan nasional mereka. Oleh sebab itu, dunia, terutama negara-negara berpenduduk mayoritas Islam, harus bisa menemukan bahasa diplomasi yang benar.
Bahasa diplomasi ini harus bisa meyakinkan Washington bahwa perdamaian dan kemerdekaan Palestina itu sejalan dengan kepentingan nasional AS. Hanya jika AS berpandangan demikian konflik bisa berhenti.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris Mada