Moskwa belum setuju beberapa poin kesepakatan. Utusan Khusus Presiden AS, Steve Witkoff, akan tiba di Rusia, Jumat (25/4/2025), untuk bertemu Presiden Putin.
25 Apr 2025 18:15 WIB · Internasional
MOSKWA, JUMAT - Rusia masih menggantung soal kesepakatan damai dengan Ukraina. Amerika Serikat akhirnya menegur Rusia yang terus melancarkan serangan di tengah negosiasi.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov kembali mengulangi pernyataan kesediaan Rusia untuk mencapai mufakat. Namun, beberapa hal masih mengganjal.
“Kami siap mencapai kesepakatan, tetapi masih ada beberapa poin spesifik yang perlu disempurnakan, dan kami sibuk dengan ini,” kata Lavrov dalam wawancara Face the Nation with Margaret Brennan, CBS News, Kamis (24/4/2025).
Lavrov pernah menyatakan hal serupa kepada surat kabar Kommersant pada 15 April 2025. Waktu itu, dia berkata, Rusia belum sepakat sejumlah bagian penting dengan AS, terutama terkait masa depan Ukraina, perbatasan, dan kerja sama ekonomi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/25/420c9900-94f5-4c3c-9fcf-e1a5c155fda5_jpg.jpg)
Pernyataan Lavrov yang terbaru menyusul desakan Trump kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan serangan ke Ukraina. Teguran langka itu terjadi setelah Rusia melancarkan berbagai serangan mematikan di Kyiv dalam beberapa bulan terakhir.
Russia menyerang Sumy sehingga menewaskan 34 orang pada 13 April 2025. Pada Kamis (24/4/2025), Rusia menggempur Kyiv yang menewaskan sedikitnya 12 orang.
“Saya tidak senang dengan serangan Rusia. Tidak perlu, dan waktunya sangat buruk. Vladimir, berhenti!” kata Trump di media sosial.
Selama ini, Trump dinilai Eropa lebih condong membela Rusia ketimbang Ukraina. Dia juga pernah bertengkar dan menjelek-jelekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Bahkan, Trump menuduh Zelenskyy menggagalkan upaya perdamaian dengan menolak mengakui klaim Rusia atas Crimea.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/e6fc0498faf0bd0b6b0e43bf787e79db-Trump_Putin_128308187.jpg)
Dalam pernyataan baru Lavrov, setidaknya kali ini dia mengatakan, proses pembicaraan berjalan ke arah yang benar. Negosiasi Washington dan Moskwa akan terus berlanjut.
Lavrov turut menghujani Trump dengan pujian. Menurut dia, Presiden AS “mungkin satu-satunya pemimpin di Bumi yang menyadari perlunya mengatasi akar penyebab situasi ini”.
Utusan Khusus Presiden AS Steve Witkoff tiba di Rusia, Jumat (25/4/2025). Dia diperkirakan akan bertemu Putin untuk pembicaraan gencatan senjata lanjutan. Witkoff sebelumnya berbicara dengan Putin di Saint Petersburg pada 11 April 2025.
Pada Rabu (23/4/2025), Wakil Presiden AS JD Vance memperingatkan, Rusia dan Ukraina mesti mencapai kesepakatan damai. “Gedung Putih telah mengeluarkan proposal yang sangat eksplisit kepada Rusia dan Ukraina, dan sudah waktunya mereka mengatakan ya, atau Amerika Serikat keluar dari proses ini,” ujarnya.
Vance mengatakan, jendela untuk diplomasi telah tertutup. AS membayangkan pembekuan konflik militer kurang lebih mengikuti garis yang sekarang. Institut Studi Perang memperkirakan, Rusia menguasai sekitar 18 persen wilayah Ukraina.
AS juga terus menjalin komunikasi dengan Ukraina, walau Trump sempat menyatakan Rusia membuat konsesi besar dengan tidak merebut seluruh wilayah Ukraina. Utusan Trump untuk Ukraina dan Rusia, Keith Kellogg, bertemu dengan sekutu dari Eropa dan Ukraina di London, Inggris, Rabu lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/01/3410f4b262b42ee373d821d0481dbeec-APTOPIX_Trump_Zelenskyy.jpg)
Sementara Zelenskyy mempertanyakan niat sekutu Ukraina untuk menekan Putin agar setuju gencatan senjata penuh. Dia khususnya menyoroti Trump yang sempat mengumbar ancaman apabila Moskwa tidak setuju menghentikan pertempuran.
“Saya tidak melihat adanya tekanan kuat terhadap Rusia atau paket sanksi baru terhadap agresi Rusia,” kata Zelenskyy.
Zelenskyy turut menegaskan, Kyiv melakukan segala hal yang diusulkan sekutu. “Hanya apa yang bertentangan dengan undang-undang dan Konstitusi kami yang tidak dapat kami lakukan,” ujarnya menanggapi pertanyaan tentang Crimea.
Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) kembali menyuarakan dukungan untuk Ukraina. Adapun salah satu hambatan kesepakatan damai Rusia-Ukraina adalah Putin ingin Ukraina tidak bergabung dengan NATO.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Kamis, mengatakan, Mokwa-lah, bukan Kyiv, yang perlu bergerak maju dalam negosiasi. “Sekarang, keputusan ada di tangan Rusia,” tuturnya setelah bertemu Trump di Gedung Putih. (AFP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari