Spurs siap memulai era baru setelah melengserkan Daniel Levy sebagai ketua. Mencanangkan target untuk meraih lebih banyak kesuksesan di atas lapangan.
05 Sep 2025 15:20 WIB · Olahraga
Daniel Levy pergi, tetapi warisannya tetap abadi. Dialah ketua klub sepak bola terlama sepanjang sejarah Inggris. Menjadi ketua Tottenham Hotspur sejak 2001, Levy lebih dikenal atas kesuksesannya di luar lapangan. Setelah 24 tahun menjabat, Levy mengajukan pengunduran diri, Jumat (5/9/2025) dini hari WIB. Namun, kabar menyebutkan Levy dilengserkan oleh pemegang saham mayoritas Spurs.
Levy adalah sosok kontroversial di internal Spurs. Dia bisa dibenci dan disukai dalam waktu bersamaan. Selama masa kepemimpinannya, Spurs berkembang dari sisi bisnis, tetapi minim prestasi di atas lapangan hijau. Tangan dingin Levy membuat Spurs profit dari sisi bisnis. Di era Aturan Keuntungan dan Keberlanjutan (Profit and Sustainability Rules/PSR) dan masalah keuangan yang mendera banyak klub, Spurs dikelola dengan baik berkat kejelian Levy dalam bernegosiasi dan berbisnis.
Mantan Manajer Spurs David Pleat memuji kinerja Levy dalam mengawal proses kepindahan Spurs dari Stadion White Hart Lane ke Stadion Tottenham Hotspur yang jauh lebih besar. Dari sanalah kemudian pendapatan tambahan Spurs meningkat karena Stadion Tottenham Hotspur sering digunakan sebagai arena konser dan pertandingan tinju.
”Untuk mencapai kesuksesan dalam sepak bola modern tanpa uang besar sangatlah sulit dan melakukan apa yang telah dicapai Tottenham dalam dua dekade terakhir sungguh luar biasa,” katanya.
Perkembangan kurang menggembirakan datang dari sisi prestasi. Spurs hanya memenangi Piala Liga Inggris pada 2008 dan Liga Europa musim lalu. Trofi yang tentu saja amat sedikit dan sangat tidak sepadan dengan lamanya waktu yang dihabiskan Levy sebagai ketua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/05/a1b1a457e8978ce7b3331b647f83a48d-1000006381.jpg)
Semua ini terjadi karena insting bisnis Levy lebih berjalan dibandingkan dengan sepak bolanya. Setelah pergi, Levy boleh jadi akan dikenang sebagai ketua Spurs yang paling monumental. Ini seiring kebijakannya yang banyak berinvestasi pada infrastruktur klub dibandingkan dengan transfer pemain. Ia membangun stadion megah dengan fasilitas kelas dunia yang kini menjadi kebanggaan Spurs. Selain itu, ada pula kantor serta pusat pelatihan yang tidak kalah mentereng di Hotspur Way, Enfield, Inggris.
Alih-alih dipuji dengan pencapaian monumentalnya, Levy justru lebih sering dibayangi kritik dari suporter Spurs lantaran kurangnya prestasi. Ia juga yang menjadi sumber ketidakstabilan di internal Spurs yang ditandai dengan maraknya pergantian manajer. Total ada 12 manajer yang dipecat di saat Spurs berhasil mencapai 16 semifinal dan tujuh final.
”Perjalanannya tidak selalu mudah. Namun, kemajuan yang signifikan telah dicapai. Saya akan terus mendukung klub ini dengan penuh semangat,” kata Levy dalam sambutan perpisahannya, dikutip dari The Guardian.
Melihat minimnya pencapaian Spurs selama ini, tidak heran kabar terkait mundurnya Levy disambut gembira oleh para suporter Spurs. Mereka menilai inilah saatnya terbit fajar baru Spurs yang lebih gemilang.
Seolah mendengar isi hati para penggemar, keluarga Lewis akhirnya mengambil keputusan strategis, yakni mencopot Levy. Pernyataan resmi klub menyebutkan Levy mengundurkan diri, tetapi sumber-sumber yang dekat dengan keluarga Lewis selaku pemilik Grup ENIC, pemegang 86,91 persen saham mayoritas Spurs, meyakini inilah saat yang tepat untuk melakukan perubahan demi meraih lebih banyak kejayaan di masa mendatang.
”Generasi keluarga Lewis mendukung klub sepak bola istimewa ini dan mereka menginginkan apa yang diinginkan para penggemar, lebih banyak kemenangan dan lebih sering,” kata sumber tersebut, dilansir dari The Standard.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/05/25d02c123566703ecb4f67d49732abf2-1000006385.jpg)
Inilah yang menjelaskan mengapa Spurs melakukan serangkaian perubahan drastis di balik layar sepanjang musim panas. Di awal tahun, keluarga Lewis memulai tinjauan kinerja klub, yang dilaksanakan oleh firma asal Amerika Serikat, Gibb River. Mereka mewawancarai sejumlah staf tentang bagaimana prestasi tim dapat ditingkatkan.
Momen itu bertepatan dengan pengangkatan Peter Charrington ke dewan klub pada Maret. Pada April, Tottenham mengonfirmasi kedatangan Vinai Venkatesham sebagai chief executive officer (CEO) baru menggantikan Donna-Maria Cullen yang telah lama menjabat.
Selain itu, yang paling kontroversial, Spurs mengganti manajer Ange Postecoglou dengan Thomas Frank. Banyak pihak menyayangkan pemecatan Postecoglou mengingat kontribusinya membawa Spurs memenangi Liga Europa.
”Ini adalah era baru kepemimpinan bagi klub, di dalam dan di luar lapangan. Saya menyadari telah terjadi banyak perubahan dalam beberapa bulan terakhir seiring kami membangun fondasi baru untuk masa depan,” kata Charrington yang menggantikan Levy.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto