Berbanding terbalik dengan Ange Postecoglou, Thomas Frank tidak memedulikan cara untuk menang. Prinsip itu sedikit tecermin dalam laga pramusim versus Arsenal.
01 Agt 2025 20:06 WIB · Olahraga
Pragmatis. Kata itu nyaris tidak pernah muncul dalam pembicaraan tentang Tottenham Hotspur di bawah rezim Ange Postecoglou selama dua tahun terakhir. Pelatih baru Thomas Frank sukses mengubah wajah Tottenham hanya dalam sebulan lebih, bahkan sebelum musim baru dimulai.
Derbi pertama Tottenham dan Arsenal di Asia berakhir tidak sesuai harapan penonton. Tidak ada hujan gol dalam laga pramusim di Stadion Kai Tak, Kowloon, Hong Kong, Kamis (31/7/2025) WIB. Alih-alih saling balas gol, laga berakhir dengan kemenangan tipis Tottenham, 1-0.
Frank berbanding terbalik dengan penonton. Baginya, hasil itu terasa sempurna. ”Kemenangan 1-0 atas Arsenal adalah skor yang sangat indah. Ya, itu hanya laga pramusim, tetapi berlangsung sangat kompetitif. Saya sudah bilang, melawan Arsenal tidak pernah ada ’persahabatan’,” ujarnya.
Skuad Tottenham seperti sedang bermain di partai puncak turnamen besar. Mereka tampil sangat disiplin, terutama setelah unggul jelang turun minum. Di paruh kedua, Cristian Romero dan rekan-rekan tidak ragu bertahan total dengan blok sangat rendah. Mereka hanya menunggu serangan Arsenal.
Derbi London Utara memang selalu panas dan penuh gengsi. Termasuk di laga terakhir, skuad Arsenal juga enggan kalah. Mereka terus menekan hingga akhir laga. Adapun saat peluit panjang berbunyi, beberapa pemain Tottenham merayakan kemenangan dengan gestur meninju udara.
Namun, permainan negatif Tottenham tampak bukan sekadar insting alami untuk mengalahkan tim rival. Manajer Arsenal Mikel Arteta saja menyadari, pendekatan itu direncanakan pelatih lawan. ”Saya pikir setiap pelatih punya ide dan visi berbeda. Mereka (Postecoglou dan Frank) adalah dua pelatih yang sangat berbeda,” kata Arteta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/31/844d3aa4-8a5f-4926-8956-17e40035ff4c_jpg.jpg)
Di era Postecoglou, Tottenham dikenal sebagai tim yang sangat terbuka dan tidak suka ”parkir bus”. Mereka selalu agresif menekan dengan blok pertahanan tinggi, baik saat tertinggal maupun unggul. Bahkan, saat bermain dengan sembilan orang versus Chelsea pada November 2023, sang pelatih tidak mengubah pendekatannya.
Frank jelas berbeda. Baru pramusim saja, dia sudah ingin menguji kedisiplinan timnya dalam bertahan. Frank mencoba berbagai pendekatan, dari blok medium yang agresif hingga blok rendah yang pasif. Adapun penerapan blok medium itu sempat menjebak Arsenal di tengah lapangan, lalu menjadi gol untuk Tottenham beberapa detik kemudian.
”Di paruh kedua, kami mungkin bertahan sedikit berlebihan. Tetapi, itu tidak bisa dihindari karena pemain mulai kelelahan, saat tim lawan terus mendorong. Terlepas dari itu, saya senang dengan prinsip bertahan kami. Kami bertahan bersama-sama dengan mentalitas untuk mencatat nirbobol. Itu hal penting untuk tim ini,” jelas Frank.
Prinsip Frank sangat jelas. Dia ingin membenahi masalah terbesar Tottenham selama era Postecoglou, yaitu pertahanan. Di musim lalu, ”Si Lili Putih” kemasukan 65 gol dari 38 laga. Hal itu membuat mereka finis di peringkat ke-17 Liga Inggris atau hanya berselisih satu posisi dari zona degradasi.
Kebetulan, Frank dikenal sebagai pelatih yang sangat detail dalam taktik bertahan. Dia bisa menggunakan formasi empat atau tiga bek dengan berbagai ketinggian blok di Brentford. ”Pastinya, kami harus bermain menyerang, berani, dan agresif. Tetapi, kami harus punya hal lain agar bisa cukup untuk memenangi pertandingan,” ujarnya.
Postecoglou, pada awal kepemimpinan, membawa janji surga untuk para penggemar Tottenham. Dia ingin memberikan hiburan dengan permainan terbuka. Itu sempat berhasil diwujudkan pada sepuluh laga pertama di musim 2023-2024. Namun, hal tersebut ternyata hanya sebatas efek fase ”bulan madu” dan tidak berkelanjutan.
Pendekatan ala Postecoglou terlalu riskan. Mereka bermain terbuka dalam setiap kesempatan. Efeknya tidak hanya berpengaruh terhadap hasil, sering kehilangan poin setelah unggul lebih dulu. Pemain juga banyak yang mengalami cedera karena ”dipaksa” bermain agresif sepanjang laga.
Postecoglou sempat dikritik banyak pihak, mulai dari pengamat hingga penggemar, pada pertengahan musim lalu akibat gaya tersebut. Meski begitu, dia menolak berubah. Baginya, sepak bola lebih dari sekadar permainan tentang menang atau kalah. Itu juga tentang memberikan pengalaman unik ke banyak orang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/27/3bacdfb8-e164-467f-ad7f-2dec48d544d3_jpg.jpg)
”Anda pergi ke pertandingan untuk merasakan emosi yang tidak didapatkan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang menggembirakan maupun yang mencemaskan. Itulah yang kami sukai darinya. Ada banyak penderitaan, tetapi jika Anda keluar dari sisi yang benar, itu adalah perasaan yang menggembirakan,” kata Postecoglou kepada The Guardian, Desember 2024.
Postecoglou sangat filosofis. Dia juga begitu idealis dalam mewujudkan mimpi di Tottenham. Mirisnya, semua kata dan konsepnya yang indah seolah buyar di laga terakhir Tottenham musim lalu, saat berhadapan dengan Manchester United dalam final Liga Europa.
Sang pelatih rela menginstruksikan tim asuhannya bermain pragmatis demi menghadirkan gelar juara pertama setelah sekian lama. Momen terbaik Postecoglou justru tercipta saat Tottenham mengkhianati prinsipnya. Itu berarti, konsep Postecoglou selama ini sebenarnya tidak realistis.
Frank, yang datang dengan ide lebih membumi nan realistis, memberikan harapan baru untuk Tottenham. Dia sedang berupaya menambal lubang besar yang ditinggalkan pelatih terdahulu. (AP/AFP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar