Set ke-232, yang berisi tiga koin sen terakhir yang pernah dibuat di AS, laku dijual seharga 800.000 dollar AS atau setara Rp 13,3 miliar.
17 Des 2025 12:19 WIB · Internasional
AP/David Zalubowski
Uang 1 sen AS, bagi sebagian besar orang, mungkin dianggap tidak bernilai. Namun, beberapa kolektor uang koin memiliki pendapat yang berbeda. Setelah digunakan dan beredar selama 232 tahun, koin 1 sen akhirnya tidak lagi diproduksi.
Saat pertama kali diperkenalkan pada 1793, satu penny (sebutan untuk mata uang terkecil) bisa membeli biskuit atau permen. Sekarang sebagian besar hanya disimpan di dalam toples atau laci berisi barang-barang tak terpakai.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/17/85d0a4da-87c4-462f-9099-bf98c5288c28_jpg.jpg)
Biaya pembuatan setiap koin 1 sen hampir 4 sen. Bagi pemerintah Trump, ini dinilai pemborosan. ”Sudah terlalu lama Amerika Serikat mencetak uang (1) sen yang harganya benar-benar lebih dari 2 sen,” tulis Trump dalam sebuah unggahan daring di bulan Februari lalu.
Ketika koin terakhir muncul, pada November lalu, para pria dan wanita bertepuk tangan dan bersorak satu sama lain. Koin-koin tersebut kemudian dengan hati-hati diletakkan di atas nampan agar dapat dilihat oleh para jurnalis. Beberapa sen terakhir akan dilelang.
Diperkirakan masih ada 250 miliar sen yang beredar di AS, dan akan tetap menjadi alat pembayaran yang sah. Akan tetapi, uang baru tidak akan dibuat lagi. Koin AS terakhir yang dihentikan produksinya adalah setengah sen pada 1857.
Lelang sen terakhir
Percetakan Uang Amerika Serikat berhasil menjual 232 set koin 3 sen dengan harga fantastis sebesar 16,76 juta dollar AS. Lelang diadakan pada Kamis (11/12/2025) oleh Stack's Bowers Galleries.
Pemenang lelang juga mendapatkan tiga cetakan yang digunakan untuk mencetak koin sen Lincoln tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/13/744108a4-cc80-4a03-a33b-c412921fd8b5_jpg.jpg)
John Kraljevich, direktur numismatik Amerika di Stack's Bowers, mengatakan bahwa jenis lelang ini, penawar tidak mengetahui nilai pasar barang-barang tersebut sampai orang-orang mengajukan penawaran mereka. Koin-koin itu menjadi peninggalan sejarah bagi para kolektornya, (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto