Korban keracunan seusai mengonsumsi menu makan bergizi gratis (MBG) terus berjatuhan, tetapi programnya tetap dilanjutkan. Ketahui langkah awal untuk menanganinya.
26 Sep 2025 14:13 WIB · Kesehatan
Lebih dari 5.000 siswa di Indonesia menjadi korban keracunan seusai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka mengalami sakit perut hingga muntah-muntah. Bahkan, sebagian harus dirawat di rumah sakit. Lalu, bagaimana cara menanganinya?
Keracunan berbeda dengan alergi makanan. Keracunan terjadi akibat mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, baik yang berasal dari bakteri, racun, parasit, virus, maupun bahan kimia.
Sementara alergi merupakan reaksi sistem imun tubuh terhadap protein tertentu pada makanan yang dianggap berbahaya oleh tubuh seseorang. Namun, bagi individu lain yang tidak memiliki alergi, reaksi tubuhnya baik-baik saja.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak (UKK ETIA) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Yogi Prawira mengatakan, hampir 6.000 anak keracunan makanan pascamengonsumsi menu MBG. ”Tentu kita mendukung program (MBG) pemerintah. Namun, pada saat terjadi satu kejadian luar biasa, waktunya kita untuk melakukan mitigasi dan bersama-sama belajar, apa sih yang kita bisa perbaiki ke depannya,” katanya dalam diskusi media secara daring, Kamis (25/9/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/26/176f5ecdffcaed68954672f350702fa4-IMG_20250926_WA0035.jpg)
Yogi mengatakan, penyebab keracunan makanan cukup beragam. Beberapa bakteri yang sering dilaporkan menjadi penyebabnya adalah Salmonella, E Coli, Listeria, dan Clostridium botulinum. Ada juga yang disebabkan virus, salah satunya, Hepatitis A. Penyebab lainnya adalah parasit dan bahan kimia.
Tubuh manusia sebenarnya punya mekanisme pertahanan. Jadi, saat menerima asupan makanan atau minuman yang terkontaminasi, tubuh akan merespons untuk mengeluarkannya, seperti dengan mual, muntah, nyeri perut, buang air besar (BAB) cair, bahkan terkadang hingga BAB berdarah.
Dapat pula timbul gejala lebih sistemik yang tidak hanya mengganggu saluran cerna, tetapi juga menyebabkan demam, terutama jika disebabkan bakteri atau toksin. Gejala lainnya adalah nyeri kepala dan pandangan kabur untuk keracunan tertentu, salah satunya yang disebabkan bakteri Clostridium botulinum.
”Yang harus kita waspadai adalah tanda-tanda dehidrasi. Sebab, dengan adanya muntah dan diare, anak akan berisiko mengalami kekurangan cairan,” ucapnya. Jadi, saat terlihat mukosa, mulut kering, anak meminta minum terus-menerus, pusing, dan warna air seni lebih pekat, kemungkinan sudah terjadi dehidrasi dan kondisinya bisa berbahaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/f98fd4f32f16f461a55a6751a9e29ecb-20250925AGS_44.jpg)
Yogi menyebutkan, keracunan dapat menimbulkan kejadian luar biasa karena satu sumber makanan bisa mencemari banyak orang. Sementara alergi hanya dialami beberapa individu yang memiliki riwayat sensitivitas terhadap bahan makanan tertentu.
Sebagian besar kasus keracunan makanan memang tidak mematikan. Namun, dalam beberapa kasus, juga diperlukan rawat inap di rumah sakit.
”Ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi, contohnya gangguan ginjal, peradangan sendi, serta gangguan pada otak dan saraf,” katanya.
Oleh sebab itu, sangat penting mengedukasi orangtua dan guru untuk memahami gejala dan menangani keracunan makanan yang dialami anak atau siswa. Salah satu gejala paling umum adalah muntah-muntah. Saat gejalanya bertambah parah, harus segera diperiksa oleh dokter.
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk pertolongan pertama? Yogi menuturkan, anak yang mengalami keracunan perlu diistirahatkan terlebih dahulu. Hal ini diperlukan untuk membantu pemulihan.
”Walaupun muntah-muntah, tetap didorong untuk minum yang banyak. Mungkin dengan cara diberikan sedikit-sedikit dengan porsi yang kecil, tapi sering sehingga bisa mengganti cairan yang keluar tadi. (Minum) bisa dengan air atau oralit,” jelasnya.
Pemberian obat-obatan yang bisa menghentikan diare tidak disarankan. Sebab, hal ini dapat menahan keluarnya bakteri atau toksin yang mengontaminasi makanan dan minuman dari dalam tubuh.
Setelah muntah dan diare berhenti, anak juga dapat diberi makanan ringan yang lembut dalam porsi kecil, seperti bubur, pisang, dan roti. Berikan makanan yang tidak pedas dan tidak merangsang asam lambung.
”Hindari pemberian susu atau bahan-bahan yang mengandung kopi karena kadang-kadang juga bisa terjadi gangguan absorpsi terhadap protein susu,” ujarnya.
Pemberian obat-obatan yang bisa menghentikan diare tidak disarankan. Sebab, hal ini dapat menahan keluarnya bakteri atau toksin yang mengontaminasi makanan dan minuman dari dalam tubuh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/24/dbb1da5050294b79d31f3185da37a080-20250924_H01_ADI_Keracunan_MBG_mumed.jpg)
Dalam pencegahan, orangtua, guru, atau petugas sekolah perlu diedukasi untuk mengenali makanan dan minuman yang tidak layak konsumsi. Gunakan pancaindera, misalnya, untuk mengamati perubahan warna makanan. Kemudian, perhatikan apakah terdapat lendir di permukaan makanan.
”Strukturnya berubah. Yang harusnya padat jadi melunak, yang harusnya cair jadi menggumpal, kemudian mungkin jadi terpisah,” katanya.
Selain itu, cium bau makanan untuk mengidentifikasi kelaikannya. Jika tercium bau busuk atau seperti bau belerang, kemungkinan hal itu akibat penguraian dari protein.
”Apakah baunya asam, menyengat, misalnya dari fermentasi dari karbohidrat. Kemudian bau tengik, seperti bau karton atau bau cat, itu akibat oksidasi dari lemak. Bau apek, lembab, bisa karena pertumbuhan jamur,” jelasnya.
Yogi menambahkan, terdapat beberapa cara untuk menjaga kebersihan dan keamanan makanan yang dikonsumsi anak. Biasakan mencuci tangan sebelum makan serta memakai alat-alat makan yang steril. Selain itu, gunakan sumber air yang bersih serta hindari mencampur makanan mentah dengan makanan yang sudah matang.
Meskipun kasus keracunan akibat mengonsumsi menu MBG terus terjadi, program ini tetap dilanjutkan. Pemerintah menyatakan akan mengevaluasi program MBG dan menangani kasus keracunan tanpa menghentikan program secara total.
Wakil Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden Juri Ardiantoro mengatakan, kasus keracunan pada siswa seusai menyantap makanan dari program MBG merupakan sesuatu yang tidak diharapkan. Pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi masalah itu.
”Yang penting kita menyelamatkan program yang baik ini karena program ini, kan, dibutuhkan oleh anak-anak, oleh masyarakat. Dengan demikian, jangan sampai terjadi demoralisasi dalam program ini karena kasus seperti ini. Pasti akan kita cari jalan keluar untuk mengatasi kejadian-kejadian yang tidak diharapkan ini,” katanya di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Rabu (24/9/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/02/da39a08e-2709-4532-a6e4-d1ece909c05d.jpg)
Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso menyampaikan keprihatinannya atas jatuhnya ribuan korban anak-anak setelah mengonsumsi menu MBG. Pihaknya berharap keracunan serupa dapat dicegah mengingat program MBG masih terus berjalan.
”Yang terjadi beberapa waktu belakangan yang heboh di media itu memang keracunan makanan, bukan alergi makanan. Sebab, ini terjadi bersamaan dalam satu waktu dan mengenai ribuan anak,” ucapnya.
Piprim menilai dibutuhkan langkah penanganan yang sistematis untuk mengatasi keracunan makanan tersebut. Menurut dia, MBG punya tujuan baik untuk memberikan asupan gizi kepada siswa. Namun, teknis pelaksanaannya perlu dikawal agar tidak melenceng dari tujuannya.
”Jangan sampai kemudian kita abai terhadap pencegahan keracunan ini sehingga naudzubillah tiba-tiba muncul korban jiwa. Ini sangat-sangat tidak kita harapkan,” katanya.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari