HANOI, SELASA — Sikap keras Vietnam kepada China menjadi salah satu faktor Vietnam mendapatkan tarif bea masuk impor rendah ke Amerika Serikat. Dari tujuh anggota ASEAN yang telah diketahui tarifnya, Vietnam paling rendah.
Presiden AS Donald Trump mengungkap tarif untuk enam negara ASEAN pada Senin (7/7/205) malam waktu Washington DC atau Selasa pagi WIB. Laos dan Myanmar diganjar 40 persen. Kamboja dikenai 36 persen. Indonesia dipatok 32 persen dan Malaysia kena 25 persen.
Pengumuman untuk Vietnam diungkap pekan lalu. Hanoi mendapat 20 persen. Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan Vietnam akan dikenai tarif 46 persen.
”Meski Trump suka tarif, AS perlu mitra dagang, khususnya pada negara seperti Vietnam yang punya keuntungan komparatif di manufaktur berbasis pekerja. Dengan demikian, tarif tetap tinggi. Walakin, tetap ada batas,” kata Trinh Nguyen, ekonom pada bank investasi Natixis.
Di antara mitra dagang AS, Vietnam adalah salah satu yang paling rentan bila kehilangan akses ke pasar AS. Tenaga kerja menjadi salah satu andalan negeri Asia itu untuk bisa bersaing.
”Pasar tenaga kerja AS ketat, dan tidak bisa, serta tidak mau terspesialisasi pada semua bidang,” lanjutnya.
Sikap keras
Beberapa jam menjelang pengumuman Trump pada Senin, Vietnam menetapkan tarif antidumping untuk baja canai panas dari China. Tarifnya mencapai 27,8 persen dan berlaku lima tahun sejak 6 Juli 2025.
Hanoi berkilah, tarif dikenakan setelah penyelidikan sejak Juli 2024. Penyelidikan dimulai setelah ada pengaduan dari Hoa Phat Dung Quat Steel Company dan Hung Nghiep Formosa Ha Tinh Steel Corporation.
Bukan cuma baja, Vietnam juga membidik sejumlah komoditas lain dari China. Pada pekan kedua April 2025, Vietnam menyiapkan rencana pemberangusan impor dari China. Komoditas yang akan diekspor ulang ke AS jadi sasaran pemberangusan itu.
Meski Trump suka tarif, AS perlu mitra dagang, khususnya pada negara seperti Vietnam.
Di sisi lain, Vietnam menawarkan pembebasan total bea masuk untuk semua produk impor dari AS. Pada 2024, Vietnam mengekspor senilai 142 miliar dollar AS ke AS dan mengimpor senilai 13 miliar dollar AS.
Namun, menurut Trinh, pembebasan bea masuk impor produk AS ke Vietnam tidak banyak bermakna. Soal pangan, warga Vietnam punya pilihan unik dan tidak bisa dipasok oleh AS. Soal komoditas elektronik, harga produk AS terlalu tinggi dan tidak terjangkau kebanyakan warga Vietnam. ”Masalahnya di harga, bukan di tarif (bea masuk),” katanya.
”Kesepakatan AS-Vietnam jelas bukan cuma soal perdagangan. Ini jelas ditujukan ke China. Maknanya, merintangi arus barang dari China yang sering masuk melalui Vietnam demi menghindari tarif di AS,” kata dosen hukum ekonomi internasional pada China University of Hong Kong, Julien Chaisse, kepada Financial Times.
”Mereka (negara mitra dagang AS) diharapkan mengurangi perdagangan dengan China,” kata ekonom kepala pada Capital Economist, Mark Williams.
Sikap Beijing
Oleh karena itu, wajar jika Beijing bereaksi keras pada kesepakatan Hanoi-Washington DC. Sehari setelah Hanoi-Washington menyepakati tarif, Beijing mengumumkan sedang menelaah mendalam kesepakatan itu.
”Kami dengan tegas menentang semua kesepakatan yang mengorbankan kepentingan China. Kalau situasi itu terjadi, China akan mengambil langkah tegas untuk menjaga hak dan kepentingan sah,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China.
Dosen pada Hong Kong University, Brian Wong, menyebut pejabat China tahu bahwa AS akan kesulitan menerapkan tarif 40 persen pada komoditas China yang dituding transit ke negara lain. Mata rantai perdagangan global amat rumit dan banyak perusahaan lihai mengakali peraturan.
Direktur Eksekutif Kadin AS di Vietnam Adam Sitkoff menyebut bahwa perincian kesepakatan AS-Vietnam belum jelas. Salah satunya, apakah tarif 20 persen itu final atau akan ditambahkan pada tarif lain.
”Sulit menilai dampak tanpa memeriksa perincian. Apakah tarif 40 persen berlaku pada semua produk yang mengandung bahan dari negara lain? Jawabannya belum jelas,” katanya. (AP/AFP)
HANOI, SELASA — Sikap keras Vietnam kepada China menjadi salah satu faktor Vietnam mendapatkan tarif bea masuk impor rendah ke Amerika Serikat. Dari tujuh anggota ASEAN yang telah diketahui tarifnya, Vietnam paling rendah.
Presiden AS Donald Trump mengungkap tarif untuk enam negara ASEAN pada Senin (7/7/205) malam waktu Washington DC atau Selasa pagi WIB. Laos dan Myanmar diganjar 40 persen. Kamboja dikenai 36 persen. Indonesia dipatok 32 persen dan Malaysia kena 25 persen.
Serial Artikel
Trump Kirim ”Surat Cinta” Tarif ke 14 Negara, Tarif untuk Indonesia Tetap 32 Persen
Surat berisi penetapan tarif. Tarif untuk sejumlah negara turun dibanding tarif pada 2 April. Untuk sejumlah negara masih terbuka peluang berunding.
Pengumuman untuk Vietnam diungkap pekan lalu. Hanoi mendapat 20 persen. Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan Vietnam akan dikenai tarif 46 persen.
”Meski Trump suka tarif, AS perlu mitra dagang, khususnya pada negara seperti Vietnam yang punya keuntungan komparatif di manufaktur berbasis pekerja. Dengan demikian, tarif tetap tinggi. Walakin, tetap ada batas,” kata Trinh Nguyen, ekonom pada bank investasi Natixis.
Di antara mitra dagang AS, Vietnam adalah salah satu yang paling rentan bila kehilangan akses ke pasar AS. Tenaga kerja menjadi salah satu andalan negeri Asia itu untuk bisa bersaing.
”Pasar tenaga kerja AS ketat, dan tidak bisa, serta tidak mau terspesialisasi pada semua bidang,” lanjutnya.
Sikap keras
Beberapa jam menjelang pengumuman Trump pada Senin, Vietnam menetapkan tarif antidumping untuk baja canai panas dari China. Tarifnya mencapai 27,8 persen dan berlaku lima tahun sejak 6 Juli 2025.
Hanoi berkilah, tarif dikenakan setelah penyelidikan sejak Juli 2024. Penyelidikan dimulai setelah ada pengaduan dari Hoa Phat Dung Quat Steel Company dan Hung Nghiep Formosa Ha Tinh Steel Corporation.
Bukan cuma baja, Vietnam juga membidik sejumlah komoditas lain dari China. Pada pekan kedua April 2025, Vietnam menyiapkan rencana pemberangusan impor dari China. Komoditas yang akan diekspor ulang ke AS jadi sasaran pemberangusan itu.
Meski Trump suka tarif, AS perlu mitra dagang, khususnya pada negara seperti Vietnam.
Di sisi lain, Vietnam menawarkan pembebasan total bea masuk untuk semua produk impor dari AS. Pada 2024, Vietnam mengekspor senilai 142 miliar dollar AS ke AS dan mengimpor senilai 13 miliar dollar AS.
Namun, menurut Trinh, pembebasan bea masuk impor produk AS ke Vietnam tidak banyak bermakna. Soal pangan, warga Vietnam punya pilihan unik dan tidak bisa dipasok oleh AS. Soal komoditas elektronik, harga produk AS terlalu tinggi dan tidak terjangkau kebanyakan warga Vietnam. ”Masalahnya di harga, bukan di tarif (bea masuk),” katanya.
Serial Artikel
Vietnam-AS Sepakati Tarif, Indonesia Diharapkan Tidak Panik
Pemerintah diharapkan tetap percaya diri dengan penawaran kedua yang sudah diterima delegasi AS untuk menangkal tarif resiprokal terhadap produk Indonesia.
”Kesepakatan AS-Vietnam jelas bukan cuma soal perdagangan. Ini jelas ditujukan ke China. Maknanya, merintangi arus barang dari China yang sering masuk melalui Vietnam demi menghindari tarif di AS,” kata dosen hukum ekonomi internasional pada China University of Hong Kong, Julien Chaisse, kepada Financial Times.
”Mereka (negara mitra dagang AS) diharapkan mengurangi perdagangan dengan China,” kata ekonom kepala pada Capital Economist, Mark Williams.
Sikap Beijing
Oleh karena itu, wajar jika Beijing bereaksi keras pada kesepakatan Hanoi-Washington DC. Sehari setelah Hanoi-Washington menyepakati tarif, Beijing mengumumkan sedang menelaah mendalam kesepakatan itu.
”Kami dengan tegas menentang semua kesepakatan yang mengorbankan kepentingan China. Kalau situasi itu terjadi, China akan mengambil langkah tegas untuk menjaga hak dan kepentingan sah,” demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China.
Dosen pada Hong Kong University, Brian Wong, menyebut pejabat China tahu bahwa AS akan kesulitan menerapkan tarif 40 persen pada komoditas China yang dituding transit ke negara lain. Mata rantai perdagangan global amat rumit dan banyak perusahaan lihai mengakali peraturan.
Direktur Eksekutif Kadin AS di Vietnam Adam Sitkoff menyebut bahwa perincian kesepakatan AS-Vietnam belum jelas. Salah satunya, apakah tarif 20 persen itu final atau akan ditambahkan pada tarif lain.
”Sulit menilai dampak tanpa memeriksa perincian. Apakah tarif 40 persen berlaku pada semua produk yang mengandung bahan dari negara lain? Jawabannya belum jelas,” katanya. (AP/AFP)