Indonesia dan Perancis sepakat memperkuat kerja sama bidang budaya. Kerja sama itu meliputi beberapa bidang, antara lain mode, perfilman, desain, dan sastra.
28 Mei 2025 19:32 WIB · Dikbud
JAKARTA, KOMPAS – Menteri Kebudayaan Perancis Rachida Dati mengatakan, kerja sama bidang budaya antara Perancis dan Indonesia sama pentingnya dengan bidang militer, industri, serta keamanan. Kesepakatan kerja sama itu harus direalisasikan dalam program nyata dengan melibatkan pelaku seni budaya di kedua negara.
Dati ikut dalam kunjungan Presiden Perancis Emmanuel Macron ke Indonesia. Presiden Macron dan Presiden RI Prabowo Subianto menyepakati kerja sama di berbagai bidang, salah satunya kebudayaan.
Dati mengatakan, kerja sama kebudayaan itu meliputi berbagai bidang, di antaranya mode, perfilman, desain, dan sastra. “Kerja sama ini harus dimulai dan direalisasikan dalam program yang nyata,” ujarnya saat mengunjungi Bentara Budaya Jakarta, Rabu (28/5/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/5c4d958e7532e3a2afc3110377a47854-20250528nut006.jpg)
Di Bentara Budaya Jakarta, Dati bersama penulis Laksmi Pamuntjak meluncurkan logo dan proyek “Ayo Baca”. Program ini dijalankan oleh Institut Français d'Indonésie (IFI) bekerja sama dengan Gramedia. Salah satu tujuan program tersebut adalah meningkatkan kegemaran membaca di Tanah Air, termasuk melalui literatur kontemporer Perancis.
Kunjungan ini menjadi momen bersejarah karena bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Perancis. Selain itu, momen ini juga untuk pertama kalinya Menteri Kebudayaan Perancis berkunjung ke Indonesia.
“Kami percaya kerja sama budaya harus menjadi pilar yang sama pentingnya dengan kerja sama di bidang industri, militer, dan keamanan guna membangun pemahaman dan masa depan bersama,” katanya.
Keseluruhan proyek sastra ini dibagi dalam tiga fase. Pada fase pertama terdapat penghargaan Mon Coup de Coeur Francophone. Novel berbahasa Perancis terpilih akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Kami percaya kerja sama budaya harus menjadi pilar yang sama pentingnya dengan kerja sama di bidang industri, militer, dan keamanan guna membangun pemahaman dan masa depan bersama.
Fase kedua adalah pembuatan perpustakaan keliling. Sebuah kendaraan yang membawa buku-buku akan melintasi Pulau Jawa dan menawarkan buku-buku itu kepada anak-anak, mulai dari siswa sekolah dasar hingga menengah. Sementara fase ketiga meliputi serangkaian lokakarya penerjemahan untuk mendorong munculnya generasi baru penerjemah sastra Perancis-Indonesia.
Kunjungan Dati juga berfokus pada industri kreatif, khususnya fesyen. Ia sempat menemui perwakilan program PINTU, sebuah inkubator Perancis-Indonesia yang mendukung generasi baru perancang busana sejak 2022.
Program ini memungkinkan para desainer Indonesia untuk memamerkan karya mereka di pameran yang terkait dengan Paris Fashion Week. Sementara para desainer Perancis mengeksplorasi pengetahuan dan teknik dari Indonesia serta menampilkan kreasi mereka di Jakarta Fashion Festival. Lebih dari 80 orang telah menerima manfaat dari program ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/4679b4da2d80ea7b42678d40ba124dd4-20250528nut009.jpg)
Salah satu pendiri program PINTU, Thresia Mareta, mengatakan, kerja sama budaya Indonesia-Perancis itu memungkinkan pertukaran pelaku seni budaya dari kedua negara. Tahun ini juga akan dilakukan program residensi dalam bidang fesyen.
“Kita bisa saling bertukar ilmu dan mendapatkan pandangan baru tentang apa yang kita kembangkan selama ini. Kita akan mengundang dua desainer dari Perancis. Mereka kemudian bekerja sama dengan perajin tenun dan batik di Indonesia,” ucap Mareta.
Residensi ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan. Hasil karya residensi akan dipamerkan di Indonesia dan berpeluang mengikuti pameran busana di Paris.
“Ini langkah nyata kami untuk memperkuat jaringan di dunia internasional supaya keterampilan tangan kita, budaya kita, bisa semakin dikenal,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/777eff0075084661a3b6d1e4758022a1-20250528nut016.jpg)
Kunjungan Menteri Dati itu juga dihadiri sejumlah pihak, di antaranya komponis Addie MS, penyanyi Anggun C Sasmi, dan pemeran Slamet Rahardjo. Hadir pula Direktur IFI Jules Irrmann, Corporate Communication Director Kompas Gramedia Glory Oyong, dan General Manager Bentara Budaya Ilham Khoiri.
Addie MS berharap, kerja sama budaya Indonesia-Perancis dapat memperkuat kolaborasi pelaku seni budaya dari kedua negara. Kolaborasi itu bisa saling memengaruhi dan memperkaya warna kebudayaan.
Addie mencontohkan, pada 1889, komponis asal Perancis, Claude Debussy, terpukau dengan suara gamelan asal Indonesia yang ditampilkan pada Exposition Universelle Paris. “Sejak saat itu, karya-karyanya sangat terpengaruh oleh pentatonik gamelan. Ini salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang bisa mengharmonisasikan perbedaan,” ujarnya.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari