Teater Musikal ”C’est la Vida!” Memadukan Ekspresi Serba-serbi Kehidupan

Teater musikal ”C’est la Vida!” yang dipentaskan kelompok tari-teater asal Perancis, Compagnie De Fakto, menghibur ratusan penonton di Bentara Budaya Jakarta.

20 Mar 2025 20:30 WIB · Humaniora

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

JAKARTA, KOMPAS — Kelompok tari-teater asal Perancis, Compagnie De Fakto, tampil memukau di hadapan ratusan penonton di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (20/3/2025). Mereka menampilkan teater musikal ”C’est la Vida!” yang memadukan ekspresi serba-serbi kehidupan. Ekspresi bahagia, sedih, lucu, kecewa, dan romantis mewarnai seni pertunjukan yang berlangsung sekitar 50 menit itu.

Teater musikal ini disajikan dua penari David Walther dan Liesbeth Kiebooms. Tak cuma menari, keduanya juga berpantomim diiringi musik bernuansa hiphop. Penampilan ini disutradarai seniman Perancis, Aurelien Kairo.

Alunan musik hiphop bertempo kencang mengawali penampilan teater musikal tersebut. David dan Liesbeth kompak menari sambil menebarkan bunga di sekelilingnya. Senyum keduanya pun merekah. Tari dengan gerakan yang relatif cepat membuat kedua seniman itu terengah-engah.

Ekspresi ceria seketika berubah saat musik latar berganti menjadi suara hujan. Tubuh Liesbeth meringkuk kedinginan. David datang menawarkan payung. Liesbeth pun tersipu.

Dua penari David Walther dan Liesbeth Kiebooms mementaskan teater musikal Prancis "C'est la Vida!" di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (20/3/2025). Pertunjukan tersebut merupakan rangkaian acara Pekan Frankofoni 2025 dan akan mengunjungi beberapa kota di Indonesia

Akan tetapi, nuansa pementasan berubah menjadi kelucuan saat David kesulitan berusaha membuka payung. Ia menariknya sekuat tenaga, sampai-sampai kepalanya masuk ke payung yang terkatup. Adegan ini pun mengundang tawa penonton.

Teater musikal ini menceritakan hubungan sepasang kekasih, mulai dari saat mereka berkenalan, menikah, mempunyai anak, hingga masa tuanya. Banyak drama kehidupan dilalui, tetapi mereka tetap mampu mempertahankan hubungan.

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan Syaifullah Agam yang menyaksikan teater itu mengatakan, meskipun tidak memahami bahasa yang digunakan, dirinya tetap dapat memahami cerita yang disampaikan. ”Seni itu bahasa universal. Kita tak memahami bahasanya, tetapi bisa menangkap pesannya lewat gerak tubuh dan ekspresinya,” ujarnya.

Quote

Ekspresi ceria seketika berubah saat musik latar berganti menjadi suara hujan. Tubuh Liesbeth meringkuk kedinginan. David datang menawarkan payung. Liesbeth pun tersipu.

Menurut Syaifullah, seni budaya dapat menjadi cakrawala baru dalam mempererat hubungan antarnegara. Teater musikal juga medium yang kreatif untuk mengenalkan kekayaan bangsa lewat seni pertunjukan.

”Apalagi, Indonesia negara yang sangat beragam budayanya. Dari Sabang sampai Merauke, budayanya berbeda-beda. Keberagaman ini bisa dikenalkan lewat teatrikal musikal seperti yang kita saksikan barusan,” ucapnya.

Tampil hampir 1 jam dengan berbagai gerakan membuat David dan Liesbeth cukup kelelahan. Keringat membasahi kulit dan pakaian mereka. Namun, agar pementasan itu semakin berkesan, keduanya mengajak penonton menari bersama di akhir pertunjukan.

Dua penari David Walther dan Liesbeth Kiebooms mementaskan teater musikal Prancis "C'est la Vida!" di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (20/3/2025). Pertunjukan tersebut merupakan rangkaian acara Pekan Frankofoni 2025 dan akan mengunjungi beberapa kota di Indonesia

”Kita masih punya waktu 5 menit. Mari menari bersama. Ikuti gerakan yang kami lakukan,” ujarnya sambil memperagakan tarian sederhana yang diikuti pengunjung.

Pekan Frankofoni

Sebelum tampil di Bentara Budaya Jakarta, teater musikal ”C’est la Vida!” telah dipentaskan di Kota Bandung, Yogyakarta, dan Malang. C’est la Vida merupakan ungkapan gabungan dua bahasa, Spanyol dan Perancis, yang berarti ”inilah kehidupan”.

Direktur Institut Francais Indonesia (IFI) Jules Irrmann menuturkan, pementasan ”C’est la Vida!” merupakan bagian dari penyelenggaraan Pekan Frankofoni 2025 yang berlangsung pada 17-22 Maret. Kegiatan ini juga sebagai upaya untuk mempromosikan bahasa dan budaya Perancis.

Dua penari David Walther dan Liesbeth Kiebooms mementaskan teater musikal Prancis "C'est la Vida!" di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (20/3/2025). Pertunjukan tersebut merupakan rangkaian acara Pekan Frankofoni 2025 dan akan mengunjungi beberapa kota di Indonesia

”Penutur bahasa Perancis mencapai 321 juta jiwa di lima benua. Pekan ini kami merayakannya dengan menggelar ratusan acara di berbagai kota di Indonesia, dari Medan hingga Makassar,” ucapnya.

Corporate Communication Director of Kompas Gramedia Glory Ojong mengatakan, teater musikal ”C’est la Vida!” merupakan penampilan seni pertunjukan yang unik karena mengombinasikan tarian dengan musik dan pantomim. Ia pun berterima kasih karena pihaknya dapat berkolaborasi dengan IFI untuk menggelar teater musikal yang dipentaskan kelompok tari-teater asal Kota Lyon, Perancis, itu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan