Kerja Senyap Mengejar Gencatan Senjata AS-Israel dengan Iran

Di tengah saling meledakkan, para pihak tetap berusaha mencari cara berunding dan menghentikan pertempuran. Jalur belakang diplomasi jadi andalan.

24 Jun 2025 16:21 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

Setelah ribuan rudal, roket, dan bom berharga total miliaran dollar AS meledak, gencatan senjata disepakati. Jalur belakang lintas negara menjadi kunci meredakan ketegangan yang amat ditakuti itu.

Mulai Selasa (24/6/2025), Amerika Serikat dan Israel menyepakati gencatan senjata dengan Iran. ”Saya pikir gencatan senjata tidak terbatas. Akan selamanya,” kata Presiden AS Donald Trump seraya menyebut Israel akan berhenti menyerang Iran dan Iran stop membalas.

Gencatan yang diumumkan Trump, menurut The New York Times, cuma diketahui amat sedikit orang. Para petinggi AS-Israel terkejut.

Bahkan, menurut sumber di Gedung Putih, Trump mengumumkan itu sebelum Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setuju. ”Kami mau kesepakatan dan tidak mau perang lagi,” kata Trump ke Netanyahu.

Kepada Axios, sumber di Gedung Putih menyebut bahwa Trump menyampaikan itu ke Netanyahu setelah 75 bom, rudal, dan roket AS meledak di Iran. Sejak AS menyerang tiga reaktor nuklir Iran pada Minggu dini hari, telepon berdering tanpa henti di Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS.

Trump menugasi Wakil Presiden AS, Menlu AS Marco Rubio, dan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff menelepon ke tiga negara. Mereka berbicara dengan pejabat Israel, Iran, dan Qatar. Mereka, antara lain, menelepon PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani.

Sementara Trump fokus berunding dengan Netanyahu dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Thani. Trump mengejar persetujuan pokok dengan Netanyahu dan Sheikh Tamim. Trio bawahannya mengurus teknis pelaksanaan persetujuan.

Kepada Sheikh Tamim, Trump memastikan bisa membuat Israel menyetujui gencatan senjata. Karena itu, ia memohon Sheikh Tamim meyakinkan Iran agar setuju juga.

Jalur belakang

Qatar berperan penting dalam peredaan itu. Doha membuat jalur komunikasi antara Teheran, Washington DC, dan Tel Aviv tetap terbuka. Dalam diplomasi, jalur yang diam-diam dijaga itu disebut jalur belakang. Sejarah mencatat, berulang kali jalur belakang bisa mencegah konflik membesar.

Teheran dan Doha rutin berkomunikasi soal perkembangan serangan AS-Israel ke Iran. Pesan dari Iran diteruskan Qatar ke AS-Israel. Sebaliknya, sebagian pesan dari AS-Israel diteruskan Qatar ke Iran.

Kala mengumumkan Operasi Godam Tengah Malam, nama AS untuk serangan ke Iran, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyinggung jalur itu. ”Kami menyampaikan pesan melalui berbagai saluran,” katanya tanpa memaparkan lebih lanjut.

Dilaporkan CNN, AS mengirimkan sejumlah pesan ke Iran lewat jalur belakang itu sebelum melancarkan Operasi Godam Tengah Malam. Intinya, serangan ke Iran akan fokus dan terbatas.

Sejumlah pejabat AS-Israel menyebut, ada banyak truk bergerak di sekitar fasilitas nuklir Iran menjelang serangan AS. Sebagian truk menumpahkan tanah ke mulut-mulut terowongan bawah tanah. Sebagian keluar masuk saja dari terowongan yang menjadi akses gudang penyimpanan alat dan aneka hal soal nuklir Iran itu.

Di sisi lain, menurut Axios dan CNN, Iran juga mengirimkan pesan lewat jalur belakang sebelum menyerang pangkalan AS di Qatar. Intinya, Iran akan membalas Godam Tengah Malam. Caranya, menyerang pangkalan yang secara simbolik penting bagi AS.

Pangkalan Al Udeid di Qatar merupakan lanud besar AS di kawasan. Walakin, semua pesawat di lanud itu sudah dipindah ke lanud di negara lain sejak akhir pekan lalu.

Pada Senin (23/6/2025) dini hari waktu Doha, Iran memberi tahu Qatar soal rencana serangan ke Al Udeid. Dari 14 rudal, 13 dijatuhkan. Sementara satu lagi melintas di atas pangkalan sebelum menghantam gedung di luar lanud.

Trump disebut berterima kasih kepada Sheikh Tamim atas perannya meredakan ketegangan. Secara khusus, ia berterima kasih atas pemberitahuan awal soal rencana serangan ke Al Udeid.

Capture rekaman AFPTV ini menunjukkan sisa-sisa rudal Iran yang dicegat di atas Qatar, terletak di trotoar dekat pagar pada 23 Juni 2025. Qatar mengatakan pada 23 Juni, situasi keamanan "stabil" setelah serangan rudal Iran yang menargetkan pangkalan AS di wilayahnya sebagai pembalasan atas serangan Amerika di lokasi nuklir Iran.

Cari jalan

Pesan soal rencana serangan hanyalah sebagian dari upaya meredakan ketegangan selepas Israel menyerang Iran. Fungsi utama jalur belakang itu mencari cara Israel berhenti menyerang Iran.

Dalam berbagai kesempatan, Iran menekankan hanya membalas serangan Israel. Begitu Israel berhenti menyerang, Iran berhenti membalas.

Selepas pengumuman Trump soal gencatan senjata, Menlu Iran Abbas Aragchi kembali menyampaikan itu. Di berbagai kesempatan sebelumnya, Aragchi dan sejumlah pejabat Iran juga menyampaikan itu. Secara tidak langsung, Iran mengisyaratkan siap gencatan senjata.

Dalam wawancara yang disiarkan Sky News pada 19 Juni 2025, Kolonel (Purn) Zohar Palti menyebut gencatan senjata akan tercapai dalam beberapa hari. Palti pernah menjadi Direktur Intelijen Mossad, lembaga intelijen Israel. Ia juga pernah menjadi Kepala Biro Politik pada Kementerian Pertahanan Israel.

Menurut Axios dan CNN, AS-Qatar intensif menjalankan diplomasi sejak Israel menyerang Iran. Bahkan, ada upaya mempertemukan Trump dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada pekan lalu. Sampai akhirnya AS menyerang Iran dan Trump mengumumkan gencatan senjata, pertemuan tidak terwujud.

Upaya itu menunjukkan, di tengah serangan yang saling meledakkan, para pihak tetap berusaha mencari cara berunding dan menghentikan pertempuran. Untuk saat ini, para pihak setuju meredakan saling tembak.

Tahap selanjutnya, kembali ke isu pokok: nuklir Iran. AS menuntut Iran tidak mengayakan uranium melebihi batas keperluan sipil. Hal itu berarti aras pengayaan di bawah 5 persen. AS, kata Rubio, siap merundingkan itu.

Sementara dalam berbagai kesempatan, Pezeshkian dan para pejabat Iran menekankan bahwa pengayaan uranium adalah hak Iran. Hak itu akan dipertahankan.

Pengamat geopolitik AS, Ian Bremmer, dan dosen John Hopkins University di AS, Vali Nasr, semakin sulit meyakinkan Iran dan negara lain untuk tak mengejar teknologi senjata nuklir. Tidak punya nuklir, kata Bremmer, ternyata membuat negara rentan diserang. Iran, dan sebelumnya Libya serta Ukraina, telah membuktikan itu. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati