Infrastruktur Pengendali Banjir Terbatas, Jakarta Utamakan Keruk Kali untuk Redam Banjir

Kali dan saluran dikeruk untuk mengoptimalkan terbatasnya daya tampung infrastruktur pengendalian banjir di Jakarta.

07 Jul 2025 13:04 WIB · Metropolitan

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

JAKARTA, KOMPAS — Pemprov DKI Jakarta memprioritaskan pengerukan kali dan saluran untuk mengurangi risiko banjir. Pengerukan bertujuan mengoptimalkan daya tampung infrastruktur pengendalian banjir skala mikro dan makro yang masing-masing dirancang untuk curah hujan 100 mm per hari dan 150 mm per hari.

Banjir kembali melanda permukiman di Jakarta setelah hujan deras lebih dari 150 mm per hari. Setidaknya 100 RT terendam banjir setinggi 30 cm hingga 1,5 meter berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta per Senin (7/7/2025).

Luapan air berasal dari Kali Krukut, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Ciliwung, dan Kali Sunter. Sebanyak 650 warga mengungsi ke masjid, sekolah, ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA), dan tenda darurat.

Selain hujan deras dan luapan kali, terdapat peringatan dini banjir rob pada 4 Juli sampai 13 Juli 2025 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Rob atau banjir pesisir terjadi saat pasang maksimum air laut.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menuturkan, ini pertama kali dirinya menghadapi tiga banjir sekaligus. Banjir lokal karena hujan deras, kiriman dari hulu sehingga kali meluap, dan rob.

Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta mengoperasikan semua pompa stasioner yang berjumlah 605 buah. Pompa-pompa ini menyedot dan mengalirkan air agar surut.

”Air harus dipompa perlahan karena rob di pesisir. Kalau tidak dipompa, beberapa kawasan strategis pasti tergenang, seperti Bundaran HI dan Istana Negara. Kami upayakan jangan sampai kena banjir sedikit pun,” tutur Pramono seusai meninjau pengerukan Kali Irigasi Bekasi Tengah di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Senin.

Pramono meminta maaf kepada warga terdampak banjir di luar kawasan strategis. Pemprov DKI Jakarta tidak bisa serta-merta memompa air dan membuka pintu air guna mencegah banjir melanda kawasan strategis.

Warga membersihkan sampah di genangan banjir di kawasan Rawajati, Jakarta Selatan, Senin (7/7/2025). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat per pukul 10.00 WIB masih terdapat 91 RT di Jakarta yang terendam banjir. Ketinggian air mulai dari 30 centimeter hingga 150 centimeter. Sekitar 880 jiwa masih mengungsi akibat banjir yang masih merendam tempat tinggal mereka.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

07-07-2025

Pengerukan

Pramono memprioritaskan pengerukan saluran dan kali dari pinggiran hingga pusat kota. Pengerukan dilakukan saat musim hujan ataupun kemarau sambil merampungkan proyek infrastruktur pengendalian banjir, seperti normalisasi sungai, pembangunan polder, dan rumah pompa.

Hal tersebut harus dilakukan karena kemampuan infrastruktur pengendalian banjir yang ada terbatas. Daya tampung infrastruktur mikro dan makro masing-masing dirancang untuk curah hujan 100 mm per hari dan 150 mm per hari.

Kali Irigasi Bekasi Tengah sepanjang 5,3 km, misalnya, dikeruk untuk mitigasi banjir di Kelurahan Ujung Menteng, Kelurahan Cakung Timur, dan Kelurahan Cakung Barat.

Pengerukan segmen pertama dari Kanal Banjir Timur sampai Gerbang Perum Metland di Ujung Menteng mulai 12 Februari sampai 19 Mei 2025. Area ini sepanjang 1.100 meter dengan 5.753 meter kubik sedimentasi.

Sementara pengerukan segmen kedua sedang dilakukan dari Gerbang Perum Metland sampai Kali Cakung Drain. Direncanakan sepanjang 4.200 meter dengan volume 10.147 meter kubik sedimentasi.

Kali Irigasi Bekasi Tengah di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Senin (7/7/2025). Kali sepanjang 5,3 km ini dikeruk untuk mitigasi banjir.

Selanjutnya akan ada perbaikan turap Kali Irigasi di Jalan Inspeksi PAM, Cakung Barat. Panjang saluran mencapai 386 meter dan tinggi 3 meter.

Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum mengatakan, saluran irigasi dibangun oleh pemerintah pusat untuk pengendalian banjir dan pengairan. Saat ini, Pemprov DKI Jakarta bertanggung jawab merawatnya agar warga sekitar tak kebanjiran.

”Jadi, biasanya pengerukan itu musim kemarau. Sekarang kami keruk saat musim hujan dan musim kemarau. Semuanya berjalan,” ucap Ika.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji