Sedikitnya 51 RT di Jakarta kebanjiran dari luapan Kali Ciliwung hingga ketinggian 3 meter.
06 Jul 2025 14:32 WIB · Metropolitan
JAKARTA, KOMPAS — Banjir kembali merendam sejumlah wilayah di Jakarta seusai hujan deras. Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta melaporkan sedikitnya 51 RT kebanjiran, mayoritas berada di bantaran Kali Ciliwung, dan ketinggian banjir mulai dari 30 sentimeter hingga 3 meter.
Hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu (5/7/2025). Dampaknya, sebanyak 51 RT dikepung banjir. Hingga Minggu (6/7/2025) pukul 17.00 WIB, sebanyak 50 RT masih kebanjiran.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta mencatat 21 RT terdampak di Jakarta Selatan. Wilayah terparah pada Minggu pagi ialah Kelurahan Rawa Jati dengan ketinggian banjir hingga 2 meter, serta Kelurahan Pengadegan dan Kelurahan Pejaten Timur dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter. Hingga Minggu sore banjir masih bertahan di kawasan tersebut.
Sementara itu, sebanyak 30 RT terdampak di Jakarta Timur. Wilayah paling parah adalah Kelurahan Bidara Cina dengan ketinggian banjir 2,5 meter, Kelurahan Cawang sampai 3 meter, dan dan Kelurahan Cililitan 2,9 meter.
Banjir ini menyebabkan 370 jiwa warga mengungsi. Warga di Bidara Cina dan Kampung Melayu, Cililitan dan Cawang berlindung di aula Kelurahan, RPTRA setempat, sekolah, dan masjid di sekitarnya.
Warga terdampak ini tinggal dekat bantaran kali. Mereka menjadi langganan banjir sejak bertahun lalu.
Ramlan (58), warga RT 011 RW 005 Kebon Pala di Jakarta Timur, masih bertahan di lantai 2 rumahnya meskipun ketinggian air nyaris 2 meter. Begitu juga sebagian tetangganya yang memilih tidak mengungsi.
”Air belum sampai atap, jadi masih bertahan. Tetapi, listrik sudah mati semua,” ujar Ramlan.
Luapan dari Kali Ciliwung mulai masuk ke permukiman sejak Sabtu tengah malam. Air makin tinggi pada Minggu dini hari sehingga sebagian warga mengungsi.
Menurut Ramlan, warga sudah terbiasa dengan luapan Kali Ciliwung. Mereka bahkan langsung bersiap-siap setiap kali ada informasi hujan deras melanda kawasan hulu di Bogor, Jawa Barat.
Air belum sampai atap, jadi masih bertahan. Tapi, listrik sudah mati semua.
Meski demikian, warga menanti campur tangan pemerintah lewat normalisasi Kali Ciliwung. Informasi yang mereka terima ialah program tersebut akan berlanjut tahun ini.
Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Muhammad Yohan mengatakan, situasi tetap waspada karena masih ada potensi kiriman air dari hulu di Bogor, Jawa Barat.
Pihaknya bersama dinas terkait terus memantau situasi sembari memastikan saluran air dan pompa berfungsi baik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/06/1af8feb2-c892-336f-b531-6c5cbd3f2a69_jpg.jpg)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan petugas lapangan sudah mengoperasikan pompa-pompa air yang tersedia. Kemudian, mengatur pintu air agar banjir cepat surut.
”Curah hujan tinggi di atas 200 milimeter menyebabkan luapan Kali Ciliwung,” ujar Pramono seusai peringatan Hari Keluarga Nasional Ke-32 Tahun 2025 Tingkat Provinsi DKI Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.
Politisi PDI-P ini menambahkan, pihaknya sudah meminta Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta untuk membenahi saluran atau selokan agar aliran air lebih lancar. Dengan demikian, banjir akan cepat surut.
Warga menilai kinerja Pramono dan Rano Karno belum optimal dalam pengendalian banjir. Penilaian ini berdasarkan survei Litbang Kompas pada 10-14 Juni 2025 dengan 400 responden warga Jakarta yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis. Tingkat kepercayaan survei ini sebesar 95 persen dan nirpencuplikan 4,9 persen.
Indikator penanggulangan banjir, ketimpangan ekonomi, dan kemacetan masih kurang dari 55 persen. Padahal, ketiganya masalah laten Jakarta.
DPRD DKI Jakarta juga memberikan catatan serupa dalam pemandangan umum fraksi-fraksi terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun 2024.
Masih banyak pembangunan saluran air di kawasan permukiman padat yang belum tersentuh oleh APBD 2024. Hal ini disebabkan kebijakan teknis yang memprioritaskan pembangunan saluran dengan dimensi di atas 40 cm.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/27/118ffc3c-71d5-49be-979b-9da9e9e11657.jpg)
Sementara saluran mikro di bawah 40 cm jumlahnya sangat banyak dan vital di lingkungan perkampungan.
Rendahnya serapan anggaran juga disebabkan oleh progres pembangunan yang lambat, seperti pembangunan rumah pompa Tipala di area Kali Cipinang yang belum selesai meskipun sudah di akhir tahun anggaran. Selain itu, banyak penetapan lokasi untuk proyek penanganan banjir yang juga mati pada saat belanja modal akan dilaksanakan.
Pramono menyampaikan, sudah ada tiga penetapan lokasi untuk kelanjutan normalisasi Kali Ciliwung. Ketiganya adalah Cawang dan Cililitan di Jakarta Timur, serta Pengadegan di Jakarta Selatan dengan anggaran Rp 98 miliar.
”Ciliwung kontribusinya besar pada banjir Jakarta, sampai 40 persen. Maka, sudah kami tetapkan tiga penetapan lokasi dari 11. Artinya, normalisasi Ciliwung lanjut,” kata Pramono.
Sejauh ini, progres normalisasi Kali Ciliwung baru mencakup 17,14 km dari target sepanjang 33,69 km. Kendala di lapangan, antara lain, kepemilikan tanah yang masih perlu proses pembuktian, keterbatasan anggaran, dan penolakan warga yang tidak ingin lahannya dibebaskan.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto