Kerusuhan Merembet ke San Francisco, Polisi Tangkap 60 Orang

Menyusul kerusuhan serupa di Los Angeles, aksi demonstrasi yang dimaksudkan untuk memperjuangkan hak imigran secara damai di San Francisco pun berubah rusuh.

10 Jun 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

SAN FRANCISCO, SENIN — Unjuk rasa menentang kebijakan imigrasi Pemerintah Amerika Serikat di Negara Bagian California meluas. Sebelumnya, unjuk rasa berlangsung di Los Angeles dan berkembang memanas. Unjuk rasa meluas ke San Francisco dan berujung kerusuhan.

Kepolisian Kota San Francisco, menurut laporan AFP, Senin (9/6/2025), menangkap 60 pengunjuk rasa pada Minggu malam. Melalui unggahan di X, polisi San Francisco menyatakan adanya penggalangan massa yang melanggar hukum.

The New York Times melaporkan, demonstrasi itu dimulai pada Minggu malam sebagai pertemuan yang tenang untuk menunjukkan aksi solidaritas kepada mereka yang berada di Los Angeles. Akan tetapi, pertemuan dengan cepat berubah menjadi kekerasan.

Para pengunjuk rasa dan polisi berkelahi secara fisik di jalanan pusat kota San Francisco. Menurut Departemen Kepolisian San Francisco, setidaknya dua polisi terluka dan kendaraan angkutan umum rusak.

”Sekitar 60 orang ditangkap, termasuk anak di bawah umur,” cuit Kepolisian San Francisco di X.

A protester kneels in front of San Francisco Police Department officers near U.S. Immigration & Customs Enforcement office on Sansome Street in San Francisco on Sunday, June 8, 2025. (Scott Strazzante/San Francisco Chronicle via AP)

Unjuk rasa di San Francisco terjadi sebagai buntut dari demonstrasi yang berubah rusuh di Los Angeles. Sejak Jumat (6/6/2025), Badan Imigrasi dan Cukai AS (ICE) menggerebek dan menahan imigran di Los Angeles.

Axios mencatat, operasi ICE telah menangkap 118 orang atas dugaan pelanggaran imigrasi. Warga Los Angeles menentang aksi yang meresahkan itu. Unjuk rasa pun sudah berlangsung selama tiga hari terakhir.

Presiden AS Donald Trump menyebut demonstrasi di Los Angeles sebagai kerusuhan. Ia mengerahkan pasukan Garda Nasional untuk membubarkan demonstrasi, Minggu (8/6/2025). Alih-alih mereda, bentrok antara demonstran dan pasukan Garda Nasional tak terelakkan.

Petugas Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) memasang garis pembatas agak jauh dari gedung-gedung federal pada Minggu sore. Pemasangan itu untuk mencegah kontak antara demonstran yang marah dan sejumlah besar anggota Garda Nasional bersenjata dari Tim Tempur Brigade Infanteri ke-79 yang berkumpul dengan mengenakan helm dan perlengkapan kamuflase.

LAPD menangkap setidaknya 56 orang selama dua hari demonstrasi. Sementara tiga petugas mengalami luka ringan.

Protesters in downtown Los Angeles voice their outrage against a series of immigration raids that occurred over the weekend, in Los Angeles, Calif. on Sunday, June 8, 2025. (Stephen Lam/San Francisco Chronicle via AP)

Tuai kritik

Pengerahan pasukan Garda Depan oleh Trump menuai kritik dari Gubernur California Gavin Newsom. Melalui unggahan di X, Newsom  menyebut pengerahan Garda Nasional tidak sah.

”Ini pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara bagian, mengobarkan ketegangan sambil menarik sumber daya dari tempat yang membutuhkan. Batalkan perintah itu. Kembalikan kendali ke California,” tulisnya di X.

Komando Wilayah Utara AS mengonfirmasi total 2.000 pasukan Garda Nasional California akan turun ke lapangan. Garda Nasional adalah pasukan cadangan yang sering digunakan dalam bencana alam dan terkadang dalam kasus kerusuhan sipil.

Trump menggunakan Title 10 dari Kode AS tentang Angkatan Bersenjata sebagai dasar hukum. Title 10 mengizinkan pengerahan Garda Nasional jika terjadi pemberontakan terhadap wewenang pemerintah. Namun, perintah tersebut seharusnya keluar melalui gubernur negara bagian.

Pengerahan 2.000 anggota pasukan Garda Nasional ke California oleh Trump menandai untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade seorang Presiden AS secara terbuka menentang gubernur negara bagian. Para pengamat menilai, Trump pada dasarnya melakukan pengambilalihan resimen militer negara bagian untuk mengatasi pelanggaran hukum di jalan-jalan kota.

”Ini adalah pertama kalinya sejak 1965 seorang presiden mengerahkan Garda Nasional tanpa permintaan dari gubernur negara bagian,” unggah  Kenneth Roth, mantan Direktur Eksekutif Human Rights Watch (HRW), di X.

”Dulu, (Presiden Lyndon) Johnson melindungi pengunjuk rasa hak-hak sipil. Sekarang Trump membuat tontonan agar ia dapat melanjutkan penggerebekan imigrasinya,” cuit Roth.

Graffiti is seen on U.S. Immigration & Customs Enforcement office during a protest on Sansome Street in San Francisco on Sunday, June 8, 2025. (Scott Strazzante/San Francisco Chronicle via AP)

Elizabeth Goitein dari Brennan Center for Justice memperingatkan tentang penyalahgunaan kekuasaan yang mengejutkan oleh Trump. Apalagi, memorandum Trump mengesahkan federalisasi pasukan Garda Nasional di lokasi-lokasi tempat protes terhadap fungsi (imigrasi federal) terjadi atau kemungkinan akan terjadi.

”Trump telah mengesahkan pengerahan pasukan di mana pun di negara ini tempat protes terhadap aktivitas ICE mungkin terjadi,” tulis Goitein di X.

”Itu adalah tanda bahaya besar,” lanjutnya.

Mantan Wakil Presiden Kamala Harris menyebut pengerahan pasukan Garda Nasional itu sebagai eskalasi berbahaya yang dimaksudkan untuk memicu kekacauan.

Para kritikus berpendapat, Trump sengaja memicu ketegangan dengan pengerahan Garda Nasional California, militer siaga yang biasanya dikendalikan oleh gubernur negara bagian.

Para demonstran mengatakan kepada AFP, keberadaan pasukan tersebut tampaknya bukan untuk menjaga ketertiban. Mereka dikerahkan justru untuk mengintimidasi.

Pascakerusuhan, USA Today melaporkan, Kepolisian Los Angeles pada Senin mendesak para pelaku bisnis dan penduduk untuk melaporkan setiap vandalisme, kerusakan, atau penjarahan untuk dokumentasi. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati