Kesenjangan Talenta Digital Jadi Tantangan, Pelatihan AI Kian Dibutuhkan

Kesenjangan antara ketersediaan talenta digital dan kebutuhan industri masih terjadi. Pusat pelatihan khusus terkait kecerdasan buatan (AI) semakin dibutuhkan.

06 Jun 2025 10:07 WIB · Ekonomi

Oleh Abdullah Fikri Ashri

Sejumlah industri kini mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk meningkatkan produktivitas. Namun, terdapat kesenjangan antara ketersediaan talenta digital dan kebutuhan industri. Pusat pelatihan khusus terkait AI pun semakin dibutuhkan.

Tren adopsi AI di industri, antara lain, terekam dalam riset McKinsey & Company, perusahaan konsultan global, berjudul ”The State of AI: How Organizations are Rewiring to Capture Value”. Riset yang dirilis pada Maret 2025 ini mengungkapkan peningkatan adopsi AI oleh sejumlah industri.

Sebanyak 78 persen responden dari perusahaan yang disurvei, misalnya, mengatakan telah menggunakan AI. Pemanfaatan teknologi itu diterapkan di bidang layanan pelanggan, operasional, hingga pengambilan keputusan bisnis. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2023 dengan 55 persen.

Rektor Universitas Multimedia Nusantara Andrey Andoko memaparkan materi di sela-sela peluncuran AI Training Center di Jakarta, Kamis (5/6/2025). AI Traning Center merupakan pusat pelatihan AI yang dikembangkan DQLab, di bawah naungan UMN dan Xeratic.

IBM, perusahaan teknologi multinasional, juga mencatat hal serupa. Survei berjudul ”Unlocking Indonesia’s Economic Potential for Future Prosperity” tahun 2025 ini dilakukan terhadap 502 pemimpin bisnis senior dari beberapa sektor industri swasta dan badan usaha milik negara (BUMN).

Survei itu menunjukkan kesiapan perusahaan di Indonesia untuk mengadopsi AI. Hal itu tampak dari 85 persen responden yang mengaku memperoleh keuntungan operasional dari AI. Sebanyak 93 persen responden juga yakin dapat menerapkan AI di korporasinya (Kompas, 5/6/2025).

Namun, responden mengakui ada sejumlah tantangan dalam penerapan AI di korporasi. Beberapa di antaranya ialah ketimpangan infrastruktur teknologi informasi atau TI (84 persen), keamanan siber (55 persen), kurangnya talenta digital (45 persen), dan minimnya keterampilan keamanan siber (63 persen).

McKinsey juga mencatat talenta digital sebagai tantangan perusahaan di skala global saat mengadopsi teknologi AI. Bidang paling dicari oleh perusahaan antara lain arsitek data, ahli data AI, dan spesialis terkait etika AI yang memastikan adopsi AI sesuai etika.

”Temuan itu menunjukkan gap kebutuhan industri dan ketersediaan talenta digital. Perusahaan pun menuntut karyawannya bisa memakai AI,” ujar Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Andrey Andoko dalam peluncuran AI Training Center, Kamis (5/6/2025), di Jakarta.

AI Training Center merupakan pusat pelatihan AI yang dikembangkan oleh DQLab, platform yang fokus pada pelatihan terkait data dan teknologi. DQLab berada di bawah naungan UMN dan Xeratic. Adapun pusat pelatihan ini berlokasi di UMN, Tangerang, Banten.

Rektor Universitas Multimedia Nusantara Andrey Andoko (kiri), Program Manager DQLab Yovita Surianto, dan Feris Thia, Co-Founder Xeratic, saat diwawancarai di sela-sela peluncuran AI Training Center di Jakarta, Kamis (5/6/2025). AI Traning Center merupakan pusat pelatihan AI yang dikembangkan DQLab, di bawah naungan UMN dan Xeratic.

Menurut Andrey, pelatihan terkait AI bisa menjadi solusi untuk menjawab tantangan kesenjangan talenta itu. Mengutip riset McKinsey, katanya, pelatihan telah mengurangi kebutuhan ahli data AI dari sekitar 90 persen pada 2022 menjadi sekitar 70 persen (2024).

”Oleh karena itu, dibutuhkan pelatihan terkait AI. Riset juga menunjukkan, tren pelatihan atau reskilling (belajar keterampilan baru) semakin meningkat dalam tiga tahun ke depan,” ungkapnya. Kemampuan baru itu seperti mengolah dan memproses data, gambar, hingga video.

Keterampilan lain adalah menggunakan AI untuk mengolah data sebelum mengambil keputusan bisnis. Karyawan juga perlu memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan pelanggan yang lebih cepat, interaktif, dan personal.  

Quote

Supaya kita tidak digantikan oleh AI, maka kita harus memiliki kemampuan ”beyond” (melampaui) AI. Karena AI digunakan di berbagai bidang, maka semua orang harus memiliki kemampuan AI.

”Supaya kita tidak digantikan oleh AI, maka kita harus memiliki kemampuan beyond (melampaui) AI. Karena AI digunakan di berbagai bidang, maka semua orang harus memiliki kemampuan AI. Mungkin ini hal baru, tetapi kita harus tetap belajar melalui pelatihan,” katanya.

Itu sebabnya, pihaknya membuka AI Training Center untuk mendukung kesiapan sumber daya manusia dalam memanfaatkan AI. Di sisi lain, industri juga semakin membutuhkan talenta digital. Apalagi, AI dapat meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan membuat efisiensi.

Minat industri

”Hampir setiap minggu ada saja perusahaan yang bertanya tentang pelatihan AI kepada kami. Ini menunjukkan, minat industri terhadap adopsi AI tinggi,” ujar Feris Thia, Co-founder Xeratic, perusahaan data. Industri itu, antara lain, meliputi perbankan, distribusi dan perdagangan, serta pertambangan.

”Di pertambangan, misalnya, ada yang bertanya tentang memprediksi cuaca dengan bantuan AI. Sebab, kalau hujan, alat berat di lokasi tambang tidak bisa bekerja. Padahal, biaya sewa alat, biaya pekerja, dan lainnya besar. Mereka butuh keahlian soal itu,” ungkap Feris.

Infografik Preferensi Penggunaan AI oleh Pelajar

Menurut dia, pelatihan terkait AI bagi karyawan tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga membantu perusahaan menyelesaikan berbagai masalah. Perusahaan juga membutuhkan sistem teknologi informasi yang memberikan jaminan keamanan data mereka.

”Jika menyerahkan semua data ke chatbot (asisten virtual) Gen AI, mereka khawatir soal keamanan data perusahaan. Makanya, banyak yang ingin punya data khusus internal saja. Chatbot dari luar juga tidak bisa menjawab pertanyaan dengan akurat,” tuturnya.

Menurut dia, AI Training Center dapat memberikan pelatihan bagi karyawan untuk mengolah data internal perusahaan. Tidak hanya menyasar pengembang TI, pusat pelatihan itu juga mengakomodasi karyawan di bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM), legal, hingga pelaku bisnis.

Rektor Universitas Multimedia Nusantara Andrey Andoko (tengah), Program Manager DQLab Yovita Surianto (kanan), dan Feris Thia, Co-Founder Xeratic, berfoto di sela-sela peluncuran AI Training Center di Jakarta, Kamis (5/6/2025). AI Traning Center merupakan pusat pelatihan AI yang dikembangkan DQLab, di bawah naungan UMN dan Xeratic.

Meski demikian, Feris mengakui, salah satu tantangan dalam pengembangan pusat pelatihan adalah ketersediaan pendamping (trainer). Itu sebabnya, ia kerap menggelar pelatihan bagi pendamping hingga berkolaborasi dengan pihak lain, terutama terkait bidang spesifik.

Yovita Surianto, Program Manager DQLab, meyakini, perusahaan membutuhkan pelatihan terkait AI bagi karyawan jika ingin mengembangkan skala bisnisnya. ”DQLab sudah ada sejak 2018 dan memiliki 450.000 peserta. Kami juga berkolaborasi dengan 50 perusahaan dan instansi pemerintah untuk memberikan pelatihan,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Indonesia Mining Association Rachmat Makkasau mengatakan, adopsi AI telah membuat operasionalisasi tambang menjadi efisien sekaligus meningkatkan produktivitas. Perusahaan pertambangan pun, katanya, mulai menerapkan AI.

”Namun, tentunya inovasi ini memiliki sejumlah tantangan, seperti integrasi data dari berbagai sistem, kesiapan infrastruktur digital, dan adopsi teknologi oleh tim di lapangan. Hal ini membutuhkan proses pembelajaran yang tidak instan,” papar Rachmat.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengakui, SDM masih menjadi kendala dalam pengembangan AI di sejumlah sektor di Indonesia. ”Kita punya gap yang lumayan besar terkait talenta digital. Kita kekurangan 3 juta talenta digital setiap tahun,” katanya.

Selain menggelar pelatihan, pihaknya juga tengah menyusun peta jalan dan regulasi untuk pengembangan AI. Kesenjangan antara kebutuhan perusahaan akan talenta digital dan ketersediaan pekerja yang terampil AI membutuhkan peran banyak pihak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Abdullah Fikri Ashri
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti