Indonesia sangat rentan terhadap volatilitas nilai tukar dan lonjakan harga komoditas impor.
22 Jun 2025 19:16 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Iran-Israel melalui serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran memicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasar keuangan global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melemah signifikan pada awal pekan ini, sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpotensi terus tertekan.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, saat dihubungi, Minggu (22/6/2025), mengatakan bahwa serangan AS ke tiga fasilitas nuklir Iran memicu kekhawatiran di pasar global.
Kondisi akan semakin kompleks apabila Iran melakukan serangan balasan dan berpotensi menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.
Penutupan Selat Hormuz akan berdampak langsung pada harga minyak global yang bisa melonjak melampaui 80 dollar AS per barel. Kenaikan harga minyak tersebut, menurut Rully, akan memicu inflasi global dan mengganggu stabilitas pasar keuangan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Bursa saham Asia, termasuk Indonesia, menjadi yang paling awal merespons sentimen negatif ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/39355984-dfa4-4fc8-969c-4d62122120c0_jpg.jpg)
Rully memperkirakan IHSG bisa mengalami penurunan tajam seiring aksi jual investor (sell-off) yang mencari aset lindung nilai (safe haven) seperti dollar AS dan emas. Tak hanya itu, nilai tukar rupiah dalam jangka pendek diperkirakan bisa menembus Rp 16.500 hingga Rp 16.600 per dollar AS. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, rupiah sudah mendekati level Rp 16.400 (Rp 16.395) per dollar AS.
”Minyak mengalami kenaikan. Saham (IHSG) kemungkinan akan turun signifikan. Safe haven seperti dollar AS dan emas akan mengalami penguatan, serta rupiah akan terpengaruh,” kata Rully.
Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia berpeluang besar melakukan intervensi ganda untuk menjaga stabilitas rupiah. Intervensi ini meliputi pasar valas, pasar obligasi negara, dan pasar spot. Meski demikian, apabila tensi geopolitik terus meningkat, intervensi harus lebih agresif untuk menjaga kepercayaan investor.
Selain itu, pemerintah perlu mewaspadai risiko inflasi yang mungkin muncul akibat lonjakan harga energi. Kebijakan subsidi energi dan pengendalian harga pangan menjadi kunci untuk menjaga daya beli masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/21/ad58f27e-36e3-44b0-ad6b-f8418ab03a87_png.png)
Sementara itu, menurut Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, kondisi geopolitik membuat pasar bersikap lebih hati-hati dan prudent. Pasar akan mengantisipasi potensi penguatan lanjutan dollar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Hal ini perlu direspons dengan kebijakan stabilisasi jangka pendek oleh otoritas moneter seperti BI.
Selain itu, merujuk pada analisis teknikal berbasis Elliott Wave, disebutkan bahwa gelombang kelima (wave 5) dari instrumen XAU/USD (emas terhadap dollar AS) diproyeksikan dapat menembus level 3.624 dollar AS per ons troy.
”Dollar AS masih menjadi instrumen safe haven bersama dengan emas. Dinamika permintaan terhadap dollar bisa meningkat, terutama jika terjadi tekanan inflasi global akibat lonjakan harga komoditas,” jelasnya.
Selain ketegangan geopolitik, pasar juga akan mencermati rilis data makroekonomi AS dalam waktu dekat, khususnya data inflasi inti seperti US PCE (personal consumption expenditures) dan Core PCE, yang menjadi indikator utama bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/22/bf8b483abc0e239319fd9d8388ee18f7-WhatsApp_Image_2025_06_22_at_16.07.59.jpeg)
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, berpandangan bahwa nilai tukar dollar AS akan menguat karena banyak investor beralih ke aset safe haven. Namun, jika perang berlangsung lama, defisit fiskal AS berpotensi membengkak akibat pengeluaran militer.
”Ini berpotensi melemahkan kepercayaan terhadap dollar AS dalam jangka panjang. Ancaman inflasi global menjadi nyata karena lonjakan harga energi akan menekan daya beli rumah tangga dan memaksa bank sentral, seperti The Fed, menunda pelonggaran moneter,” ujar Syafruddin.
Situasi tersebut, kata Syafruddin, akan mempersempit ruang gerak kebijakan ekonomi di negara berkembang seperti Indonesia, yang sangat rentan terhadap volatilitas nilai tukar dan lonjakan harga komoditas impor.
”Sejarah menunjukkan ketegangan di Timur Tengah kerap memicu pelemahan pasar saham dalam jangka pendek meski terkadang pulih dalam dua bulan berikutnya. Namun, konteks saat ini jauh lebih kompleks dan berisiko sistemik karena ketegangan menyentuh langsung isu nuklir dan tatanan keamanan global,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/17/c7a2bd33-b28f-4b4c-ab2e-dec4b55c9d32_png.png)
Menurut Syafruddin, dalam menghadapi situasi geopolitik saat ini, investor dan pemerintah di seluruh dunia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan ekspektasi jangka pendek.
”Mereka perlu strategi kebijakan yang kuat, proaktif, dan adaptif terhadap potensi disrupsi jangka panjang,” katanya.
IHSG ditutup melemah 3,61 persen dalam sepekan ke level 6.907 dibandingkan pekan sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat (20/6/2025). Di tengah penurunan IHSG ini, investor asing melakukan aksi jual (outflow) senilai Rp 4,6 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, mengatakan, secara teknikal, IHSG saat ini sudah menembus area psikologis 7.000, yang menandakan adanya kecemasan di kalangan pelaku pasar.
”Ada pattern double top pada time frame daily IHSG. Hal ini dikonfirmasi pada perdagangan Jumat lalu bahwa area neckline dari double top sudah tertembus dan cenderung mengarah bearish,” kata David, Minggu (22/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/22/d7012e92dcf8199063eedb5df7a67a59-WhatsApp_Image_2025_06_22_at_10.34.19_AM.jpeg)
Menurut David, pelemahan IHSG pada penutupan perdagangan Jumat dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. Penundaan aksi militer AS di Timur Tengah untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi sempat membuat investor global sedikit lega. Meski demikian, volatilitas tetap tinggi karena ketidakpastian geopolitik dan harga minyak yang fluktuatif di kisaran 75-78 dollar AS per barel.
Selanjutnya, terkait suku bunga The Fed yang dipertahankan di 4,25-4,50 persen, pelaku pasar menilai kebijakan ini cenderung hawkish (sikap atau kebijakan bank sentral yang agresif dalam mengendalikan inflasi, biasanya melalui kenaikan suku bunga atau pengurangan stimulus moneter), karena inflasi masih tinggi. Sementara itu, Swiss dan Norwegia justru memangkas suku bunga sebagai respons terhadap tekanan mata uang dan kondisi ekonomi domestik.
Di sisi domestik, suku bunga BI tetap dipertahankan di level 5,50 persen. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah, khususnya menyusul penguatan dollar AS dan tekanan eksternal akibat kebijakan suku bunga AS.
Kini, situasi kembali berubah setelah AS melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran. Dampak perkembangan ini terhadap pasar akan tercermin dalam empat hari perdagangan pada 23-26 Juni 2025.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan