Jika pekerjaan tidak menjadi penopang kehidupan yang aman, masyarakat akan dipenuhi orang-orang bekerja tetapi menghadapi hidup penuh ketidakpastian.
08 Jan 2026 08:00 WIB · Artikel Opini
Kompas/Heryunanto
Ketenagakerjaan pada saat ini tidak lagi berhenti pada ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi apakah pekerjaan yang ada itu mampu menopang kehidupan layak. Tingkat pengangguran global, menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), sekitar 5 persen pada 2024 dan 2025. Namun, angka yang terlihat stabil ini tidak serta-merta menunjukkan rasa aman dalam bekerja.
Saat ini sekitar 402 juta orang di dunia berada pada kondisi ”kesenjangan pekerjaan”. Artinya terdapat ratusan juta orang yang menganggur, putus asa, atau bekerja sedapatnya karena tidak tersedianya alternatif pekerjaan yang lebih baik. Kondisi ini menunjukkan permasalahan struktural. Dunia tidak kekurangan orang yang mencari pekerjaan, tetapi kekurangan pekerjaan yang mampu menopang kehidupan.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia di dalamnya, lebih dari 60 persen pekerja bekerja di sektor informal. Pendapatan pada sektor ini cenderung tidak stabil dan minim perlindungan sosial. Jika pekerjaan pada sektor seperti ini dipandang sebagai upaya mengurangi pengangguran, kebijakan yang rapuh ini dianggap menjadi sesuatu yang wajar.
Data ini selaras dengan kemiskinan pekerja global. Sekitar 240 juta pekerja masih hidup dalam kemiskinan ekstrem atau moderat meskipun mereka bekerja. Terdapat fenomena baru kemiskinan yang bukan soal pengangguran, melainkan kualitas pekerjaan yang tersedia.
Yang mengkhawatirkan terjadi pada kelompok muda. Pengangguran pada kelompok ini lebih dari dua kali lipat pengangguran dewasa. Lebih mengkhawatirkan lagi satu dari lima pemuda dunia masuk kategori tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan atau istilahnya NEET. Ini menandakan banyak pemuda yang terjebak dalam situasi tanpa arah, tanpa dukungan memadai dan berisiko kehilangan masa produktifnya. Dengan kata lain, pasar kerja gagal menyalurkan jalur aman bagi generasi muda untuk menjalani kehidupannya secara mandiri. Kondisi ini akan menjadi beban sosial jika tidak segera ditangani.
Dari sisi pengupahan, saat ini upah riil global sempat merosot sejak pandemi dan sampai 2024 belum pulih sebagaimana kondisi sebelum pandemi. Banyak pekerja harus harus bekerja keras dibandingkan sebelumnya, tetapi daya belinya justru melemah. Artinya, kerja keras saat ini tidak lagi identik dengan peningkatan kesejahteraan pekerja.
Persoalan ini bukan sekadar pelambatan ekonomi global yang bisa menurun kemudian dapat pulih kembali. Persoalan saat ini adalah pada lemahnya produktivitas dunia. Pertumbuhan produktivitas dunia hanya berkisar 1 persen sampai dengan 1,5 persen. Angka ini lebih rendah dari angka ideal 2,5 persen sampai dengan 3 persen, yaitu angka historis yang memungkinkan pekerja naik upahnya secara riil.
Tanpa ada perubahan kebijakan mendasar, pasar kerja akan terjebak dalam rentang waktu panjang. Banyak orang bekerja tetapi kesejahteraan tidak berubah, persoalan seperti ini akan berimbas pada permasalahan sosial lain berkaitan dengan kemiskinan.
Kita harus berpikir kembali untuk tidak sekadar melihat angka pengangguran. Jika ini yang menjadi pusat perhatian, kerja akan selalu rapuh dan dianggap kenormalan baru. Pasar kerja seharusnya menjadi fondasi kehidupan yang layak, bukan berhenti pada angka-angka statistik pembangunan.
Kebijakan yang dibuat perlu menempatkan pekerjaan sebagai instrumen pemenuhan hak hidup layak. Arah kebijakan harus bergeser dari penyerapan tenaga kerja menuju penciptaan pekerjaan yang bermutu. Pekerjaan diharapkan menjadi stabil, menjadi perlindungan sosial yang nyata.
Kita perlu merenungkan kembali bahwa ketika bekerja tak lagi cukup, maka pertaruhannya adalah masa depan bangsa. Jika pekerjaan tidak menjadi penopang kehidupan yang aman, masyarakat akan dipenuhi orang-orang bekerja tetapi menghadapi hidup penuh ketidakpastian dan memaksa pemerintah untuk mengintervensi berupa subsidi, bantuan sosial, dan bantuan penyangga lainnya. Intervensi seperti ini hanya sementara dan sering kali bersifat tambal sulam.
Ruslan Effendi, ASN, Alumnus Program Doktoral Akuntansi UGM
Penulis:
Ruslan EffendiEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan