”Gajah di dalam ruangan” akhirnya dibahas dalam konferensi pers sehari menjelang Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025. Itu tentang pembatalan atlet Israel ke Jakarta.
18 Okt 2025 20:41 WIB · Olahraga
Sehari menjelang Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025, konferensi pers digelar. Pertemuan perwakilan Federasi Gimnastik Internasional, panitia penyelenggara lokal, dan awak media dimulai dengan hangat. Namun, situasi tiba-tiba berubah menjadi tegang dan sangat serius. ”Bom” Israel menjadi penyebabnya.
Presiden Federasi Gimnastik Internasional (FIG) Morinari Watanabe dan Sekretaris Jenderal FIG Nicolas Buompane, serta Ketua Umum Federasi Gimnastik Indonesia (FGI) Ita Yuliati hadir dalam konferensi pers di Stadion Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (18/10/2025). Mereka ingin menyampaikan persiapan terakhir menjelang ajang.
Layaknya orang Jepang yang terkenal ramah, Watanabe tak segan melempar senyum. Lalu, dia mengucapkan salam dengan bahasa Indonesia. Pertanyaan pertama dari wartawan lokal membuatnya semakin bersemangat. ”Makanan Indonesia sangat enak, tetapi itulah masalahnya, terlalu enak,” katanya saat ditanya sudah mencoba soto atau belum.
Saat Watanabe belum selesai menjawab pertanyaan pertama, tangan wartawan asing asal Amerika Serikat sudah mengambil ancang-ancang. Dia sudah tak sabar untuk bertanya. Setelah pertanyaan tersampaikan, seisi ruangan kaget seperti ada ledakan bom. Nuansa mendadak ”gelap”, wajah para narasumber berubah tegang.
Topik pembatalan visa atlet Israel yang seolah menjadi ”gajah di dalam ruangan”, akhirnya dibahas. Untuk pertama kali, Presiden dan Sekjen FIG diminta pendapat langsung soal evaluasi setelah kehebohan pekan lalu. Adapun wakil Israel batal tampil di Kejuaraan Dunia karena ditolak oleh Pemerintah Indonesia.
”Saya sudah menyampaikan dalam pernyataan IOC (Komite Olimpiade Internasional). Olahraga harus dipisahkan dari politik. Semua atlet punya hak yang sama sebagai olahragawan. IOC dan FIG harus melindungi hak itu. Kami sangat menyesal tidak dapat melindungi hak atlet dari satu negara, tetapi situasi global sedang berubah,” tutur Watanabe.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/18/4a2f3199a48fc338875dd12ce7481677-IMG_3969.JPG)
Watanabe menekankan, jalur politik setiap negara khususnya tuan rumah juga harus dihormati. Di Indonesia, pembatalan terjadi seusai gelombang penolakan dari berbagai kelompok masyarakat soal rencana kedatangan wakil Israel. Mulai dari partai politik, Majelis Ulama Indonesia, hingga Gubernur Jakarta Pramono Anung ikut menolak.
Jawaban Watanabe dirasa kurang memuaskan. Hujan pertanyaan menyusul dari wartawan asing lain, kali ini asal Jerman. ”Apakah kalian tahu bahwa apa yang terjadi melanggar Pasal 27.4 di Statuta FIG? Kalau demikian, apa konsekuensinya bagi federasi Indonesia?” tanyanya.
Pasal 27.4 membahas soal jaminan terkait visa. Pada statuta edisi 2025, pembahasan yang sama termuat dalam Pasal 26.4 yang menyatakan, ”Visa masuk harus diberikan kepada pesenam/atlet dan ofisial dari semua Federasi Anggota. Jika persyaratan ini tidak terpenuhi, alokasi acara akan dibatalkan dengan segera oleh Komite Eksekutif.”
Keterbatasan bahasa Inggris Watanabe membuat diskusi kurang mulus. Buompane yang duduk di sebelahnya, mengambil alih. Pria asal Swiss itu berkata, Pemerintah Indonesia sempat mengonfirmasi bahwa semua peserta akan diberikan visa. Itu bagian dari proses penawaran tuan rumah. ”Semua atlet telah menerima visa hingga 9 Oktober sebelum ketegangan meningkat,” kata Buompane.
FIG bukan tidak memahami aturan sendiri. Namun, kata Buompane, mereka harus melihat konteks utuh. Termasuk pasal-pasal lain yang berkaitan dengan keadaan kahar dan ketidakmungkinan memindahkan acara. Contohnya, pada 2022, WADA (Badan Antidoping Dunia) melarang ajang digelar di Rusia setelah skandal doping, tetapi kompetisi berlanjut karena sudah terlalu dekat untuk dipindahkan.
”Soal keamanan, Piagam Olimpiade ataupun Statuta FIG memuat pasal-pasal tentang memastikan nondiskriminasi dan partisipasi bagi semua atlet. Namun, keduanya juga memuat klausul keadaan kahar dan keselamatan peserta. Faktor-faktor ini harus dipertimbangkan. Kita harus memastikan keselamatan semua orang. (Preseden) ini harus menjadi pelajaran semua cabang olahraga,” jelas Buompane dengan berapi-api.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/18/a364a135c99ec492818516c4de826c40-20251018_H05_KID_Kejuaraan_Dunia_Senam_mumed.jpg)
Ita hanya bergeming selama pembahasan topik tersebut. Dia tidak ditanya. Dari wajahnya, sang ketua umum juga tampak tidak tertarik membahas itu. Ita sudah menjelaskan pandangan federasi saat konferensi pers tentang pencabutan visa, Jumat pekan lalu. Adapun di acara sebelumnya, doorstep tidak diizinkan.
Benar saja, saat dicegat di luar kali ini, Ita langsung merespons secepat kilat, ”Jangan tentang itu, ya.” Pada akhirnya dia mau sedikit menjelaskan posisi FGI yang sangat dilematis. Di satu sisi, mereka berada di bawah FIG yang menjunjung kesamaan hak atlet. Namun, mereka berdiri di tanah Indonesia.
Menurut Ita, sudah semestinya FIG tegak lurus dengan keputusan pemerintah. Di sisi lain, FGI dan FIG memprioritaskan keamanan penyelenggaraan. ”Jadi, kalau kami memaksakan untuk membela satu negara, bagaimana 70 negara yang lain. Ini adalah keputusan paling tepat,” katanya yang juga khawatir fokus utama Kejuaraan Dunia akan terusik dengan kehadiran Israel.
Pada akhirnya, Kejuaraan Dunia akan bisa digelar di Indonesia untuk pertama kali setelah sempat terancam batal. Siapa sangka gejolak masyarakat yang semula menjadi ancaman penyelenggaraan, ternyata jadi seperti antibodi alami. Dengan itu, potensi masalah besar sudah dieliminasi sebelum terlambat.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase