Piala Dunia 2026

Ketika Dunia Menjadi Satu Tribune

Piala Dunia mengubah kafe, restoran, hingga jalanan menjadi ruang bersama tempat jutaan orang merayakan kebersamaan melalui sepak bola.

16 Jun 2026 14:04 WIB · Olahraga

AP Photo/Odelyn Joseph

Oleh Raditya Mahendra Yasa

Peluit akhir pertandingan berbunyi di Amerika Serikat, tetapi perayaan tidak berhenti di sana. Bersamaan dengan itu, dari berbagai penjuru dunia sorak-sorai dimulai. Bukan di stadion, melainkan di kafe-kafe yang penuh sesak, restoran yang menayangkan layar raksasa, hingga jalanan yang mendadak berubah menjadi ruang pesta bersama.

Kegembiraan yang terekam dari pelosok belahan dunia menggambarkan sepak bola memang sebagai bahasa universal yang menyatukan. Tanpa sekat mereka merayakan jagoannya ketika tim negaranya hadir ataupun tidak hadir di sana. Piala Dunia selalu memiliki kemampuan unik untuk melampaui batas geografis.

APTOPIX South Africa WCup Soccer Reaction
APTOPIX Egypt WCup Soccer Reaction

Pertandingan memang dimainkan di satu tempat, tetapi emosinya dirasakan secara serentak di banyak kota dan negara. Gol yang tercipta di Los Angeles, misalnya, dapat memicu pelukan di sebuah restoran di Teheran, nyanyian di bar Buenos Aires, atau klakson kendaraan yang bersahutan di Rabat.

Selama Piala Dunia berlangsung, tempat keseharian mengalami perubahan fungsi. Restoran tidak lagi sekadar tempat makan. Kafe bukan hanya tempat berbincang. Taman tidak lagi menjelma ruang tenang, tetapi dengan keriuhan. Bahkan pohon menjadi tribune alternatif bagi mereka yang tidak berada di stadion.

APTOPIX Haiti WCup Soccer Reaction
APTOPIX Germany WCup Soccer Reaction

Sementara itu, pengunjung datang lebih awal untuk mendapatkan tempat terbaik di depan layar. Jersei tim nasional dikenakan layaknya seragam wajib. Bendera kecil diletakkan di meja. Ketika pertandingan dimulai, percakapan perlahan menghilang dan digantikan perhatian yang tertuju pada satu arah yang sama.

Perubahan suasana paling terasa ketika gol tercipta. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat berpelukan dalam hitungan detik. Teriakan spontan memenuhi ruangan. Gelas-gelas terangkat ke udara. Dalam beberapa saat, batas usia, profesi, ataupun latar belakang sosial seperti menghilang di bawah identitas yang sama sebagai pendukung tim nasional.

APTOPIX Palestinians Gaza WCup Soccer Reaction
New York WCup Soccer Reaction

Pengalaman bagi imigran dan keturunannya itu juga memiliki makna yang lebih dalam. Jutaan orang yang tinggal jauh dari tanah kelahirannya menjadikan Piala Dunia sebagai momen untuk kembali terhubung dengan akar budaya mereka. Restoran dan pusat komunitas menjadi titik temu yang menghadirkan kembali bahasa, makanan, lagu, dan simbol-simbol dari negara asal.

Di kota-kota seperti Los Angeles, London, atau Toronto, pertandingan tim nasional sering kali menghadirkan suasana yang hampir menyerupai perayaan di kampung halaman. Mereka mungkin berada ribuan kilometer dari negara asal, tetapi selama 90 menit merasakan kedekatan yang sulit dijelaskan.

Los Angeles WCup Soccer Reaction
China WCup Soccer Reaction

Ketika pertandingan usai, perayaan kerap berlanjut ke luar ruangan. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan yang membunyikan klakson. Bendera berkibar dari jendela mobil. Kelompok-kelompok suporter bernyanyi sambil berjalan kaki menuju pusat kota.

Di era media sosial, momen-momen tersebut menyebar lebih cepat dari sebelumnya. Video selebrasi dari beberapa negara muncul hampir bersamaan di layar telepon genggam. Dalam hitungan menit, dunia dapat melihat bagaimana satu gol dirayakan dengan cara berbeda-beda.

 

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Mahendra Yasa
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji