Waktu 4,97 detik milik Antasyafi Robby tak cukup membawa ke putaran final seri Piala Dunia 2026 Wujiang. Dengan 4,88 detik saja, Veddriq ”hanya” di posisi ke-11.
10 Mei 2026 14:58 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
Saat Veddriq Leonardo memanjat dalam waktu 4,984 detik dan 4,90 detik di seri Piala Dunia Panjat Tebing 2023 Seoul, Korea Selatan, ia menahbiskan diri sebagai pemegang rekor dunia speed putra. Veddriq menjadi manusia pertama yang mampu memanjat dinding dalam waktu di bawah 5 detik atau sub-5.
Tiga tahun kemudian, memanjat dalam waktu yang lebih cepat dari rekor yang diukir Veddriq itu saja tak lagi cukup untuk membawa atlet ke persaingan putaran final. Hal itu dialami pemanjat speed Indonesia sekaligus yunior Veddriq, Antasyafi Robby Al Hilmi, di seri Piala Dunia Panjat Tebing 2026 Wujiang, China.
Berlomba pada babak kualifikasi, Minggu (10/5/2026) siang, Robby sebenarnya mampu memanjat dalam waktu 4,97 detik pada pemanjatan pertama. Setiap atlet punya kesempatan memanjat dua kali. Catatan waktu yang dipakai untuk menentukan daftar peringkat kualifikasi ialah hasil terbaik dari dua pemanjatan tersebut.
Saat pemanjatan kedua, Robby berpeluang menajamkan waktunya agar bisa menembus posisi 16 besar sebagai syarat lolos putaran final. Namun, menuju gerakan terakhir untuk menyentuh tombol finis, Robby justru terpeleset. Meski tangan masih bisa menahan tubuhnya untuk tidak jatuh dan akhirnya melanjutkan pemanjatan, waktu terus bergulir dan Robby hanya bisa finis dalam waktu 6 detik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/09/f05faaf3-60d9-4e23-a008-9deaf5c7d70c.jpg)
Alhasil, catatan waktu terbaik Robby adalah 4,97 detik yang diraih pada pemanjatan pertama. Akan tetapi, catatan waktu itu tak cukup mengantar peraih medali emas SEA Games Thailand 2025 tersebut mencicipi putaran final untuk ketiga kalinya di seri Piala Dunia.
Dengan 4,97 detik, Robby hanya bisa menempati peringkat ke-19. Sebanyak 18 pemanjat lainnya mampu menyentuh tombol finis lebih cepat. Itu termasuk Erik Noya Cordona (Spanyol) yang menempati peringkat ke-16 dengan waktu 4,94 detik.
Catatan waktu Cordona menjadi batas terakhir persaingan putaran final. Sepanjang perhelatan seri Piala Dunia, baru di Wujiang tahun ini batas persaingan ke putaran final ialah catatan waktu di bawah 5 detik. Di tempat yang sama pada edisi 2025, pemanjat yang finis dalam waktu 5 detik masih bisa melaju ke putaran final.
Veddriq yang mampu memanjat dalam waktu 4,88 detik saja ”hanya” bisa finis pada peringkat ke-11. Meski begitu, catatan waktu itu sudah cukup mengantarnya bersaing di putaran final.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/22/5ec5cc24-bd14-466e-a635-9ae36d6c75f2.jpg)
Veddriq sudah menduga persaingan akan lebih ketat di sektor putra selepas Olimpiade Paris 2024. Menurut peraih medali emas di Paris ini, banyak pemanjat lain yang bakal berusaha meningkatkan kemampuan dan mengejar catatan waktunya.
Pemanjat asal Pontianak, Kalimantan Barat, ini pun sudah menduga akan bermunculan atlet-atlet baru potensial. ”Setelah Olimpiade, kita seperti sudah membuka dan melihat potensi-potensi atlet yang bakal jadi topnya di Piala Dunia. Mungkin ada beberapa nama baru juga,” ucap Veddriq beberapa waktu lalu.
Dugaan Veddriq terbukti dengan munculnya pemanjat muda China, Zhao Yicheng. Atlet berusia 17 tahun itu memecahkan rekor dunia di Asian Beach Games 2026 Sanya, China, pada 28 April lalu.
Zhao melakukannya setelah mampu finis dalam waktu 4,58 detik. Ia melampaui catatan waktu pemegang rekor sebelumnya, Samuel Watson (Amerika Serikat), dengan 4,64 detik di seri Piala Dunia 2025 Bali, Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/cad733f2-4113-4b4b-add3-83c608623ee4_jpg.jpg)
Rekor dunia yang makin menjauhi waktu 5 detik menjadi indikasi lain bahwa persaingan kian sengit. Sebanyak 21 dari total 58 atlet yang bersaing di babak kualifikasi sebenarnya mampu finis sub-5.
Namun, atlet tidak lagi cukup bisa memanjat di bawah 5 detik. Mereka perlu memastikan bisa finis menjauhi 5 detik. Apalagi, tiga besar kualifikasi bahkan mencatatkan waktu 4,71-4,79 detik dengan pemanjat China, Long Jianguo, jadi yang tercepat.
Dari lima pemanjat putra yang berangkat ke Wujiang, hanya Robby yang gagal melaju ke putaran final. Raharjati Nursamsa lolos ke babak berikutnya setelah menempati peringkat ke-8 dengan 4,84 detik, disusul pemanjat putra Indonesia lainnya secara beruntun.
Kiromal Katibin pada posisi ke-9 dengan 4,87 detik. Lalu, Aditya Tri Syahria dengan 4,88 detik, dan Veddriq Leonardo dengan waktu yang sama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/03/25252261-ec78-4e86-9592-b4529d0ddda8_jpg.jpg)
Raharjati dan Kiromal akan berhadapan pada babak 16 besar yang dihelat Minggu malam. Adapun Aditya akan beradu kecepatan dengan atlet Thailand, Aphiwit Limpanichpakdee, sedangkan Veddriq bersaing dengan Hryhoril Ilchyshyn (Ukraina).
Pada sektor putri, Indonesia hanya akan diwakili Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Rajiah Sallsabillah di putaran final. Desak lolos ke babak selanjutnya setelah menempati peringkat kelima dengan catatan waktu terbaik 6,37 detik, sedangkan Rajiah menempati posisi ke-12 dengan waktu 6,48 detik.
Kadek Adi Asih dengan 6,68 detik hanya terpaut 0,01 detik dari pemanjat yang menempati posisi ke-16, Shengyan Wang. Dengan menghuni peringkat ke-17 kualifikasi, Asih menyamai pencapaian di seri Piala Dunia 2025 Guiyang, China. Ia masih belum bisa kembali ke final seperti debutnya di seri Piala Dunia 2025 Bali, Indonesia, yang juga menghasilkan perunggu.
Adapun Berthdigna Devi Surya Kusuma finis di peringkat ke-30. Di sektor putri, persaingan juga semakin ketat karena menuntut atlet untuk bisa finis dalam waktu di bawah 7 detik. Sepanjang perhelatan seri Piala Dunia, ini pertama kalinya batas akhir ke putaran final ialah catatan waktu di bawah 7 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/22/59759f6d-186d-42b9-ac8a-d2a9fc2498a1.jpg)
”Seri Wujiang ini memberikan gambaran jelas kepada tim pelatih dan atlet bahwa peta persaingan sudah berubah menjadi sangat ketat. Tidak ada cara lain selain kerja keras. Atlet yang lolos harus tetap fokus karena pada putaran final, kekuatan mental akan menjadi kunci,” ujar asisten pelatih tim speed, Fitriyani.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji