Sukatani, Tetap Berani meski Direpresi

Sukatani akhirnya buka suara perihal intimidasi yang mereka alami. Pengintaian telah terjadi sejak Juli 2024. Kini mereka sudah berani manggung lagi.

02 Mar 2025 04:15 WIB · Hiburan

Oleh Herlambang Jaluardi, Prayogi Dwi Sulistyo, Kristi Dwi Utami

Gerimis mengguyur Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (25/2/2025) malam. Akan tetapi, penonton tetap ramai demi melihat aksi duo new wave punk Sukatani. Ini pentas kedua band asal Purbalingga, Jawa Tengah, ini setelah video permintaan maaf mereka kepada polisi viral. Dalam tiga hari, mereka pentas dua kali. Mereka tetap berani meski direpresi.

Sukatani dijadwalkan tampil pukul 22.00 WIB. Antrean beli karcis seharga Rp 35.000 makin ramai menjelang pukul 21.00. Jika polisi berseragam banyak terlihat di arena acara Crowd Noise di Slawi, Tegal, dua hari sebelumnya, acara bertajuk ”Tulang Panggung” ini bersih dari aparat berseragam. Entah yang tidak berseragam.

Sebelum Sukatani, ada Viva City, Cold Dealin, dan Megatruh Soundsystem yang naik panggung sejak pukul 19.30. Viva City membawakan lagu ”Bayar Bayar Bayar” milik Sukatani. Kebetulan dua grup ini bernaung di label yang sama: Dugtrax Records.

Seperti penampilan di Slawi, kemunculan mereka dimulai dengan bunyi sintetis. Ovi alias Twister Angel (vokal) dan Alectroguy (gitar, efek suara) masuk panggung dari arah penonton. Penonton tak henti tepuk tangan dan berteriak kegirangan menyambut duo tersebut, layaknya menyambut ikon kebebasan.

Penonton menikmati penampilan duo new wave punk Sukatani pada acara musik “Tulang Panggung” di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (25/2/2025) malam. Penampilan ini menjadi yang kedua kali setelah sebelumnya Sukatani naik panggung di Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (23/2/2025) pascaberedarnya video permintaan maaf kepada Polri. Seperti di Slawi, Sukatani tidak membawakan lagu ”Bayar Bayar Bayar” yang “dipaksa” hilang dari peredaran.

Lagu ”Sukatani” yang bercerita tentang mulianya menjadi petani dibawakan sebagai nomor pembuka. Penonton langsung gerah jejingkrakan. Mereka juga berteriak-teriak, sampai-sampai pernyataan Alectroguy alias Al tak kedengaran. Riuh sejak awal.

Baru setelah ”Jangan Bicara Solidaritas” dan ”Realitas Konsumerisme” suara Al bisa didengar. Dia mengucapkan terima kasih kepada penonton yang datang. Dia juga bergurau bahwa dia dikawal kepala satuan intelijen. Semoga itu sarkasme saja.

Ovi juga ikut-ikutan bercanda meminta salah satu penonton berdiri, mengira itu penonton terselubung. Namun, Ovi menegaskan bahwa bandnya tidak dikawal pihak mana pun. Dia malah berterima kasih.

”Terima kasih kawan-kawan. Tanpa energi dari kawan-kawan, kami tidak akan bisa sekuat ini. Terima kasih banyak,” kata Ovi dengan suara bergetar. Sukatani sempat berhenti sejenak sebelum membawakan lagu ”Semakin Tua Semakin Punk”.

Al minta penonton untuk saling menjaga, memberi ruang aman bagi laki-laki dan perempuan di arena. Ia yakin bahwa penonton bisa saling menjaga tanpa perlu aparat. Dengan bercanda, Al meminta kepada orang yang ingin mencopet untuk tunjuk tangan. Di Sleman, Sukatani banyak melontar canda, sedangkan di Slawi cenderung haru.

Grup band punk Sukatani tampil dalam acara Crowd Noise di gedung Korpri (Korps Pegawai Republik Indonesia) Slawi, Tegal, Jawa Tengah, Minggu (23/2/2025) malam. Band asal Purbalingga, Jawa Tengah, ini tengah mendapatkan sorotan publik setelah menyampaikan video permintaan maaf kepada Polri.

Hampir semua lagu di album Gelap Gempita dibawakan. Namun, seperti di Slawi, Sukatani juga tidak memainkan lagu ”Bayar Bayar Bayar”, tetapi menggantinya dengan menyanyikan lagu ”Burung Hantu”. Pertunjukan hampir 40 menit itu dituntaskan dengan lagu ”Gelap Gempita”.

Seusai acara, Ketua Panitia Pang Bathoro menyampaikan bahwa mereka mencetak 600 tiket, dan nyaris habis. Arena Ultra Space itu cukup lega untuk berdansa karena kapasitasnya sekitar 1.000 orang.

Pang sempat khawatir karena komunikasi terakhir dengan Al terjadi pada 22 Februari malam, dua hari setelah video ”permintaan maaf” beredar di media sosial. Ia baru direspons kembali oleh Al sehari sebelum konser, atau habis main di Slawi. Karena itu, Pang baru menginformasikan adanya acara musik ini melalui media sosial pada Senin (24/2/2025) siang. Serba mendadak, tetapi lancar.

 

Pengamen dan aktivisme

Sukatani jadi perbincangan nasional setelah video permintaan maaf kepada Polri. Banyak orang yang membawakan lagu ”Bayar Bayar Bayar” dan membuat karya visual pakai lagu itu di media sosial. Padahal, sebelumnya hanya sedikit yang tahu soal grup band Purbalingga itu.

Pemilik Dugtrax Records, Irwan Diansyah atau yang dikenal dengan Bung Kalz, saat ditemui, Selasa (25/2/2025), menceritakan pengalamannya mengenal Sukatani. Awalnya, ia melihat video penampilan Sukatani di media sosial sehingga tertarik datang ke Purbalingga. Setelah pulang ke Yogyakarta, Bung Kalz menghubungi Sukatani pada awal 2023.

Mereka bertemu setelah Al, yang akrab dipanggil Cipoy, menyampaikan bahwa ia mengamen di sekitar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bahkan, Al mengunjungi rumah kontrakan Bung Kalz untuk membahas materi album Gelap Gempita yang saat itu sudah ada delapan lagu, tetapi belum matang.

Al saat itu masih harus pulang ke Purbalingga seminggu sekali atau dua kali. Sebab, Ovi masih bekerja sebagai guru di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Pengunjung melihat pameran poster bertajuk “Propaganda Visual, Habis Gelap Terbitlah Gelap” di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (27/2/2025). Sebanyak 284 poster dipamerkan secara kolektif dan mandiri sebagai bentuk dukungan terhadap grup band punk asal Purbalingga, Jawa Tengah, Sukatani.

Proses rekaman album Gelap Gempita cukup lancar tanpa Dugtrax mengeluarkan biaya. Dugtrax menjembatani Sukatani dalam proses pembuatan lagu. Bung Kalz pun setuju untuk menjadi produser album ini karena materi lagunya menarik, seperti penggunaan dialek bahasa Jawa ”ngapak” yang menjadi identitas Sukatani.

”Bayar Bayar Bayar” menjadi lagu pertama yang diolah dan menjadi fondasi untuk komposisi lagu-lagu lainnya. Dia bilang, lagu itu membekukan realitas sosial.

”Itu yang bisa menulis (lagu) itu, kan, orang-orang yang ngerti kelas bawah. (Kelas) menengah ke atas itu apakah terpikir buat lagu sederhana dengan bahasa yang lugas? Tanpa ada diksi-diksi aneh. Tanpa bermain rima, itu bodo amat. Juga tidak perlu majas-majas metafora. Semuanya blak-blakan,” tutur Bung Kalz.

Album itu akhirnya rilis pada 24 Juli 2023 dan mendapatkan respons positif. Album ini masuk ke dalam 10 besar genre punk di platform musik daring Bandcamp. Albumnya juga bercokol di lima besar album terbaik versi media Amerika Serikat, Maximum Rocknroll.

Seiring waktu, lagu lainnya juga populer, misalnya ”Semakin Tua Semakin Punk”. Bahkan, lagu ”Alas Wirasaba” yang menggunakan bahasa Banyumasan masuk ke dalam seleksi lagu punk terbaik di Bandcamp pada Agustus 2023. Kolumnis Bandcamp juga menjagokan lagu ”Tanam Kemandirian” sebagai lagu terbaik.

Sampul album Gelap Gempita dari band punk Sukatani.

Meskipun disuka, Sukatani baru mendapatkan tempat di hati penggemar secara masif pada 2024. Mereka tidak berhenti bermain; mulai dari panggung dengan skala kecil atau gigs, medium, hingga festival besar. Kaset mereka laris hingga dua label dari Singapura dan Malaysia bergabung ikut merilis. Tidak sampai sebulan, 500 kaset Sukatani ludes.

Selain mengamen, Bung Kalz mengenal Al sebagai aktivis yang memiliki jaringan cukup luas. Al menjadi bagian dari Forest Art Camp yang fokus pada gerakan pelindungan ekosistem. Ovi juga dikenal sebagai aktivis, salah satunya di Gunung Slamet, Jawa Tengah. Keduanya rendah hati dan memegang erat ideologi.

Sukatani dibentuk secara kolektif oleh petani muda di Purbalingga yang tergabung dalam komunitas Harvest Mind. Namun, semangat mereka menurun sehingga hanya Al dan Ovi yang masih bertahan. Karena itu, Sukatani membuat aransemen musik dengan perangkat elektronik, menyiasati kekosongan bunyi ritmis drum dan bas.

 

Diincar pertengahan 2024

Ketika lagu dan aksi panggungnya mulai berterima, Sukatani rupanya mulai diintai intelijen. Bung Kalz menceritakan, pengintaian mulai terjadi sejak pertengahan 2024—ini sebelum mereka main di festival besar Pestapora dan Synchronize Fest di Jakarta.

Al baru mengontak Bung Kalz pada 7 Februari 2025 agar lagu ”Bayar Bayar Bayar” ditarik dari peredaran setelah bernegosiasi alot hingga 8 jam dengan kepolisian di Polda Jawa Tengah. Sebelumnya, Sukatani telah dipanggil Kepolisian Resor Banyumas.

Ini seturut dengan pernyataan Direktur LBH Semarang Ahmad Syamsudin Arief yang dihubungi pada Sabtu (1/3/2025). ”Sejak Juli 2024, ada intel-intel, baik dari polres maupun polsek, yang datang ke tempat Sukatani, mendekati orang-orang terdekatnya,” kata Arief.

Eskalasi meningkat pada 6 Februari, atau dua pekan sebelum video permintaan maaf diunggah. ”Mereka dimintai keterangan serta disuruh membuat pernyataan tertulis dan video klarifikasi. Tapi, saat itu, videonya memang tidak untuk di-posting,” katanya.

Arief menyebut, pernyataan tertulis itu berisi kurang lebih sama dengan yang disampaikan Al di video tanggal 20 Februari. Arief melanjutkan, perintah membuat pernyataan tertulis maupun video itu berasal dari Polda Jateng.

Duo Sukatani tampil kembali di Gedung Korpri Slawi, Tegal, Jateng, Minggu (23/2/2025) sebagai bintang tamu di acara bertajuk Noise Crowd.

Arief menyebut, pernyataan tertulis itu berisi kurang lebih sama dengan pernyataan Sukatani dalam video permintaan maaf yang diunggah pada 20 Februari. Sementara itu, video klarifikasinya berbeda, di mana dua personel Sukatani, yaitu Alectroguy dan Twister Angel, diminta membuat video sendiri-sendiri. Perintah untuk membuat pernyataan tertulis ataupun video itu berasal dari personel Kepolisian Daerah Jateng.

Awalnya, Bung Kalz menolak menurunkan lagu ”Bayar Bayar Bayar”. Namun, Al terus memohon karena sudah telanjur membuat perjanjian, dan ada pernyataan tertulis. Bung Kalz tetap pada pendiriannya untuk tidak menurunkan lagu tersebut. Sehari kemudian, dia luluh. Lagu itu ”hilang” dari platform digital tiga hari kemudian, sampai Sabtu kemarin.

Pada 13 Februari 2025, Ovi diberhentikan sebagai guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Mutiara Hati, Purwareja Klampok, Banjarnegara, Jawa Tengah. Tekanan yang besar terhadap Sukatani membuat Al dan Ovi mencoba menenangkan diri dengan berlibur ke Bali.

Saat berlibur, keduanya dihubungi kepolisian. Bung Kalz mendapatkan informasi bahwa ada empat oknum polisi dari Polda Jawa Tengah yang meminta keduanya menyeberang ke Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, dengan alasan ada hal yang harus segera diselesaikan.

Al dan Ovi manut. Keduanya dibawa ke polsek dan diminta membuat klarifikasi permohonan maaf melalui video dan diunggah di kanal resmi media sosial Sukatani pada 20 Februari 2025. Bung Kalz yakin bahwa video itu bentuk represi dan intimidasi.

-utk Koming- Massa aksi dari berbagai elemen masyarakat sipil menyuarakan dukungan kepada kelompok musik Sukatani di aksi Indonesia Gelap di kawasan Patung Arjuna Wijaya, Jakarta, Jumat (22/2/2025). Gelombang aksi Indonesia Gelap masih terus berlanjut sebagai reaksi masyarakat atas serangkaian kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat luas. Selain itu mereka memrotes serangkaian upaya pembungkaman ekspresi masyarakat dalam mengritik pemerintah melalui media seni, termasuk yang dialami kelompok musik Sukatani. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 22-2-2025

Ogah jadi duta

Keyakinannya terjawab pada Sabtu siang. Akun Instagram Sukatani menyebut ”tekanan dan intimidasi dari kepolisian terus kami dapatkan, hingga akhirnya video klarifikasi atas lagu berjudul ’Bayar Bayar Bayar’ kami unggah.” Jelas dinyatakan ada ”tekanan” dan ”intimidasi”.

Perihal pemecatan Twister Angel pun disebutkan secara gamblang ”dilakukan oleh pihak yayasan tempatnya mengajar dengan alasan ’Twister Angel termasuk salah satu personel Sukatani band punk’.”

Setelah mendapat tekanan publik, Polda Jateng yang sebelumnya menyangkal tak merepresi akhirnya memeriksa enam anggota Direktorat Reserse Siber, yang mendatangi Sukatani di Banyuwangi.

Kepala Polri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo menawarkan solusi mengangkat Sukatani sebagai Duta Kepolisian. ”Ini bagian dari komitmen kami untuk terus berbenah menjadi organisasi yang betul-betul adaptif menerima koreksi,” ujar Kapolri seperti dikutip Kompas.com, Minggu (23/2/2025).

”Kami menolak dengan tegas tawaran menjadi Duta Kepolisian tersebut,” tulis pernyataan resmi band itu.

Sukatani tak goyah dengan langkah yang telah ditekuninya. Dua pentas, setelah diintimidasi sedemikian rupa, menjadi bukti keberanian mereka. Dukungan bagi mereka mengalir deras. Lagu ”Bayar Bayar Bayar” diolah ulang musisi lain. Lagu itu juga mengiringi demonstrasi bertajuk #IndonesiaGelap di berbagai kota.

Dua hari setelah panggung di Sleman, Yogyakarta, itu, ada pameran grafis bertajuk ”Propaganda Visual: Habis Gelap Terbitlah Gelap”. Sebanyak 284 poster menyatakan keberpihakan pada Sukatani. Keberanian itu telah menggunung tingginya. (PDS/HEI/XTI)


Kerabat Kerja

Penulis:

Herlambang Jaluardi, Prayogi Dwi Sulistyo, Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Budi Suwarna, Dahono Fitrianto