Atlet-atlet terbaik dalam sejarah tenis, seperti Novak Djokovic, selalu punya renjana yang tak pernah padam pada tenis. Hanya kondisi fisik yang menjadi kendala.
09 Mar 2025 17:12 WIB · Olahraga
Dalam turnamen ATP Astana, Kazakhstan, pada 2022, Botic van de Zandschulp untuk pertama kalinya berhadapan dengan Novak Djokovic. Itu menjadi momen yang mengesankan, tetapi tidak dari sisi hasil.
Van de Zandschulp tersingkir pada babak kedua setelah kalah 3-6, 1-6. Meski telah bermain sangat baik sesuai levelnya, dia hanya memenangi empat gim.
“Pada semua yang saya lakukan, Djokovic punya jawabannya. Saat saya servis dengan kecepatan 220km/jam misalnya, dia mengembalikannya dengan luar biasa. Ketika kami beradu forehand silang, dia mengakhirinya dengan pukulan yang lebih baik. Saya membuat 12 winner pada set pertama. Winner dengan jumlah itu biasanya membuat petenis menang,” tutur Van de Zandschulp dalam laman resmi ATP.
Sejak pertemuan itulah, Van de Zandschulp semakin kagum pada Djokovic. Dan, usai pertemuan tersebut pula, petenis yang bersaing di arena profesional sejak 2016 ini berharap bisa terjadi hal berbeda jika bertemu lagi Djokovic.
Harapan itu terwujud ketika mereka berjumpa tiga tahun kemudian pada babak kedua turnamen dengan level lebih tinggi, yaitu ATP Masters 1000 Indian Wells, California, Amerika Serikat. Di Indian Wells Tennis Garden, Sabtu (8/3/2025) sore waktu setempat atau Minggu pagi waku Indonesia, Van de Zandschulp mengalahkan Djokovic dengan skor 6-2, 3-6, 6-1. Selanjutnya, dia akan berhadapan dengan Francisco Cerundolo pada babak ketiga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/9db2e0ca95b403f11df76d0e69387cd8-MTS_SPO_TEN_WTA_BNP_PARIBAS_OPEN_DAY_4_128088598.jpg)
Ketika Van de Zandschulp memperoleh momen terbaik dalam karier, hal sebaliknya terjadi pada Djokovic. Kekalahan itu menjadi yang ketiga beruntun setelah semifinal Grand Slam Australia Terbuka (dari Alexander Zverev) dan babak pertama ATP 500 Doha (Matteo Berrettini).
Tak hanya itu, kekalahan dari Van de Zandschulp menjadi kekalahan dari petenis lucky loser yang kedua beruntun bagi Djokovic di Indian Wells. Pada 2024, dia disingkirkan petenis lucky loser lainnya, Luca Nardi, pada babak ketiga.
Sesuai sebutannya, Van de Zandschulp dan Nardi adalah petenis yang bisa bermain pada babak utama karena keberuntungan. Mereka sebenarnya tersingkir pada fase kualifikasi, tetapi akhirnya bisa bersaing di babak utama karena menggantikan petenis yang mengundurkan diri.
Sebaliknya, Djokovic selalu berstatus sebagai unggulan dalam dua tahun terakhir, meski pada tahun ini hanya menjadi unggulan keenam, turun dari unggulan teratas pada 2024. Selain itu, sebagai salah satu dari 32 unggulan, Djokovic mendapat bye pada babak pertama.
Mantan petenis nomor satu dunia dengan 24 gelar juara Grand Slam itu sebenarnya masih memiliki target tinggi meski telah 22 tahun bersaing di arena profesional. Untuk menjadi satu-satunya petenis dengan gelar Grand Slam terbanyak—saat ini Djokovic mempunyai 24 gelar seperti Margaret Court—dia memasukkan mantan rival, Andy Murray, dalam tim kepelatihan untuk membantunya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/bb1aeaf9eb51ae3f36eeee6ee6b9f2b9-MTS_SPO_TEN_WTA_BNP_PARIBAS_OPEN_DAY_4_128088682.jpg)
Banyak hal berbeda terjadi pada saya dalam beberapa tahun terakhir. Saya kesulitan bermain dalam level yang saya inginkan.
Namun, kebugaran fisik yang menurun dalam pertandingan tak terhindarkan ketika Djokovic berusia 37 tahun 10 bulan. Dia kerap kesulitan berhadapan dengan lawan lebih muda, apalagi di lapangan keras dengan sistem skor best of three sets yang berlangsung dalam ritme cepat.
Pertandingan best of three sets berbeda dengan Grand Slam yang memberlakukan best of five sets untuk tunggal putra. Meski belum menambah gelar sejak menjuarai Amerika Serikat Terbuka 2023, Djokovic tiga kali mencapai semifinal dari lima Grand Slam berikutnya. Dia pun tampil dalam final Wimbledon 2024, meski kalah dari Carlos Alcaraz.
Best of five sets, yang mengharuskan petenis menang tiga set dari maksimal lima set, memang menuntut daya tahan fisik yang lebih besar. Namun, tak hanya fisik yang berperan. Untuk menang dalam laga panjang, petenis dituntut memiliki mental yang tangguh.
Faktor itulah yang menjadi kelebihan Djokovic dan mengantarkannya pada babak-babak akhir di panggung Grand Slam. Saat melawan Alcaraz di perempat final Australia Terbuka, pada Januari, dia bertahan dan menang meski dalam kondisi cedera hamstring kiri. Dari hasil MRI, setelah mundur melawan Alexander Zverev pada semifinal, ternyata diketahui terdapat robekan pada kakinya.
Namun, petenis Serbia itu kesulitan ketika bertanding pada laga Tur ATP yang lebih pendek. “Banyak hal berbeda terjadi pada saya dalam beberapa tahun terakhir. Saya kesulitan bermain dalam level yang saya inginkan. Sesekali, saya bermain baik, tetapi sangat sulit dan menantang untuk mencapainya,” ujar Djokovic yang terakhir kali mendapat hasil buruk awal musim pada 2018.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/ee572edd7fe3cfd13e3943e861546ee2-MTS_SPO_TEN_WTA_BNP_PARIBAS_OPEN_DAY_2_128035136.jpg)
Meski lebih sering terganggu cedera, setidaknya dalam setahun terakhir, Djokovic tak ingin berbicara tentang hal itu setelah kalah di Indian Wells. Dia mengatakan, hal itu biasa terjadi dan dia hanya harus beradaptasi dengan semua hal yang dialami.
Ketika ditanya tentang persiapan untuk Miami Masters, 16-30 Maret, petenis ranking ketujuh dunia itu, bahkan, tak bisa menjawab detail. “Saya harus berbicara dulu dengan tim, dengan Andy (Murray),” katanya.
Djokovic mengalami kesulitan sejak 2024 dalam levelnya dengan tanpa gelar dari ajang Grand Slam. Dia sebenarnya masih bisa menembus final Grand Slam dan ATP Masters, meski akhirnya kalah bersaing dari bintang muda, Alcaraz dan Jannik Sinner.
Semua itu terhapus dengan medali emas dari Olimpiade Paris 2024 yang sangat diimpikan sejak debut di Beijing 2008. Prestasi tertinggi bagi setiap atlet dari ajang multicabang ini menjaga semangatnya untuk bersaing pada 2025.
Namun, tingginya semangat dan renjananya tak bisa diimbangi performa konsisten. Walaupun Djokovic tak ingin berbicara tentang kendala, mau tak mau, atlet tertua di kalangan petenis elite ini sepertinya harus bersiap menghadapi momen-momen akhir dalam kariernya. (AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti