Gangguan elektronik mengganggu sistem navigasi lebih dari 1.100 kapal komersial di Timur Tengah kala AS-Israel menyerang Iran.
11 Mar 2026 08:00 WIB · Internasional
AFP/FADEL SENNA
Tak lama setelah Amerika Serikat-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, kapal-kapal di sekitar Iran mendapati keanehan. Sistem navigasi secara keliru menginformasikan kapal-kapal berada di bandara, di lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir, hingga berada di daratan Iran.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kesalahan atau kekacauan informasi lokasi oleh sistem navigasi, dijelaskan CNN edisi Jumat (6/3/2026), sebagai akibat dari gangguan dan pemalsuan sinyal yang meluas pada sistem satelit penentuan posisi global.
Di zona konflik, jamak dipahami pihak-pihak yang bertikai melakukan gangguan dan pemalsuan sinyal. Tujuannya mengganggu jalur pesawat nirawak dan rudal supaya serangan meleset atau tidak akan terkena target yang dituju.
Strategi gangguan ini melibatkan militer dan kelompok-kelompok yang berafiliasi pada pihak yang berkonflik. Dalam perang AS-Israel dengan Iran, tidak dijelaskan pihak yang melakukan pengacauan sinyal pada sistem penentuan posisi global dengan satelit.
Dalam sistem navigasi satelit, merujuk AFP edisi Minggu (8/3/2026), alat penerima sinyal, termasuk juga ponsel pintar modern, menerima sinyal dari setidaknya empat jenis sistem satelit. Satelit-satelit itu tergabung dalam konsorsium yang disebut sistem satelit navigasi global (GNSS).
Konsorsium itu terdiri dari GPS milik AS, Galileo milik Eropa, GLONASS milik Rusia, dan BeiDou milik China. Tujuan konsorsium ini meningkatkan akurasi dalam penggunaan pemandu lokasi.
Konsorsium satelit ini mengirimkan detak sinyal dan informasi waktu ke Bumi. Hal ini memungkinkan (alat) penerima untuk menentukan lokasi atau posisi dan dikonversi oleh alat penerima dalam bentuk koordinat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/01/a9582d0e-bc04-46e6-abec-9ff1afa70337_jpg.jpg)
Todd Humphreys, profesor teknik di Universitas Texas di Austin, kepada AFP mengatakan, untuk ponsel pintar, sebagian besar ponsel sekarang menggunakan dua pita frekuensi GPS. Satu pita yang lebih tua dan lebih lemah, dan yang kedua yang lebih baru dan lebih kuat. Kedua jenis pita ini berdampak pada kemampuan alat penerima membaca koordinasi secara akurat.
Sementara untuk kapal-kapal, jelas Humphreys, banyak kapal masih menggunakan sensor lama. Sensor itu hanya mampu membaca sinyal GPS sipil lama yang disebut sinyal L1 C/A. Sinyal ini tanda sejak awal 1990-an untuk penggunaan sipil.
Sejak ada konsorsium satelit navigasi, muncul sensor-sensor baru yang mampu menangkap lebih banyak jenis sinyal. Dengan demikian, koordinatnya lebih akurat.
Namun, banyak kapal tidak memiliki sumber informasi navigasi lainnya kala ada gangguan sistem navigasi. Sebab, banyak kapal masih menggunakan sensor lama yang hanya bergantung pada sinyal GPS.
Katherine Dunn, penulis buku sejarah GPS yang akan segera terbit, Little Blue Dot, menyatakan, ”Mengganggu sinyal GPS tidak terlalu rumit.”
Menurut Dunn, yang dibutuhkan hanyalah pemancar radio yang dapat menyiarkan sinyal navigasi pada jenis pita yang sama, tetapi lebih kuat. Sinyal navigasi dari pemancar akan bercampur dengan sinyal navigasi satelit. ”Hal ini menciptakan kekacauan,” kata Dunn.
Gangguan sinyal yang lebih canggih, menurut Dunn, akan memengaruhi Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) kapal. Setiap kapal akan mengirimkan pesan per detik melalui frekuensi radio universal yang mengumumkan identitas, tujuan, dan posisinya.
Gangguan sinyal akan memanipulasi sistem kapal. Hal itu menyebabkan kapal yang terpengaruh mengirimkan lokasi palsu, atau bahkan tidak masuk akal. Itulah yang membuat kapal dapat tampak berada di daratan Iran atau Uni Emirat Arab.
Hal yang terjadi di Timur Tengah, merujuk CNN, pihak berkonflik sengaja menyiarkan sinyal radio intensitas tinggi pada pita frekuensi yang sama yang digunakan oleh alat navigasi. Cara demikian mengakibatkan terganggunya penentuan posisi berbasis satelit suatu kendaraan atau kapal. Alhasil, sistem navigasi menginformasikan lokasi yang salah.
Windward, perusahaan intelijen perkapalan menyampaikan, dalam konflik AS-Israel dengan Iran, kapal komersial bukanlah target. Namun, gangguan elektronik mengganggu sistem navigasi lebih dari 1.100 kapal komersial di perairan UEA, Qatar, Oman, dan Iran pada 28 Februari.
Menurut Windward, pengacakan dan pemalsuan sinyal memperlambat lalu lintas maritim yang melewati Selat Hormuz. Selat itu adalah jalur pelayaran padat yang melayani sekitar 20 persen ekspor minyak dan gas dunia.
Di perairan penting itu, pengacakan dan gangguan sinyal membuat lalu lintas maritim yang melalui jalur air penting itu nyaris terhenti. Sementara gangguan pada AIS kapal, menurut Windward, memaksa beberapa kapal tanker untuk berbalik arah atau berhenti beroperasi.
”Apa yang kita lihat di Teluk Timur Tengah saat ini sangat berbahaya bagi navigasi maritim,” kata Michelle Wiese Bockmann, analis intelijen maritim senior di perusahaan Winward.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/10/bb257c97-da90-449a-8855-fe93cbadb5da.jpg)
Dalam analisisnya, Windward mengidentifikasi 21 kelompok baru saat AIS kapal mengalami gangguan di wilayah tersebut dalam 24 jam pertama setelah perang Iran dimulai. ”Sehari kemudian, jumlah itu melonjak menjadi 38,” kata Bockmann.
Perusahaan data dan analitik maritim Lloyd’s List Intelligence mencatat terjadi 1.735 kejadian gangguan GPS yang memengaruhi 655 kapal. Setiap gangguan berlangsung selama tiga hingga empat jam, antara awal perang dan 3 Maret.
Sementara insiden harian meningkat lebih dari dua kali lipat. Angka insiden naik dari 350 ketika konflik dimulai menjadi 672 pada 2 Maret. Gangguan navigasi ini bisa mengakibatkan tabrakan antarkapal.
Pengacakan atau pemalsuan sinyal yang digunakan dalam sistem navigasi satelit global atau GNSS bukanlah fenomena baru. Merujuk CNN, gangguan sinyal menjadi masalah utama bagi pelayaran dan pesawat terbang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Saat itu drone dikerahkan secara luas dalam pertempuran untuk pertama kalinya.
Bockmann menyatakan, masalah tersebut sebagai gangguan ”endemik” di wilayah-wilayah tertentu di dekat zona konflik seperti Laut Baltik, Laut Hitam, dan sebagian Timur Tengah.
Ramsey Faragher, Direktur dan Kepala Eksekutif Royal Institute of Navigation di London, mencatat bahwa pengacauan dan pemalsuan sinyal navigasi adalah ”perisai yang mudah dan sederhana” untuk melindungi dari serangan drone. Namun, kabut elektronik yang dihasilkan mengganggu sistem navigasi kapal komersial yang tidak terlibat dalam konflik.
”Kita mengetahui selama beberapa dekade bahwa sinyal yang diandalkan warga sipil dari luar angkasa rentan terhadap pengacauan dan pemalsuan. Hanya saja, masalah ini belum pernah seserius ini sebelumnya,” kata Faragher yang ikut menulis laporan Januari tentang dampak gangguan GNSS terhadap keselamatan maritim.
”Hal itu telah menjadi bagian normal dari konflik karena drone kecil yang dipandu GPS digunakan jauh lebih luas daripada, katakanlah, 20 tahun yang lalu,” ucap Faragher.
Gangguan elektronik pada sistem navigasi, menurut Faragher, diduga menjadi faktor dalam tabrakan di antara dua kapal tanker minyak, Adalynn dan Front Eagle, pada Juni 2025 di lepas pantai UEA. Insiden itu dicatat oleh Bockmann dan Faragher. Operator Front Eagle menyebutnya sebagai insiden ”navigasi”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/19/3f972980-564f-4936-8694-29cb0c5a515a_jpg.jpg)
Dengan perang yang berkecamuk di Timur Tengah, menurut Faragher, hal ini menjadi ujian nyata tentang seberapa tangguh navigasi dan pemantauan maritim ketika penentuan posisi satelit menjadi tidak dapat diandalkan. Solusi seperti meningkatkan penerima dengan fitur anti-spoofing dan enkripsi, atau memasang jenis antena yang dirancang khusus untuk melindungi dari efek gangguan dan spoofing bisa dilakukan.
”Akan tetapi, peningkatan dan penggantian sistem yang ada membutuhkan waktu dan uang,” kata Faragher.
GNSS, menurut Faragher, merupakan keajaiban dunia modern. ”Anda dapat menyalakannya dan dalam beberapa detik, ia akan mengetahui lokasi Anda hingga dalam 1 meter dan waktu hingga dalam 1 nanodetik,” kata Faragher.
”Sayangnya, era mewah di mana sinyal-sinyal tersebut tidak diganggu secara sengaja telah berakhir. Kita perlu segera mengatasi ketertinggalan,” pungkas Faragher. (AFP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Retma Wati