Bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, pembunuhan dirinya oleh Amerika Serikat hanya soal waktu. Jika ia dan pemimpin Iran akhirnya tewas, Khamenei telah bersiap agar pemerintahan Iran tak runtuh dan AS serta sekutunya dibalas setimpal.
Serangan AS ke Iran memang bukan soal jadi atau tidak. Jika serangan terjadi, kata Khamenei, AS dan sekutunya akan menerima pukulan yang membuat sulit bangkit lagi.
Dalam wawancara dengan FoxNews, Utusan Khusus AS untuk Perdamaian, Steve Witkoff, mengungkap frustrasi Presiden AS Donald Trump soal Iran. "Dia (Trump) penasaran mengapa mereka (Iran) belum... Saya tidak ingin menggunakan kata 'menyerah,' tetapi mengapa mereka belum menyerah,” katanya.
"Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, 'Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan'? Namun, agak sulit untuk membuat mereka sampai pada titik itu,” lanjut Witkoff soal pengerahan kekuatan AS di sekitar Iran.
Pengamat militer pada Center for a New American Security (CNAS), Becca Wesser, menyebut kekuatan AS di sekitar Iran kini mirip seperti menjelang serbuan ke Irak pada 1991 dan 2003. ”Peningkatan kekuatan yang begitu besar ini hampir menunjukkan bahwa perlu ada serangan atau ini akan menjadi salah satu gertakan paling mahal dalam sejarah AS,” ujarnya seperti dikutipFinancial Times,Jumat (20/2/2026).
Dengan potensi serangan itu, Iran terus bersiap seperti diulas The New York Times lewat laporan pada Minggu (22/2/2026). ”Dia (Khamenei) bersiap mati syahid dan berpikir ini adalah sistem dan warisan saya, dan saya akan bertahan sampai akhir,” kata Vali Nasr, diaspora Iran yang mengajar Johns Hopkins School of Advanced International Studies (SOAS) AS.
Ia menyebut, Khamenei sedang mendistribusikan kekuasaan. ”Mempersiapkan negara untuk hal besar berikutnya, baik suksesi maupun perang, menyadari bahwa suksesi mungkin datang sebagai konsekuensi dari perang,” kata Nasr.
Sejumlah orang ditunjuk Khamenei untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Iran kalau ia dan sejumlah petinggi lain dibunuh AS atau Israel. Ada empat lapis penerus disiapkan Khamenei. Setiap calon penerus diminta menyiapkan calon penerus berikutnya.
Sejumlah pihak menyebut mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, ada di daftar calon penerus. Jenderal Safavi kini menjadi Penasihat Pemimpin Tertinggi untuk Urusan Militer. Ia juga jadi Ketua Komisi Pertahanan pada Dewan Hubungan Internasional Iran.
Ketua DPR Iran yang juga mantan perwira IRGC, Brigadir Jenderal (Purn) Mohammad Bagher Ghalibaf, juga masuk daftar. Ghalibaf pernah menyatakan, seluruh aset militer AS di kawasan akan jadi sasaran pembalasan kalau Iran diserang. Ia disebut akan menjadi wakil Khamenei untuk mengendalikan militer kalau perang dengan AS sampai meletus.
Paling mencolok
Di antara semua itu, yang paling mencolok adalah Brigjen (Purn) Ali Larijani. Pensiunan perwira IRGC yang pernah jadi Ketua DPR itu kini Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia praktis menjalankan kebijakan harian Iran.
Bersama Laksamana Ali Shamkhani, Larijani juga mengurus militer. ”Kami jelas lebih kuat dari sebelumnya, kami telah mempersiapkan diri dalam tujuh atau delapan bulan terakhir, kami menemukan kelemahan kami dan memperbaikinya,” ujar Larijani kepada Aljazeera soal langkah Iran selepas diserang AS-Israel pada Juni 2025.
Pengaruh Larijani antara lain terlihat selama unjuk rasa dan putaran terbaru perundingan nuklir Iran. Januari lalu, Witkoff menelepon Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi soal rencana serangan ke Iran.
Presiden AS Donald Trump, kata Witkoff kepada Araghchi, akan memerintahkan serangan kalau sampai ada eksekusi pengunjuk rasa di Iran. Mendapat pesan itu, Araghchi mengontak Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Balasan Pezeshkian adalah ia tak tahu soal eksekusi dan menyarankan menghubungi Larijani.
Wajar Khamenei percaya kepada Larijani. Ayah, paman, dan adik Larijani jadi ulama yang dihormati di Iran. Kakaknya, Javad, jadi salah satu penasihat kebijakan luar negeri bagi Khamenei.
Bersama adiknya, Sadiq, Ali Larijani kini menjadi anggota Dewan Kebijaksanaan. Sebanyak 48 anggota dewan itu ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Iran.
Setiap anggotanya ditugasi menyampaikan nasihat kepada pemimpin tertinggi. Mereka juga mengawasi seluruh lembaga negara atas nama pemimpin tertinggi.
Kepercayaan Khamenei pada Larijani terbentuk puluhan tahun. Atas persetujuan Khamenei, Larijani jadi Kepala Lembaga Penyiaran Iran atau IRIB pada 1994-2004. Pada 2021, Khamenei menugasinya merundingkan kesepakatan ekonomi dengan China.
Kala Araghchi berinteraksi dengan Witkoff, Larijani ditugasi ke Rusia dan negara lain. Ia menjelaskan posisi Iran ke pemimpin dan khalayak negara-negara itu. Dibandingkan Pezeshkian dan pejabat lain di Iran, Larijani lebih sering diwawancara media.
”Pemimpin tertinggi sepenuhnya memercayai Larijani. Beliau percaya Larijani adalah orang yang tepat untuk momen sensitif ini karena rekam jejak politiknya, kecerdasan dan pengetahuannya,” kata Nasser Imani, analis konservatif yang dekat dengan Pemerintah Iran.
”Beliau (Khamenei) mengandalkan Larijani untuk laporan tentang situasi dan nasihat pragmatis. Peran Larijani akan sangat menonjol selama perang,” lanjut Imani kepada The New York Times.
Mustahil tercapai
Nasr menulis, kesepakatan AS-Iran nyaris mustahil dicapai. AS pada dasarnya menuntut pelucutan total Iran tanpa menawarkan kompensasi apa pun.
AS akan tetap mempertahankan rangkaian sanksi yang menyengsarakan Iran. AS juga akan terus mengancam menyerang Iran.
Diplomasi Iran bertujuan menghentikan itu, bukan cuma mencegah perang. Di sisi lain, Iran juga tahu pada akhirnya perang tak terelakkan.
Hal lain, para pemimpin nyaris mustahil percaya kepada pemimpin AS. Juni lalu, di tengah proses perundingan, AS membantu Israel menyerang Iran. AS secara terbuka mengakui mau menyengsarakan Iran lewat rangkaian sanksi ekonomi. Tujuannya, menggulingkan pemerintahan Iran. Mustahil membangun kepercayaan dalam kondisi itu.
Maka, lanjut Nasr, yang bisa dilakukan Teheran adalah bersiap memitigasi dampak perang. Iran, seperti disampaikan Khamenei pekan lalu, berharap AS akan sadar bahwa perang dengan Iran sangat mahal.
Iran telah menunjukkan itu selepas diserang AS-Israel Juni 2025. Bagi Iran, hasil perang itu bukanlah kekalahan.
AS-Israel yang meminta perang dihentikan setelah rudal dan pesawat nirawak Iran menghujani Israel. Program nuklir Iran pun bisa lanjut terus. Buktinya, itu menjadi tuntutan pelucutan oleh AS.
Kali ini, Iran bersiap pada perang panjang dan meluas. Tak hanya berimbas pada AS-Israel-Iran, perang juga bisa berdampak ke kawasan.
(AP/AFP/Reuters)
Bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, pembunuhan dirinya oleh Amerika Serikat hanya soal waktu. Jika ia dan pemimpin Iran akhirnya tewas, Khamenei telah bersiap agar pemerintahan Iran tak runtuh dan AS serta sekutunya dibalas setimpal.
Serangan AS ke Iran memang bukan soal jadi atau tidak. Jika serangan terjadi, kata Khamenei, AS dan sekutunya akan menerima pukulan yang membuat sulit bangkit lagi.
Serial Artikel
Sejumlah Negara Perintahkan Warganya Tinggalkan Iran Secepatnya
Khawatir dengan eskalasi yang meningkat di Iran serta ancaman Trump, Swedia dan Serbia meminta warganya keluar dari Iran sesegera mungkin.
Dalam wawancara dengan FoxNews, Utusan Khusus AS untuk Perdamaian, Steve Witkoff, mengungkap frustrasi Presiden AS Donald Trump soal Iran. "Dia (Trump) penasaran mengapa mereka (Iran) belum... Saya tidak ingin menggunakan kata 'menyerah,' tetapi mengapa mereka belum menyerah,” katanya.
"Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, 'Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan'? Namun, agak sulit untuk membuat mereka sampai pada titik itu,” lanjut Witkoff soal pengerahan kekuatan AS di sekitar Iran.
Pengamat militer pada Center for a New American Security (CNAS), Becca Wesser, menyebut kekuatan AS di sekitar Iran kini mirip seperti menjelang serbuan ke Irak pada 1991 dan 2003. ”Peningkatan kekuatan yang begitu besar ini hampir menunjukkan bahwa perlu ada serangan atau ini akan menjadi salah satu gertakan paling mahal dalam sejarah AS,” ujarnya seperti dikutipFinancial Times,Jumat (20/2/2026).
Dengan potensi serangan itu, Iran terus bersiap seperti diulas The New York Times lewat laporan pada Minggu (22/2/2026). ”Dia (Khamenei) bersiap mati syahid dan berpikir ini adalah sistem dan warisan saya, dan saya akan bertahan sampai akhir,” kata Vali Nasr, diaspora Iran yang mengajar Johns Hopkins School of Advanced International Studies (SOAS) AS.
Ia menyebut, Khamenei sedang mendistribusikan kekuasaan. ”Mempersiapkan negara untuk hal besar berikutnya, baik suksesi maupun perang, menyadari bahwa suksesi mungkin datang sebagai konsekuensi dari perang,” kata Nasr.
Serial Artikel
Trump Ultimatum Iran, Sepakat atau Hadapi Hal Buruk
Trump ”memaksa” Iran segera membuat kesepakatan dalam 10-15 hari ke depan. AS terus meningkatkan kekuatan militer di Timur Tengah, Iran bersiap.
Sejumlah orang ditunjuk Khamenei untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Iran kalau ia dan sejumlah petinggi lain dibunuh AS atau Israel. Ada empat lapis penerus disiapkan Khamenei. Setiap calon penerus diminta menyiapkan calon penerus berikutnya.
Sejumlah pihak menyebut mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, ada di daftar calon penerus. Jenderal Safavi kini menjadi Penasihat Pemimpin Tertinggi untuk Urusan Militer. Ia juga jadi Ketua Komisi Pertahanan pada Dewan Hubungan Internasional Iran.
Ketua DPR Iran yang juga mantan perwira IRGC, Brigadir Jenderal (Purn) Mohammad Bagher Ghalibaf, juga masuk daftar. Ghalibaf pernah menyatakan, seluruh aset militer AS di kawasan akan jadi sasaran pembalasan kalau Iran diserang. Ia disebut akan menjadi wakil Khamenei untuk mengendalikan militer kalau perang dengan AS sampai meletus.
Paling mencolok
Di antara semua itu, yang paling mencolok adalah Brigjen (Purn) Ali Larijani. Pensiunan perwira IRGC yang pernah jadi Ketua DPR itu kini Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia praktis menjalankan kebijakan harian Iran.
Bersama Laksamana Ali Shamkhani, Larijani juga mengurus militer. ”Kami jelas lebih kuat dari sebelumnya, kami telah mempersiapkan diri dalam tujuh atau delapan bulan terakhir, kami menemukan kelemahan kami dan memperbaikinya,” ujar Larijani kepada Aljazeera soal langkah Iran selepas diserang AS-Israel pada Juni 2025.
Pengaruh Larijani antara lain terlihat selama unjuk rasa dan putaran terbaru perundingan nuklir Iran. Januari lalu, Witkoff menelepon Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi soal rencana serangan ke Iran.
Presiden AS Donald Trump, kata Witkoff kepada Araghchi, akan memerintahkan serangan kalau sampai ada eksekusi pengunjuk rasa di Iran. Mendapat pesan itu, Araghchi mengontak Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Balasan Pezeshkian adalah ia tak tahu soal eksekusi dan menyarankan menghubungi Larijani.
Wajar Khamenei percaya kepada Larijani. Ayah, paman, dan adik Larijani jadi ulama yang dihormati di Iran. Kakaknya, Javad, jadi salah satu penasihat kebijakan luar negeri bagi Khamenei.
Bersama adiknya, Sadiq, Ali Larijani kini menjadi anggota Dewan Kebijaksanaan. Sebanyak 48 anggota dewan itu ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Iran.
Setiap anggotanya ditugasi menyampaikan nasihat kepada pemimpin tertinggi. Mereka juga mengawasi seluruh lembaga negara atas nama pemimpin tertinggi.
Serial Artikel
Perang AS-Iran dan Petaka Perekonomian Global
Ketegangan di antara dua kekuatan besar, AS dan Iran, kian memuncak.
Kepercayaan Khamenei pada Larijani terbentuk puluhan tahun. Atas persetujuan Khamenei, Larijani jadi Kepala Lembaga Penyiaran Iran atau IRIB pada 1994-2004. Pada 2021, Khamenei menugasinya merundingkan kesepakatan ekonomi dengan China.
Kala Araghchi berinteraksi dengan Witkoff, Larijani ditugasi ke Rusia dan negara lain. Ia menjelaskan posisi Iran ke pemimpin dan khalayak negara-negara itu. Dibandingkan Pezeshkian dan pejabat lain di Iran, Larijani lebih sering diwawancara media.
”Pemimpin tertinggi sepenuhnya memercayai Larijani. Beliau percaya Larijani adalah orang yang tepat untuk momen sensitif ini karena rekam jejak politiknya, kecerdasan dan pengetahuannya,” kata Nasser Imani, analis konservatif yang dekat dengan Pemerintah Iran.
”Beliau (Khamenei) mengandalkan Larijani untuk laporan tentang situasi dan nasihat pragmatis. Peran Larijani akan sangat menonjol selama perang,” lanjut Imani kepada The New York Times.
Mustahil tercapai
Nasr menulis, kesepakatan AS-Iran nyaris mustahil dicapai. AS pada dasarnya menuntut pelucutan total Iran tanpa menawarkan kompensasi apa pun.
AS akan tetap mempertahankan rangkaian sanksi yang menyengsarakan Iran. AS juga akan terus mengancam menyerang Iran.
Diplomasi Iran bertujuan menghentikan itu, bukan cuma mencegah perang. Di sisi lain, Iran juga tahu pada akhirnya perang tak terelakkan.
Hal lain, para pemimpin nyaris mustahil percaya kepada pemimpin AS. Juni lalu, di tengah proses perundingan, AS membantu Israel menyerang Iran. AS secara terbuka mengakui mau menyengsarakan Iran lewat rangkaian sanksi ekonomi. Tujuannya, menggulingkan pemerintahan Iran. Mustahil membangun kepercayaan dalam kondisi itu.
Serial Artikel
Perundingan dengan Iran Mengambang, AS Tambah Jet Tempur
Tahun lalu AS mengebom Iran di tengah berlangsungnya perundingan. Ayatollah Ali Khamenei mengakui bahaya armada AS dan menyiapkan senjata untuk menangkal ancaman AS.
Maka, lanjut Nasr, yang bisa dilakukan Teheran adalah bersiap memitigasi dampak perang. Iran, seperti disampaikan Khamenei pekan lalu, berharap AS akan sadar bahwa perang dengan Iran sangat mahal.
Iran telah menunjukkan itu selepas diserang AS-Israel Juni 2025. Bagi Iran, hasil perang itu bukanlah kekalahan.
AS-Israel yang meminta perang dihentikan setelah rudal dan pesawat nirawak Iran menghujani Israel. Program nuklir Iran pun bisa lanjut terus. Buktinya, itu menjadi tuntutan pelucutan oleh AS.
Kali ini, Iran bersiap pada perang panjang dan meluas. Tak hanya berimbas pada AS-Israel-Iran, perang juga bisa berdampak ke kawasan.