Khawatir dengan eskalasi yang meningkat di Iran serta ancaman Trump, Swedia dan Serbia meminta warganya keluar dari Iran sesegera mungkin.
21 Feb 2026 20:13 WIB · Internasional
AFP PHOTO / U.S. Navy/ Mass Communicatio
STOCKHOLM, SABTU — Beberapa negara meminta warganya untuk meninggalkan Iran sesegera mungkin. Mereka khawatir dengan ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menyerang Iran secara terbatas.
Kantor berita AFP, Sabtu (21/2/2026), melaporkan, perintah evakuasi dikeluarkan, antara lain, oleh Swedia dan Serbia. Selagi masih ada kesempatan, warga kedua negara itu diminta mencari sarana transportasi apa saja untuk pergi dari Iran.
Jika sudah terlambat, pemerintah tidak akan bisa membantu mengevakuasi mereka. Swedia dan Serbia melihat risiko eskalasi konflik di kawasan meningkat meski Iran menyatakan masih bisa mencapai kesepakatan cepat dengan AS mengenai program nuklirnya.
Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard mengumumkan seruan evakuasi di X, Jumat. Stenergard menyatakan, situasi di Iran dan kawasan Timur Tengah sangat tidak pasti. Ia mengimbau tidak ada satu pun diplomat dari Kementerian Luar Negeri Swedia yang bepergian ke Iran.
Warga negara Swedia yang berada di Iran harus segera pergi saat masih memungkinkan. Ia menekankan, warga masih bisa meninggalkan Iran melalui perjalanan udara dan penyeberangan perbatasan.
”Bagi yang memilih untuk tetap tinggal di Iran, akan menjadi tanggung jawab pribadi. Kementerian Luar Negeri tidak akan dapat membantu evakuasi dari Iran,” kata Stenergard.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/20/f6569898-f901-4c34-89fe-fe9c119dda57.jpg)
Trump mengatakan, dirinya sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan. Namun, ia tak memberikan rincian seperti apa dan kapan serangan dilancarkan.
Pemerintah Serbia pun kembali mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Iran. Pada pertengahan Januari 2026, Serbia pernah mengeluarkan imbauan serupa saat terjadi penindakan keras terhadap para pengunjuk rasa di Iran.
”Karena situasi keamanan memburuk, warga negara Republik Serbia tidak disarankan untuk melakukan perjalanan ke Iran dalam waktu dekat. Semua orang yang sekarang berada di Iran disarankan untuk meninggalkan Iran sesegera mungkin,” sebut Kementerian Luar Negeri Serbia di laman resmi.
Para penasihat Trump sebenarnya sudah mendesak Trump agar lebih fokus pada kekhawatiran rakyat AS pada perekonomian. Akan tetapi, Trump malah mendorong AS ke ambang perang dengan Iran. Para penasihat Trump khawatir pada risiko politik dari eskalasi militer itu menjelang pemilihan paruh waktu, November mendatang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/21/100855b8c9ad153731859ad01563d40c-wires_photo_269.jpg)
Pemilihan sela akan menentukan apakah Partai Republik akan terus mengendalikan Kongres AS atau tidak. Jika tidak, Trump akan sulit bergerak di tahun-tahun mendatang.
Trump belum menjelaskan kepada rakyat AS mengapa ia bersikeras menumpuk pasukan besar-besaran di Timur Tengah dan bersiap perang. Jika benar-benar terjadi, ini akan menjadi tindakan AS yang paling agresif terhadap Iran sejak revolusi 1979.
Lantaran fokus pada Iran, masalah domestik, seperti biaya hidup, tidak ditangani dengan baik. Padahal, itu menjadi prioritas rakyat AS. Selama 13 bulan masa jabatan kedua Trump habis untuk urusan kebijakan luar negeri, termasuk penggunaan kekuatan militer yang diperluas.
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan, terlepas dari retorika agresif Trump, sebenarnya belum ada dukungan kuat di dalam pemerintahan AS untuk menyerang Iran. Para penasihat Gedung Putih dan pejabat kampanye Republikan ingin Trump fokus pada perekonomian.
Ahli strategi Partai Republik, Rob Godfrey, mengatakan, konflik berkepanjangan dengan Iran akan membahayakan politik partai. Partai Republik berencana kampanye soal pemotongan pajak individu dan program menurunkan biaya perumahan serta biaya obat resep.
”Presiden harus ingat basis politik yang mendorongnya dapat nominasi Partai Republik. Dulu janji kampanyenya mengakhiri era perang abadi,” kata Godfrey.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/10/13/73f9ad44-b5e6-45f6-bc58-d0a737c95671_jpg.jpg)
Trump memenangi pemilihan presiden pada 2024 dengan slogan ”America First” yang berjanji untuk mengurangi inflasi dan menghindari konflik asing yang berbiaya mahal. Ketika menyerang Venezuela dan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro, Trump mendapat banyak dukungan dari gerakan Make America Great Again (MAGA).
Namun, ia mungkin tak akan dapat banyak dukungan jika menyerang Iran karena Iran adalah musuh yang jauh lebih tangguh. Meski demikian, pakar strategi Republikan, Lauren Cooley, memperkirakan, Trump bisa mendapat dukungan hanya jika serangannya tegas dan terbatas, bukan perang yang berkepanjangan.
Secara historis, kebijakan luar negeri jarang menjadi isu yang menentukan bagi para pemilih dalam pemilihan paruh waktu. Namun, hal itu bisa menentukan jika Trump terlihat lemah secara internasional. Alasan AS menyerang Iran juga masih samar dan beragam.
Awalnya, Trump mengancam akan menyerang pada Januari lalu sebagai reaksi terhadap kekerasan aparat Iran dalam menghadapi pengunjuk rasa. Sekarang, ia mengancam lagi dengan tuntutan agar Iran mengakhiri program nuklirnya. Bahkan, ia punya gagasan mengubah rezim Iran.
Godfrey mengingatkan, pemilih independen sangat penting menentukan hasil pemilihan yang ketat. Merekalah yang akan melihat bagaimana Trump menangani Iran dan menentukan nasib Trump dan pemerintahannya ke depan. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati