Lapangan Stadion New York New Jersey (MetLife) di New Jersey dikeluhkan para pemain pada Piala Dunia 2026. Rumput di stadion terlihat tidak rata dan belang-belang.
18 Jun 2026 13:01 WIB · Olahraga
Kompas/Prasetyo Eko Prihananto
Dari tribune media Stadion New York New Jersey, nama yang dipakai Stadion MetLife selama Piala Dunia 2026, arena itu tampak megah. Empat layar besar menempel di empat penjuru, suara musik yang menggelegar, dan tribune yang mulai berisik. Atmosfer laga antara Perancis dan Senegal, Selasa (16/6/2026), mulai memenuhi udara.
Namun, perhatian tidak lama tertahan pada kemegahan stadion. Begitu pandangan turun ke lapangan, hamparan rumput yang belang-belang justru menjadi pemandangan yang paling mencolok. Dari kejauhan, permukaannya tidak tampak seragam. Ada bagian yang lebih tua, ada pula yang lebih muda. Kondisi itu terlihat di hampir seluruh bidang permainan.
Saat pertandingan, bola memang tetap mengalir, para pemain tetap berlari dalam tempo tinggi. Hasilnya, Perancis mengalahkan Senegal dengan skor 3-1 lewat sumbangan dua gol Kylian Mbappe dan satu gol Bradley Barcola. Satu gol Senegal dicetak pemain 18 tahun, Ibrahim Mbaye.
Tiga hari sebelum laga antara Perancis dan Senegal, stadion berkapasitas lebih dari 82.000 penonton itu sudah lebih dulu dipakai untuk pertandingan Brasil melawan Maroko yang berakhir imbang dengan skor 1-1. Selepas kedua pertandingan, tidak ada kabar mengenai pemain yang mengalami cedera setelah bermain di lapangan tersebut.
Ternyata, persoalan hamparan rumput lapangan stadion yang belang-belang tidak seragam itu bukan hanya soal estetika yang dirasakan penonton saja. Selepas laga Perancis lawan Senegal, persoalan rumput itu mengemuka.
”Lapangannya…. Saya bahkan tidak tahu jika Anda bisa menyebutnya. Itu terasa seperti lapangan rumput buatan, cukup keras dan kaku,” kata gelandang Perancis, Adrien Rabiot.
Saat jumpa pers, Pelatih Perancis Didier Deschamps pun harus menjawab pertanyaan seorang jurnalis mengenai persoalan rumput stadion itu yang juga akan dipakai untuk pertandingan final pada 19 Juli mendatang.
Selama dipakai sebagai arena NFL, stadion ini memiliki reputasi sangat buruk dengan julukan sebagai ”ACL Killer”.
Awalnya, Deschamps terlihat seperti berusaha untuk menahan diri menjawab soal rumput itu, tetapi kemudian ia ”all out” mengkritisi lapangan itu.
”Ini berbeda. Saya rasa Anda harus membiasakan diri. Menurut saya, mungkin ada semen di bawah rumput tersebut. Potongan rumputnya sangat pendek,” kata Deschamps lewat aplikasi penerjemah FIFA.
Menurut Deschamps, sejumlah pemain Perancis yang pernah bermain di lapangan tersebut mengeluhkan hal yang sama. Mereka adalah para pemain yang bermain bersama klubnya pada Piala Dunia Antarklub tahun lalu.
”Namun, kami menyesuaikan diri dan saya pernah mengalami hal ini sebelumnya. Jika Anda tidak memiliki lapisan tanah yang cukup dalam di bawah permukaan, tanahnya bisa menjadi kurang fleksibel,” ujar Deschamps.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/1d8ffb1e038d5e5d07a9ee6fecb3fe1b-IMG_20260616_150258465.jpg)
Keluhan soal rumput lapangan juga disampaikan oleh Vinicius Junior seusai laga Brasil lawan Maroko. Bahkan, sang bintang Brasil dan klub Real Madrid tersebut menyebut soal lapangan itu yang membuat tim ”Samba” kesulitan bermain.
Penyerang yang mencetak gol penyama-kedudukan itu mengatakan kondisi panas cuaca telah membuat lapangan menjadi kering. Kondisi lapangan itu mengakibatkan timnya kesulitan menemukan ritme permainan.
Padahal, rumput stadion tersebut beberapa kali disiram dengan sistem penyiraman air selama jeda pertandingan agar tidak kering. Namun, di panggung sebesar Piala Dunia, rumput yang belang tentu memunculkan pertanyaan, apakah lapangan ini benar-benar siap untuk sepak bola level tertinggi?
Persoalan lapangan Sadion MetLife itu ternyata bukan isu Piala Dunia saja. Stadion MetLife sebetulnya bukan stadion yang khusus dibangun untuk sepak bola. Stadion ini sehari-hari adalah markas dua klub NFL, New York Jets dan New York Giant.
Selama bertahun-tahun, lapangannya lebih lekat dengan sepak bola Amerika, olahraga keras yang penuh dengan benturan fisik.
Perbedaannya adalah rumput untuk Piala Dunia memakai lapangan rumput alami. Sementara saat dipakai untuk pertandingan NFL, lapangan ini menggunakan rumput sintetis. Untuk keperluan Piala Dunia, FIFA untuk sementara mengubah lapangan sintetis itu menjadi lapangan rumput alami.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/177cb00dabbe69ad1d940194bd9a83ba-20260612_Stadion_mumed_Metlife.png)
Selama dipakai sebagai arena NFL, stadion ini memiliki reputasi sangat buruk dengan julukan sebagai ”ACL Killer”. Sebutan ini merujuk pada cedera anterior crutiate ligament (ACL) atau ligamen lutut yang menjadi momok paling menakutkan bagi atlet profesional.
Sejak 2020, mengutip laman ESPN, setidaknya 15 pemain NFL mengalami cedera saat bermain di MetLife. Pemain yang mengalami cedera adalah para bintang NFL, seperti Wan’Dale Robinson (ACL, 2022), Sterling Shepard (ACL, 2022), Jabrill Peppers (ACL, 2021), Nick Bosa (ACL, 2020), Jaelan Phillips (achilles, 2023), dan Aaron Rodgers (achilles, 2023).
Para pemain NFL pun meminta agar permukaan lapangan stadion diubah dari lapangan sintetis menjadi rumput alami. Dalam salah satu polling yang dilakukan persatuan pemain NFL (NFLPA), dari 1.700 pemain, 92 persen lebih memilih bermain di lapangan rumput alami.
Reputasi buruk yang melekat di stadion tersebut pun membuat ketidaksempurnaan permukaan lapangan semakin menakutkan meskipun untuk Piala Dunia 2026 situasinya berbeda.
Seluruh 11 stadion di Amerika Serikat yang digunakan untuk Piala Dunia adalah markas dari tim-tim NFL. Tujuh di antaranya—termasuk Stadion MetLife—menggunakan rumput sintetis. FIFA mengubah permukaan lapangan dari sintetis menjadi rumput alami agar sesuai dengan standar sepak bola internasional.
Khusus untuk MetLife, tantangannya bertambah karena faktor iklim. Rumput bermuda disebut sebagai pilihan yang paling cocok untuk kondisi stadion ini. Sementara di stadion lain, akan mencampurkan rumput ryegrass dan varian lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/6230953bf4c3ad3403978d1c305c14e5-20260610_H01_ADI_Piala_Dunia_mumed.png)
Kelembaban diukur setiap hari di Stadion MetLife, termasuk dengan tingkat kekerasan permukaan lapangan dan gulungan bola, hal yang merupakan bagian dari upaya FIFA untuk memastikan permukaan lapangan konsisten di sepanjang turnamen.
Stadion MetLife akan menyelenggarakan delapan pertandingan Piala Dunia. Selain babak penyisihan dan final, stadion ini juga dipakai untuk satu laga 32 besar dan satu laga 16 besar.
Semoga reputasi buruk lapangan Stadion MetLife tidak menular ke pemain sepak bola. Semua tentu ingin agar tidak ada pemain yang mengalami cedera dan pemain yang bermain di stadion ini bisa menampilkan permainan terbaiknya hingga babak final pada 19 Juli mendatang.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto dari New Jersey, Amerika SerikatEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar