Perubahan taktik oleh Didier Deschamps yang memindah posisi Michael Olise dari sayap ke tengah menjadi kunci kemenangan Perancis atas Senegal. Olise pun bak Platini.
17 Jun 2026 14:18 WIB · Olahraga
AFP/FRANCK FIFE
Kylian Mbappe memang mencetak dua gol ke gawang Senegal saat Perancis mengalahkan Senegal, 3-1, pada laga Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Selasa (16/6/2026) waktu setempat. Namun, justru Michael Olise yang terpilih sebagai pemain terbaik pada laga tersebut.
Selain dua gol Mbappe, satu gol Perancis lainnya diciptakan oleh Bradley Barcola yang masuk menggantikan Ousmane Dembele pada menit ke-80. Senegal memperkecil ketinggalan melalui Ibrahim Mbaye.
Memori kelam 2002 sudah membayang pada wajah para pendukung Perancis yang mendominasi tribune Stadion MetLife. Pada laga perdana penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 itu, ”Les Bleus” tampil begitu buruk pada babak pertama.
”Dari waktu ke waktu, Anda dapat mengawalinya dengan buruk dan sangat berat untuk memenuhi harapan yang tinggi di Piala Dunia. Namun, saya sangat puas kami menang. Mengalahkan Senegal bagus bagi kami,” kata Didier Deschamps seusai laga itu.
Pada babak pertama, Mbappe dan kawan-kawan memang lebih banyak menguasai bola, tetapi peluang berbahaya justru lebih banyak diciptakan oleh para penyerang ”Singa Teranga”. Peluang terbaik dimiliki oleh Ismaila Sarr pada menit akhir babak pertama ketika ia tinggal menceploskan bola ke gawang kosong, tetapi bola tendangannya justru melambung di atas mistar Mike Maignan.
Untungnya, wasit segera meniup peluit panjang karena jika pertandingan babak pertama berlangsung lebih lama lagi, gawang Perancis bisa-bisa kebobolan seperti kisah memalukan pada Piala Dunia 2002. Ketika itu, Perancis—yang berstatus juara bertahan—kalah 0-1 dari tim debutan, Senegal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/60e9d38d53d0eb17c7ed6876bd85da68-wires_photo_1_.jpg)
Kekalahan itu menjadi awal periode memalukan Perancis yang tersingkir di babak penyisihan grup saat sedang berusaha mempertahankan gelar juara dunia. Tak ingin memori kelam itu terulang, Pelatih Didier Deschamps segera melakukan perubahan taktik demi menyelamatkan permainan Perancis.
Dalam situasi itulah kejelian seorang pelatih mumpuni diperlihatkan. Melihat penyerang Michael Olise tidak efektif di sayap kanan, ia pun memindah posisi sang pemain ke tengah, bergantian dengan Ousmane Dembele. Sebuah perubahan yang genius.
Setelah perubahan itu, sejak Mbappe dan kawan-kawan kembali memasuki lapangan, mereka seperti berubah menjadi tim baru. Mereka langsung tancap gas dan menciptakan begitu banyak peluang.
Olise yang sebelumnya sering ”mati gaya” menghadapi bek kiri Senegal, El Hadji Malick Diouf, seolah-olah menjelma Michel Platini, mantan pemain legendaris Perancis. Seperti Platini, Olise menjadi otak serangan Perancis di babak kedua dengan umpan-umpan terobosan dan satu-dua sentuhan yang sering kali membongkar pertahanan lawan.
Olise menjadi lebih hidup ketika berperan sebagai pemain ’no 10’ atau pengatur serangan di lini tengah, peran yang selalu dimainkan oleh legenda mereka, Platini.
Hidupnya permainan Perancis terlihat dari banyaknya peluang yang mereka ciptakan. Jika pada babak pertama mereka hanya memiliki angka expected goals (xG) 0,04, angka xG mereka naik menjadi 1,87 pada babak kedua.
Perancis terus mengancam gawang Senegal. Mereka percaya seharusnya mendapatkan hadiah penalti pada menit ke-58 ketika Mbappe terjatuh di kotak terlarang setelah tekel yang dilakukan oleh Sadio Mane. Namun, setelah tinjauan video asisten wasit (VAR), wasit memutuskan tidak ada pelanggaran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/eca2744084f570c1bbd2a6d35422dd4a-1000242732.jpg)
Tak mau terlalu larut dalam kekecewaan, para pemain Perancis terus menekan. Berkat kejelian Olise membaca membuka lini pertahanan Senegal, dipadu dengan pergerakan tanpa bola Mbappe yang cerdas, terciptalah gol pertama Perancis. Mbappe berhasil menaklukkan gawang Edouard Mendy berkat asis brilian Olise pada menit ke-66.
Olise menjadi lebih hidup ketika berperan sebagai pemain ”no 10” atau pengatur serangan di lini tengah, peran yang selalu dimainkan oleh legenda mereka, Platini. Berkat perannya tersebut, Olise terpilih sebagai pemain terbaik pada laga tersebut.
Deschamps menjelaskan perubahan posisi Olise dan Dembele tersebut. ”Itu bisa berubah sepanjang jalannya laga. Saya melakukan perubahan hari ini karena saya pikir bisa membuat kami lebih baik. Ia bisa bermain di dua posisi. Semakin banyak ia memegang bola semakin baik. Itu menciptakan lebih banyak bahaya dan Kylian sangat tajam,” kata Deschamps.
Menurut Deschamps, Dembele tidak masalah dengan perubahan tersebut karena ia juga terbiasa bermain sebagai penyerang sayap kanan. ”Ia terbiasa bermain di depan dan bisa melewati lawan. Michael (Olise) bisa bermain di antara dua zona, lini tengah dan pertahanan, dan bisa memberi bola kepada penyerang, baik itu Kylian, Desire Doue, atau Bradley Barcola,” ujar Deschamps kemudian.
Laga melawan Senegal juga menjadi hari bersejarah bagi Mbappe. Dengan dua gol yang dicetaknya ke gawang Singa Teranga, striker Real Madrid ini memecahkan torehan Olivier Giroud sebagai pencetak gol terbanyak Les Bleus dengan 58 gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/519d47883ac2137f05e09529a7f0086d-20260617_PAL_top_scorer_Perancis.png)
Deschamps mengatakan, itu adalah pencapaian luar biasa. Meskipun demikian, banyak orang akan tetap mengkritik penampilan Mbappe. ”Apa pun yang terjadi, orang akan selalu mengkritiknya. Banyak yang bilang ia tidak mau bertahan. Tugasnya ke sini memang bukan untuk bertahan, melainkan ia tetap membantu meski pun tidak sebanyak pemain lain,” kata Deschamps.
Menurut Deschamps, Mbappe sebenarnya bisa mencetak lebih banyak gol. ”Jika Anda membuang peluang di babak pertama tetapi kemudian mencetak dua di babak kedua, itu sudah cukup bagi saya,” canda Deschamps. ”Ia banyak melakukan sesuatu untuk tim meskipun dari luar ia terlihat egois, itu pendapat saya,” ujarnya kemudian.
Perancis akan kembali berlaga pada 22 Juni mendatang menghadapi Irak di Philadelphia. Grup I sementara dipimpin oleh Norwegia yang baru saja menggasak wakil Asia, Irak, dengan skor 4-1.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto, dari New Jersey, Amerika SerikatEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan