Kian Banyak Orang yang Enggan Menikah

Semakin banyak warga di China enggan menikah. Biaya hidup yang meningkat dan kecemasan terhadap masa depan membuat orang merasa tak sanggup berkeluarga.

13 Feb 2025 06:00 WIB · Opini

Oleh Redaksi

Penurunan jumlah pasangan yang menikah dilaporkan oleh Kementerian Urusan Sipil China, akhir pekan lalu. Pada 2023, ada 7,7 juta pasangan menikah, sedangkan tahun 2024 jumlahnya berkurang menjadi 6,1 juta pasangan menikah. Ada penurunan sebesar 20,5 persen. Bahkan, pada 2013 atau satu dekade lalu, angka pernikahan di China masih menyentuh dua digit, yakni 13,47 juta.

Angka pernikahan yang turun selaras dengan jumlah penduduk China yang terus berkurang. Tahun lalu terjadi penurunan jumlah penduduk ketiga kalinya berturut-turut. Pada tahun 2024, penduduk China berkurang 1,39 juta jiwa, menjadi 1,408 miliar jiwa. Kini China berada di posisi kedua, di bawah India, dalam hal negara berpenduduk terbanyak di dunia.

Pasangan mempelai berpose di luar kompleks Kota Terlarang di Beijing, China, Selasa (11/2/2025). China menghadapi tantangan demografi yang tidak ringan.

Penyebab kian banyaknya orang muda di China yang enggan menikah pada intinya berkisar pada peningkatan biaya hidup. Ongkos untuk membesarkan anak—biaya sekolah, biaya les, dan sebagainya—membesar. Pemerintah China telah berupaya mengurangi beban ini, antara lain dengan menertibkan tempat-tempat kursus yang memberlakukan harga sangat tinggi.

Selain itu, ada aspek kecemasan warga muda terhadap masa depan. Hal ini terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi China yang tak sebaik tahun-tahun silam. Aspek lain yang juga dinilai membuat orang muda enggan berkeluarga ialah mahar mahal yang harus dibayar calon mempelai laki-laki.

Penurunan angka pernikahan, yang diikuti dengan anjloknya angka kelahiran, berdampak luas bagi kehidupan negara. Mengecilnya proporsi jumlah penduduk muda terhadap penduduk tua bisa membuat produktivitas ekonomi turun. Pada saat yang sama, pengeluaran guna membayar pensiun dan tunjangan kesehatan tetap meningkat. Dalam jangka panjang, cita-cita sebuah negara menjadi kekuatan besar bisa pupus karena mesin ekonominya melemah.

Seusai menjalani liburan panjang Imlek, seorang anak didudukkan oleh orangtuanya di atas koper di Stasiun Kereta Beijing, China, Selasa (4/2/2025).

Tren itu terjadi di sejumlah negara maju. Namun, penurunan jumlah kelahiran tak selalu menjadi malapetaka. Vegard Skirbekk dan Catherine Bowen dalam ”The Low Fertility Fallacy: Why Panic About Birthrates Is Overblown” (Foreign Affairs, November 2024) menyebutkan, jumlah anak yang sedikit seharusnya memberi peluang lebih besar untuk menghadirkan kualitas pendidikan yang baik bagi anak. Mutu kesehatan anak dan keluarga juga dapat lebih terjamin dengan jumlah anggota keluarga yang tak besar.

Di sisi lain, ancaman produktivitas yang turun akibat angka kelahiran rendah dapat diatasi dengan program pembelajaran seumur hidup. Pastikan para warga senior selalu dapat memperbaiki kemampuan mereka sesuai kemajuan zaman.

Intinya, penurunan angka kelahiran kerap kali sulit dicegah. Hal paling penting justru bagaimana negara membuat perencanaan demografis yang tepat. Pastikan anak selalu sehat, berpendidikan baik, dan warga selalu bisa beradaptasi dengan zaman lewat pendidikan seumur hidup.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan