Persiapan yang matang, ditunjang dengan cara berkendara yang tepat, akan membuat perjalanan mudik Lebaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
23 Mar 2025 14:42 WIB · Gaya Hidup
Pemudik yang akan melintasi jalan tol menggunakan mobil pribadi perlu mempersiapkan kendaraan dan fisik pengemudi dengan baik. Terlebih, pemudik harus menempuh ratusan kilometer selama belasan jam. Persiapan yang matang dibutuhkan agar pemudik selamat sampai di kampung halaman.
Sebagai perbandingan, Tim Kompas berkendara dari Jakarta ke Surabaya melewati Tol Trans Jawa. Jarak yang ditempuh hampir 800 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar 12 jam. Lantas, apa saja yang harus dipersiapkan pemudik sebelum memulai perjalanan panjang di jalan tol?
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/2961334c-4cb4-4d6b-931b-0be2ecabec21_jpeg.jpeg)
Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDCC), Jusri Pulubuhu, mengatakan, perjalanan panjang di jalan tol membutuhkan kondisi kendaraan dan fisik pengemudi yang prima. Sebelum memulai perjalanan, hendaknya dua hal tersebut sudah dipersiapkan dengan matang.
Sebelum membawa kendaraan melibas jalan tol, pastikan mobil dalam kondisi laik jalan. Pemudik sangat disarankan untuk membawa mobil ke bengkel resmi untuk general check up untuk pemeriksaan yang lebih detail.
”Pastikan oli mesin dalam keadaan baik. Periksa juga tekanan dan kondisi ban, termasuk ban cadangan. Lalu, pastikan rem, lampu, klakson, dan wiper berfungsi dengan baik,” kata Jusri saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (23/3/2025).
Tekanan udara ban yang kurang atau berlebih menjadi salah satu penyebab kecelakaan, apalagi di jalan tol yang suhunya panas.
Ia mengingatkan, ban termasuk salah satu bagian kendaraan yang sangat penting, terutama ketika digunakan untuk perjalanan jauh. Ban merupakan bagian mobil yang bersentuhan dengan jalanan dengan beragam kondisi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/61a7d65b-87e6-4657-9ed4-52af2b5b08a5_jpg.jpg)
Oleh karena itu, kata Jusri, tekanan udara ban harus dipastikan sesuai dengan anjuran pabrikan. Tekanan ban dapat berbeda setiap mobil yang bisa dilihat di pilar pintu pengemudi. Idealnya, tekanan udara disesuaikan dengan kondisi muatan sesuai anjuran pada tabel yang tertera. Pastikan pula kondisi ban tidak gundul atau terdapat benjolan.
Jusri mengingatkan, pemudik mesti memeriksa tekanan udara ban mobil secara berkala di sepanjang perjalanan. Selain berdampak pada keselamatan, tekanan udara pada ban mobil dapat berdampak pada efisiensi bahan bakar.
Tekanan udara ban yang kurang akan menyebabkan kendaraan menjadi berat dan membuat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) menjadi lebih boros. Selain itu, suspensi juga menjadi tidak nyaman karena mobil tidak seimbang.
”Tekanan udara ban yang kurang atau berlebih menjadi salah satu penyebab kecelakaan, apalagi di jalan tol yang suhunya panas. Jadi, tekanan udaranya harus pas,” ucapnya.
Selain kondisi ban dan mesin mobil, kata Jusri, pastikan perlengkapan darurat, seperti dongkrak, kunci roda, alat pemecah kaca, alat pemadam api ringan (APAR), dan segitiga pengaman, sudah ada di dalam mobil. Tak lupa, perbarui isi kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan obat-obatan pribadi di dalam mobil.
”Sebelum berangkat, pastikan saldo e-toll sudah terisi agar tidak menimbulkan kemacetan di gerbang tol,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/16/c75e3f30-445b-47fe-8385-bbf30eff3c70_jpg.jpg)
Sementara bagi pengemudi, Jusri mengingatkan, agar beristirahat setiap menempuh dua hingga tiga jam perjalanan. Waktu istirahat dapat dilakukan sekitar 15 menit hingga 30 menit dalam setiap istirahat. Bahkan jika ada penumpang yang dapat mengemudi, sebaiknya mengemudi dilakukan bergantian.
Selain itu, pengemudi perlu memperbanyak minum air putih dan menghindari makanan berat yang bisa mengakibatkan kantuk. Namun, jika berpuasa, pengemudi jangan memaksakan diri saat mengantuk. Segeralah menepi dan segarkan kembali diri Anda dengan mencuci muka.
”Kondisi lelah akan membuka peluang kesalahan mengemudi karena kemampuan kognitif kita menurun. Reaksi-reaksi dari respons dari input yang masuk ke indera mata kita sebagai pengemudi itu akan menjadi lambat, bahkan kita gampang sekali mengalami situasi microsleep,” tutur Jusri.
Adapun terkait pakaian, pengemudi sebaiknya menggunakan pakaian yang nyaman dan sesuai dengan suhu perjalanan. Pakaian yang ringan dan tidak terlalu ketat akan membuat perjalanan lebih nyaman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/14/7b0ef2e9-063a-4ad3-bbde-41e97edf4c6f_jpg.jpg)
Tatkala dalam perjalanan mengalami kemacetan, Jusri mengingatkan agar pengemudi ataupun penumpang tetap tenang. Para pemudik harus mengatur ekspektasi dengan menerima bahwa kemacetan adalah hal yang wajar saat mudik. Hiburan dengan mendengarkan musik sangat direkomendasikan untuk mengurangi stres, atau bisa juga dengan berbincang terkait hal yang menyenangkan dengan penumpang lainnya.
Para penumpang juga bisa membantu pengemudi dengan memantau kondisi lalu lintas melalui aplikasi navigasi. Pelajari tempat istirahat atau rest area yang strategis, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), dan rumah makan di sepanjang perjalanan.
”Jika tempat istirahat di jalan tol penuh, jangan istirahat di bahu jalan. Keluarlah dari jalan tol dan cari tempat istirahat terdekat,” ucap Jusri.
Senior After Sales Manager GWM Indonesia Bayuaji Suryanto menambahkan, para pemudik harus memastikan oktan bahan bakar yang digunakan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan mesin mobil. Misalnya, pemudik yang menggunakan GWM Tank 500 HEV sebaiknya menggunakan bahan bakar RON 92.
BBM dengan RON di bawah spesifikasi tersebut bisa saja digunakan dalam keadaan darurat, tetapi jangan mengisinya hingga penuh karena bisa merusak mesin mobil. Isilah sedikit untuk keadaan darurat hingga menemukan SPBU selanjutnya yang menyediakan BBM RON 92.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/23/41365765-4a5b-488e-b9d2-b96b5320e04c_jpg.jpg)
Lebih lanjut, kata Bayuaji, pemudik dapat memanfaatkan tiket layanan servis berkala gratis setiap kelipatan 10.000 kilometer. Dengan servis di bengkel resmi, kondisi mobil yang akan digunakan untuk mudik akan lebih terjamin.
Setiap mobil akan mendapatkan layanan servis dasar, seperti pemeriksaan mesin dan penggantian oli di bengkel resmi. Tak hanya itu, perawatan untuk menunjang performa kendaraan, seperti spooring, balancing, hingga pembersihan AC, juga bisa dilakukan.
Di bengkel resmi GWM, setiap fitur akan dipastikan bisa berfungsi normal. Misalnya, kursi elektrik yang dilengkapi fitur kursi pijat di dua kursi depan mobil GWM Tank 500 HEV akan dipastikan bisa digunakan. Fitur ini berfungsi menambah kenyamanan dan menjaga pengendara dan pendampingnya di depan tetap fit selama menempuh ratusan kilometer perjalanan di jalan tol.
Selain itu, fitur emergency lane keeping yang termasuk dalam Intelligent Driving Assistance Level 2 juga ada di mobil ini yang akan membantu pengemudi untuk menjaga mobil tetap berada di dalam lajur. Fitur ini penting mengingat Tol Trans Jawa yang lurus terus berpotensi menyedot konsentrasi pengemudi bahkan bisa mengakibatkan microsleep.
Persiapan yang matang, ditunjang dengan cara berkendara yang tepat, akan membuat perjalanan mudik Lebaran menjadi lebih nyaman. Perjalanan panjang bahkan akan terasa bagaikan petualangan yang menyenangkan demi berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Iqbal BasyariPenyelaras Bahasa:
Nur Adji